Masuk"Apa kamu begitu terkejut mendapati hubunganku dengan suamimu?" Vina meledek Yuna yang merupakan sahabat baiknya. "Kamu mengalami serangan jantung, hingga membuat tubuhmu lumpuh." "Wanita murahan!" maki Yuna lagi-lagi dalam hati. “Aku tidak menyangka, efek obat itu hanya butuh waktu lima tahun,” ungkap Ryan, suaminya Yuna. Tanpa belas kasihan Ryan lantas membunuh Yuna, dibantu oleh Vina, selingkuhan, sekaligus sahabat baik Yuna Untunglah Yuna selamat dari kematian. Akan tetapi saat terbangun, Yuna menyadari dirinya berada di masa lalu, sebelum ia menikah dengan tubuh yang masih langsing. Nasib baik seolah berpihak, memberinya kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Kini, Yuna lebih berhati-hati dengan Ryan dan Vina. Hingga ia yang saat itu berstatus seorang dokter bertemu dengan pasien yang mengalami kelumpuhan. Jason Abraham, seorang CEO tempat Ryan dan Vina bekerja. Tanpa diduga Jason menawarkan sebuah perjanjian pada Yuna untuk menjadi dokter pribadinya. Tentu saja Yuna menerimanya, demi melancarkan aksinya menuntut balas pada Ryan dan Vina. Seiring berjalanan waktu, kebersamaan CEO tampan dengan dokter pribadinya itu menumbuhkan benih-benih cinta. Hingga Ryan dan Vina merasa cemburu dengan kedekatan mereka. Bagaimana kelanjutan pembalasan dendam Yuna dan perjalanan cintanya dengan Jason?
Lihat lebih banyak“W-Where are you taking me?!”
Althea’s hands scraped against the cold stone wall as she tried to grab onto anything. But she was too weak, too small. The two men dragging her barely felt her resistance. They hauled her like she weighed nothing.
She didn’t know how long she’d been locked in that dark dungeon Luna Meena had thrown her into. Time blurred as everyone above scrambled to flee after her father’s message arrived telling the entire pack to escape immediately. His attempt to overthrow the Alpha King had failed.And now the wrath of the Realm of the Moon was coming for them.
“Please…” she whispered as they pulled her up the stairway. Her eyes burned from the sudden brightness at the surface.
The world above was chaos. Torches blazed. Fire spread across the cottages. Screams and cries ripped through the night.
Althea’s eyes widened in horror. Blood soaked the ground and bodies lay everywhere. Her father’s pack was being wiped out.
Her heart sank. Her breath stopped.
She didn’t ask the men anything else because the answer was already in front of her. She knew the moment she saw the destruction that their pack had fallen. Her father wasn’t becoming the new Alpha King. He was now a traitor.
And she… she was being dragged to die because she carried his blood.
Althea squeezed her eyes shut as her shoulders slumped. Luna Meena hadn’t taken her with them. They escaped without her. Left her here to face the Alpha King’s fury alone.
They abandoned her.
And now she would walk toward the end she didn’t deserve.
But when they dragged her into the grand hall, what she saw made her blood run cold.
Everyone was there… Luna Meena, her father’s other mistresses, her half-siblings and even the servants who abandoned her.
All on their knees. Heads bowed.
Waiting.
Then… a scream. THUD.
Her half-brother’s body crashed beside her, a pool of blood spreading like ink across the marble floor. Althea choked back a scream.
A familiar man stepped forward, face blank, blade dripping. He wiped the sword on her brother’s sleeve without a second glance.
“Anyone else care to run and escape?” he asked, calm as if talking about the weather.
No one moved. No one breathed. Then his gaze landed on her. He wasn’t just a guard based on his silver-trimmed armor and the force of his presence. He was, in no doubt, one of the Alpha King’s most trusted warriors.
‘Gamma Simon.’ Althea quietly thought. She recognized him because he once visited their pack to personally deliver a message from the Alpha King last week.
“That one’s human,” he said, eyeing Althea. “No need for silver.” A guard reached to shackle her anyway.
“Move, traitor-blood,” the guard snapped, shoving her forward.
Althea stumbled. Her eyes lifted, just for a second, and met the guard’s gaze. His sick thought hit her like a slap. ‘She’s the most beautiful of Alpha Cain’s daughters. Killing her would be a waste… I will love to take her to my bed first. I wonder how she tastes when I-’
She quickly looked away, her stomach twisting.
Whether a gift or curse… she hated this ability to hear and read people’s thoughts through eye contact. It had saved her life more than once but some truths were too disgusting to bear.
“You know the law,” Gamma Simon looked around at the kneeling pack inside the hall and said coldly. “Alpha Cain committed treason and his bloodline must pay.”
“If the rest of the pack bends the knee, they might be spared. But the traitor’s family…” he let the silence drag, “…their fate belongs to the Alpha King.”
Everyone knew what that meant. The Alpha King was ruthless and there was only one fate waiting for Cain’s bloodline… DEATH.
Just then…
“The Alpha King approaches.”
Silence fell like a hammer.
Althea’s head snapped up, and there he was. Gavriel Kingsley, the Alpha King of the Moon Continent.
He stepped into the hall like a storm wearing a man’s shape. Tall. Broad-shouldered. Every line of him radiated authority. His sharp, predatory gray eyes swept over the room, missing nothing.
Althea swallowed hard. He hadn’t spoken a single word, but the weight of his presence crashed down on everyone the moment he entered. His power didn’t need an announcement. It filled the air on its own.
Althea’s breath caught as her eyes met his, just for a moment-
But there was nothing... She read nor heard nothing in those intimidating eyes of his.
Her gift, the one that always worked, failed for the first time.
‘Why can’t I read him?’ she thought, heart pounding. Realizing she stared far too long, she quickly looked down.
“They are all here, Alpha King,” Gamma Simon reported. “Except for Alpha Cain, his son Rett, and his Beta Lucio.”
Still, Gavriel said nothing. He walked slowly, cold eyes scanning each face, each trembling child, each sobbing woman. Then he stopped in front of Luna Meena.
The woman quickly bowed her head, hitting the floor.
“Please, Alpha King!” Luna Meena cried. “We didn’t know anything about Alpha Cain’s betrayal. Please, have mercy! We’ll do anything! Spare us!”
Silence.
Then his voice, deep and cold, filled the hall, “Will you die to save them?”
Gasps echoed then there was stillness while Luna Meena’s face went pale.
“The punishment for treason is death to the traitor’s bloodline,” Gavriel said. “But I will grant mercy. If one of you takes responsibility.”
He stared at Luna Meena. “One life for the rest. Yours.”
Luna Meena hesitated. Her lips parted, but no sound came out. Althea didn’t need to hear her thoughts to know what she was thinking. But she did anyway…
‘Why should I die? I’m the Luna. Noble. Important. That weak girl should be the one. Let her die!’
Then the words left Luna Meena’s mouth, sharp and full of venom.
“Take her!” she screamed, pointing at Althea. “Alpha Cain will be devastated if she dies!”
Her voice cracked with desperation. “Even if he’s in hiding, killing his favorite daughter will break him! She’s nothing, just a weak human born from a slave! No one will raise another rebellion for her death. But Alpha Cain? He’ll suffer. He cherishes that bastard more than anyone!”
Althea stood frozen as all eyes turned to her.
“Take her life instead! She was Cain’s favorite! The reason he lost his mind! Kill her and end this!”
Tak ada lagi halangan menuju hari pernikahan Jason dan Yuna. Semuanya terencana dengan baik. Vincent Wang dan ayahnya serta beberapa investor Hongkong bahkan menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan Jason dan Yuna. Persidangan kasus Arka, Elsa, Teguh—mantan suaminya Elsa dan Tamara, sudah mendekati akhir. Akan tetapi, sudah dipastikan mereka mendapatkan hukuman setimpal. Bukan itu saja, beberapa petugas yang dulu terlibat dan terbukti membantu mereka, sudah mendapatkan hukumannya. Damian, pengacaranya Jason dan Adam memastikan semuanya mendapatkan hukuman. Hingga malam di hari pernikahan tiba, Yuna kembali ke kediamannya dan berbincang bersama pamannya. Ia akan semakin merindukan Dimas, padahal selama ini Yuna jarang berada di rumah. Bahkan Yuna tak malu menggelayut manja pada pamannya yang sudah dianggapnya seperti pengganti ayahnya. “Apa kamu tidak malu terus menggelayut seperti anak kecil?” celetuk Dimas seraya melirik wajah Yuna yang bersandar di bahunya, tetapi ia tersenyu
“Ada apa, Adam? Ada masalah?” tanya Jason setelah berada di samping sahabatnya.Adam hanya tersenyum tipis, enggan menjawab. Kemudian ia memutar tubuhnya menatap gedung megah di sana, lalu mengedarkan pandangannya mencari seseorang. “Sudah selesai? Di mana dokter Yuna?” tanyanya seraya menatap pada Jason.“Yuna menunggu di kafe itu.” Jason menunjuk bangunan kafe di samping gedung.“Memangnya ada yang belum selesai dengan persiapan gedungnya?” tanya Adam dengan raut wajah bingung.Jason menghela napas berat. Ia tahu Adam hanya berusaha menghindari pertanyaan darinya. Ya, sahabatnya itu sedikit tertutup untuk masalah pribadi jika dirinya tak mendesak atau mencari tahu sendiri masalah yang sedang dihadapi Adam.“Ya, memang ada yang belum selesai ... kamu, Adam,” sahut Jason seraya berpindah duduk pada bangku di samping taman bunga, tepi mobilnya terparkir.“Aku? Memangnya ada apa denganku?” tunjuk Adam pada dirinya. Ia semakin memasang wajah bingung.Pria tampan itu tak segera menjawab.
Informasi yang diberikan Rina begitu mengejutkan. Racun arsenik itu berasal dari kelompoknya Teguh Gunawan–mantan suaminya Elsa. Bahkan informasi yang diberikan Rina di luar dugaan yang lainnya.Perawat cantik itu bahkan menemukan tempat persembunyian kelompok mafianya Teguh. Tak menyangga wanita yang terlihat lugu, ternyata memiliki kontribusi besar. Yuna bahkan bangga menjadi sahabat baiknya.Jason langsung bertindak cepat. Akan tetapi, ia memastikan pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut benar-benar bersih. Tentu saja selama ini dirinya dan Adam dibantu Rocky menyelidiki para polisi yang bekerja untuk Elsa. Serta para mafia polisi yang tunduk pada kelompoknya Teguh sudah pasti tak bisa berkutik.Damian Alexander, pengacaranya Jason dengan senang hati mengurus semua mafia polisi tersebut. Apa lagi semua bukti yang Jason kumpulkan sangatlah kuat. Bukti tambahan ponselnya Vina, serta bukti penyelidikan Brian yang menunjukkan jelas jika kecelakaan Jason disengaja dan pelakunya
“E–elsa? Papa yakin?” tanya Jason terbata dengan tatapan tak percaya.Brian mengangguk lemah dalam posisi tidurnya. Jason terdiam syok, hingga tubuhnya tampak mematung. Bahkan ia tampak seperti orang linglung menatap wajah papanya.Bukan karena Jason tak percaya pelakunya adalah Elsa, tetapi ia mencemaskan keadaan Brian. Justru karena ia memperkirakan pelakunya adalah Elsa ataupun Arka. Jujur saja ia ingin mencecar papanya, tetapi Yuna sudah menarik kedua bahunya menjauh dari tubuh Brian.“Cukup, Jason! Kita masih punya banyak waktu.” Yuna memberi nasehat.Tepat saat Jason mengangguk pasrah, pintu ruangan tersebut ada yang mengetuk. Tak lama langsung terbuka. Dokter Rudi datang dengan Rina, sahabat baiknya Yuna sekaligus satu-satunya perawat yang mengetahui keadaan Brian.“Kita beri ruang agar Dokter Rudi memeriksa keadaan papamu!” ucap Yuna seraya membawa tubuh Jason menjauh dari ranjang brankar Brian.Dokter cantik itu lantas mengangguk pada dokter Rudi, isyarat agar dia segera meme
“Mungkin saya punya informasi yang membantu untuk Tuan Jason.” Rocky berkata setelah memastikan fokus mereka selesai dengan informasi tentang Vina. Sontak saja, Jason, Yuna dan Adam menoleh padanya. Ketiganya menunggu penjelasannya dengan wajah sigap. Rocky mengeluarkan beberapa lembar foto dari sak
Adam pantas untuk merasa tenang dan tak perlu panik. Bantuan dari Rocky—anak buahnya Jason datang lebih cepat. Tentu saja Adam tahu kehadiran mereka dari cara mereka memberi sinyal. Dua mobil dari belakang langsung menyalip kendaraan yang sedari tadi diduga orang yang hendak mencelakainya serta meng
“Apa?” Jason terkejut dengan ucapan Adam dari balik telepon. Wajah pria tampan itu langsung berubah pucat dan cemas, serta panik. Ia bahkan refleks berdiri dan mengacak rambut belakangnya, frutasi. Yuna yang berada di sampingnya pun ikut bangkit merasakan kecemasan Jason. “Apa yang terjadi, Jason?”
“Sepertinya habis batre. Aku selalu lupa charger ponsel dan biasanya diisi daya jika sedang dalam perjalanan di mobil,” ucap Adam diakhiri senyuman canggung.“Bisa tolong buka laci dasbor di hadapanmu? Aku menyimpan alat pengisi dayanya di sana.” Adam menunjuk laci di hadapan Tamara.Wajah wanita cant






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak