MasukMak Syam diusir oleh anak perempuannya dari rumahnya sendiri karena meminta sayur daun singkong pada Jannah, anak perempuannya yang terakhir. sakit hati dan kecewa membuat Mak Syam Murka, Mak Syam menjual rumah peninggalan Suaminya hingga Jannah tak punya tempat tinggal lagi.
Lihat lebih banyakCRASH!!
BOOM!! “Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah. Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta. Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara. Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram. Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian. Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah haus darah. “Hendra … kau … uhuk!” rintih David sambil memegang dadanya yang terasa panas, tatapannya tertuju ke arah adiknya yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan penuh kemenangan. Sebenarnya, David adalah seorang kultivator Alam Langit Tahap Puncak. Sementara Hendra, selama 10 tahun ini ia terjebak di Alam Langit Tahap Awal. Namun, kekuatan yang Hendra pancarkan saat ini benar-benar jauh dari Tahap Awal, bahkan setara dengan Alam Surgawi Tahap Menengah. Jelas itu membuat David tak bisa menghadang seranganya. “Kakak, ini balasan untukmu karena sudah menyimpan Kitab Inti Penguasa hanya untuk dirimu sendiri, hahaha!” ujar Hendra dengan arogan, tekanan energi yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh istana bergetar. Ketika Hendra berjalan mendekati David dengan penuh tekanan, Davien yang sejak tadi ditahan oleh satu sosok berjubah hitam kembali memberontak. “Paman! Jangan sakiti ayahku!” teriak Davien sambil terus meronta meskipun terasa sia-sia karena tekanan energi gelap dari sosok berjubah hitam itu tak bisa ia lawan. “Diam kau bocah!” gertak Hendra sembari menoleh ke arah Davien, matanya memancarkan api kemarahan. “Selama ini kau hanya diam saja saat ayahmu melakukan kecurangan di keluarga ini. Dasar anak tidak berguna!” SWISH! Hendra mengulurkan tangan kirinya ke arah Davien, membuat bocah 15 tahun itu seketika melayang. “Arghh!” teriak Davien dari atas langit sambil terus meronta. “He–Hendra! Lepaskan anakku!” pekik David yang berusaha berdiri. Namun, satu tangan Hendra mengarah pada David. Dengan satu gerakan ringan, Hendra mengibaskan tangannya, membuat David kembali terpental ke dalam tanah, membuat sebuah lubang besar yang penuh asap di tengah halaman istana. “Tidak! Ayah!” Davien kembali mengerang. Ini benar-benar ulang tahun paling buruk sepanjang hidupnya karena ia harus menyaksikan kedua orang tuanya tewas mengenaskan. Davien hanya bisa bergidik ngeri melihat semua ini. Ia masih belum begitu paham dengan urusan keluarga, tapi jelas ia tak terima melihat orang tuanya tewas. Hanya saja, ia tak bisa melakukan apapun. Di usia yang semua ini, Davien masih dalam tahap pembelajaran untuk membentuk energi. Jadi, perlawanan apapun yang ia lakukan, jelas akan terasa sia-sia. “Mulai malam ini, akulah kepala keluarga Adiputra, pemegang Kitab Inti Penguasa sekaligus penguasa Metropolis G!” Hendra berteriak penuh dominasi, suaranya menggelegar hingga ujung langit. Setelah itu, Hendra menarik tangan kirinya mendekat, membuat Davien seperti tersedot. “Bocah, kalau kau tidak ingin mati, kau harus—” “Bunuh bocah itu, hancurkan Inti Jiwanya!” suara gelap dan dalam tiba-tiba memotong ucapan Hendra, membuat Hendra tak terdiam. Sementara itu, Davien yang kebingungan semakin merasa cemas. Namun, tanpa menunggu lebih lama, setelah Hendra mengangguk entah pada siapa, ia langsung menyedot sesuatu dari tubuh Davien. “ARGH!!!” erang Davien penuh kesakitan. Sebuah cahaya putih terpancar keluar dari tubuh Davien, tapi tak bertahan lama. Setelah Davien kehilangan tenaga dan di ambang kematian, Hendra langsung melempar tubuh keponakannya itu ke sisi jurang yang ada belakang halaman Istana Adipura. BOOM! **** Sepuluh tahun berlalu. KRAK! Sebuah pohon tua di balik bukit terbelah oleh satu tebasan. Satu dorongan energi membuat batangnya menghantam bukit. BOOM! Debu dan angin berputar. Dari kepulan itu muncul seorang pemuda berwajah tegas, pakaiannya tetap bersih, aura kuat menyelimuti sekeliling. “Kerja bagus, muridku!” seru seorang pria tua berambut putih dari atas batu. Pemuda itu menunduk hormat. “Semua berkat latihan Eyang Guru.” Pria tua itu tersenyum. “Tubuhmu memang luar biasa. Tanpa Struktur Nadi Surgawi, kau sudah mati sepuluh tahun lalu, Davien.” Benar. Sepuluh tahun lalu Davien memang belum sepenuhnya tewas, tubuhnya tersangkut di dahan dengan Inti Jiwa hancur. Beruntung, saat itu Eyang Guru yang sedang berlatih tak jauh dari sana menyadarinya dan langsung menyelamatkannya. Tiga tahun pertama dihabiskan dalam siksaan. Tubuh Davien direndam di kolam racun seribu serangga. Racun menggerogoti dagingnya setiap detik, sementara energi di dalam tubuhnya memperbaiki dan memperkuat jalur nadinya. Tahun keempat hingga ketujuh, Davien dipindahkan ke bawah air terjun energi murni. Tekanannya cukup kuat untuk menghancurkan batu besar. Di sana ia dipaksa bermeditasi tanpa henti, hingga basis kultivasinya menembus Alam Bumi dan melampaui Alam Langit dalam waktu yang mustahil bagi orang biasa. Tiga tahun terakhir menjadi tahap paling brutal. Eyang Guru memaksanya bertarung hidup mati melawan monster penjaga lembah, sampai akhirnya Davien berhasil menelan Inti Kristal Naga Bumi yang legendaris. “Tapi, kalau saat itu tidak ada Eyang Guru, mungkin aku sudah mati. Sekali lagi, terima kasih, Eyang Guru,” ujar Davien penuh penghormatan. Eyang Guru tersenyum bangga. Semua didikannya benar-benar diserap dengan baik oleh Davien. “Kau sudah menginjak Alam Langit. Sekarang, apa yang akan melakukannya?” Namun, Davien tidak langsung menjawab. Sorot matanya berubah menjadi lebih dingin. Bayangan kematian orang tuanya 10 tahun lalu kembali muncul di kepalanya. Pamannya, harus menerima balasan darinya! Akhirnya, Davien mengangguk. Ia menatap gurunya dengan penuh harapan. “Dia harus menerima harga atas perbuatannya, Guru.” “Pergilah.” Eyang Guru menepuk pundaknya. “Kendalikan emosimu di depan para iblis itu. Jika butuh sesuatu, datanglah padaku.” Davien memberi salam lalu langsung menuju kota. Dengan kekuatannya, ia terbang ratusan mil ke Kota Metropolis G. Kota itu sudah banyak berubah. Hanya satu dua gedung yang masih ia kenali. Sekitar satu jam kemudian ia tiba di pinggiran kota. Hujan turun deras, tapi ia tetap berjalan ke pusat kota melalui emperan pertokoan sambil merapikan pakaiannya. Pakaiannya yang kumal menarik tatapan aneh orang-orang, namun Davien tak peduli. Tujuannya hanya satu, yaitu menemukan pamannya. Sampai akhirnya tiba-tiba— BRAK! Sebuah Maybach yang melaju tak terkendali menabrak tiang listrik dengan keras. Percikan api memercik, asap putih mengepul, klakson tertekan terus-menerus seperti jeritan minta tolong yang tak berujung. Davien segera menoleh ke tempat kejadian. Pintu mobil terbuka dengan susah payah. Seorang wanita muda keluar sambil terhuyung, mantel mahalnya basah oleh hujan. Wajahnya cantik, tegas, namun kini pucat oleh kepanikan. Rambutnya yang rapi berantakan, napasnya tersengal. "Kakek! Bangun!" teriaknya sambil mencoba menarik seorang pria tua dari dalam mobil yang berasap.Part 32Akhirnya emak bisa beristirahat dengan tenang, tak ada lagi rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Semua emak Luka sudah sirna seiring terpisahnya jiwa dari raganya yang Fana. Selamat jalan emak, semoga engkau tenang di alam sana. Semoga semua amal ibadahmu diterima disisi Yang Maha Kuasa. ***Rumah Saidah kini sudah ramai oleh para pelayat, Saidah sendiri masih shock dan menangis dikamarnya. "Sudahlah Saidah, jangan begini terus, iniang sudah takdir, tak ada yang perlu disesali, seribu kali kau sesalipun tak akan membuat emak Bangkit lagi" Ucap Bang Umar membujuk adiknya. "Ini semua salahku Bang, kalau saja aku tak meninggalkan emak sendiri... ""Sudah sudah.. Jangan berkata apa apa lagi, sekarang ambil air wudhu, kita akan melakukan shalat jenazah untuk Emak"Bang umar bangkit seraya menggandeng tangan adik perempuannya itu, dituntun nya Saidah kekamar mandi. "Aku tunggu diluar Saida
Part 31Nek Syam MeninggalDengan tangan bergetar Saidah mengambil gawai disaku celananya lalu menghubungi Bang Umar. "Bang... Emak masuk rumah sakit" Ucap Saidah ketika tersambung dengan Bang Umar melalui telepon. "Enak kenapa Dah? " Tanya Bang umar Penasaran. "Enak jatuh dari kursi roda Bang.. Huhuhu" Jawab Saidah sambil terisak. "Apa? Enak Jatuh dari kursi roda? Kok Bisa Dah? " Umat mulai panik. "Nanti aku cerita kan Bang kronologisnya, aku lagi diruang UGD sekarang, tolong hubungi yang lain ya Bang, aku masih shock dan lemas, tolong ya Bang.. ""Baiklah, aku akan menghubungi adik adik, kamu sabar ya dah, nanti aku kesitu"" Iya Bang. "Saidah memutuskan sambungan telepon dengan Bang umar, ia kembali menangis tatkala teringat kejadian tadi. Ia merasa sangat bersalah karena membiarkan emak sendiri dirumah, sedangkan ia lebih memilih menjaga warungnya. "Emak.. Maafin Saidah mak.. Har
Part 30Emak jatuh dari kursi rodaSebulan telah berlalu setelah pembagian warisan hasil penjualan rumah almarhum Bapak. Emak masih dirumah Saidah, kondisinya semakin membaik, emak sudah mulai bisa bicara meski terbata bata, tapi masih bisa dimengerti. Saidah membuka usaha warung dari hasil warisan itu. Sementara Ahmad membuka usaha bengkel. Umar membeli lahan sawit, dan Samsul menabung untuk investasi dimasa depan. Sementara jannah, ia menebus tanah warisan yang diberikan Bapak yang digadai saat hajatan si Yati. Selebihnya ia membuka usaha nasi uduk didepan rumah kontrakan nya. Ramli kini tak lagi bekerja, ia hanya membantu usaha nasi uduk jannah. Kehidupan anak anak Mak Syam sudah lebih membaik, terlebih jannah. Ia merasa bersyukur atas adanya warisan itu, ia bisa membuka usaha dan menebus tanahnya kembali. Ia menyesal sempat mengaidakan tanah untuk menggelar pesta hajatan Yati, anak bungsunya itu. Susah payah ia menca
Part 29Jannah mendapatkan warisanSenyum terpancar diwajah keduanya. Akhirnya rumah peninggalan almarhum Bapak kini laku terjual, Umar dan Ahmad nampak senang. Doa mereka akhirnya terkabul juga. Beberapa hari setelahnya, Bang Umar meminta semua adik adiknya datang kerumah Saidah untuk menghadiri rapat keluarga. Pada malam yang telah ditentukan, Semua anak Mak Syam datang, pun Jannah turut hadir pada malam itu. Jannah datang sendiri tanpa didampibgi Ramli, Suaminya. "Assalamu'alaikum.. " Jannah mengucap salam ketika tiba di rumah Saidah. "Waalaikumsalam.. " Jawab yang ada diruang tamu kompak. Jannah nampak canggung berada ditengah saudaranya, ia masih ingat betul beberapa waktu yang lalu saat abang dan kakaknya menyerangnya habis habisan dirumah sakit. Itu semua imbas dari perbuatan nya karena mengusir emak waktu itu, meski Jannah sudah minta maaf pada emak, namun saudaranya seperti belum bi
Bab 5Ahmad mengambil surat tanah. Deru suara motor Mas Ahmad kian mendekat, itu berarti mas Ahmad hampir tiba. "Mak.. Itu suara motornya mas Ahmad" Ucap murni mengagetkan emak mertua. "Semoga saja Ahmad berhasil membawa pulang surat surat itu"
Bab 4.Mas Ahmad terlihat sangat emosi, tanpa menunggu lama, di raihnya kunci motor langsung tancap gas kerumah mbak jannah."Mbak... mbak... keluar kamu.." teriak mas Ahmad tanpa basa basi ketika tiba didepan rumah mbak janah yang tak lain adalah rumah Mak Syam.
Bab 3.Setelah selesai makan siang, emak hendak shalat zhuhur. Tak lupa Kuberikan mukena dan sajadah untuk emak shalat."Mak.. Shalat nya di kamar Putri saja ya, dia kan lagi Mondok, jadi kamarnya kosong." Kebetulan putri anak perempuan sulungku sedang mondok."Iy
Bab 2.Langkah kaki tanpa alas Nek Syam keluar dari rumah nya sendiri, air mata nya terus saja mengalir tanpa henti. Bukan fisiknya yang sakit, tapi hati yang hancur lah sebab ia menangis. Dalam hati ia mengutuk anak dan menantunya." Air susu kau balas denga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak