LOGINDiceraikan demi mendapat keturunan, siapa tahu setelah dicerai, Alya justru mengandung anak suaminya. Anak lelaki yang bahkan tidak didapat oleh mantan suami Alya dari pernikahan kedua bersama wanita lain. Penyesalan selalu datang terlambat, begitulah yang dialami dokter Radit setelah bercerai dari istri pertamanya. Punya satu tekad untuk rujuk kembali, tapi apakah Alya siap menerima lelaki yang pernah menaruh luka sedemikian dalam di hatinya?
View MoreKONTAK YANG SELALU ADA DI DAFTAR BLOKIR SUAMIKU
#DAFTAR_BLOKIR
Satu minggu sudah aku memperhatikan nomor itu, nomor yang tak sengaja aku temukan di daftar blokir aplikasi W******p milik Mas Indra, suamiku.
Entah siapa pemilik nomor tersebut, profilnya selalu saja gelap bak malam tak berbintang.
Awalnya aku tak mempermasalahkannya karena aku pikir itu adalah nomor teman Mas Indra yang memang sengaja ia blokir Namun, hari ini mataku tertuju pada nomor tersebut yang berada di daftar panggilan keluar.
Bagaimana mungkin? jika nomor sudah di blokir setahuku sudah tak bisa lagi saling mengirim pesan apalagi melakukan panggilan.
"Mas, Deby ini siapa?" tanyaku setengah curiga.
Mas Indra nampak gugup saat aku menanyakannya, raut wajahnya seketika berubah ketika aku tengah memegang ponsel miliknya.
"Oh, itu temen kantor. Dia ngeselin orangnya jadi Mas blokir," jelasnya sembari memalingkan pandangan ke sebuah buku yang ada di tangannya.
Apakah aku percaya begitu saja? oh, tentu tidak!
"Emang kalau nomor di blokir itu bisa di telepon ya Mas?" tanyaku yang semakin membuat Mas Indra gugup.
Ia bangkit dari tempat duduknya, menutup buku serta meletakkannya di atas meja.
"Kemarin Mas ada perlu di kantor jadi Mas buka bloknya dulu, abis itu di blokir lagi," ungkapnya seraya pergi meninggalkan aku.
Aku mengangguk, berpura-pura percaya pada apa yang ia katakan. Namun, semua tak semudah itu. Aku tak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Aku ganti nomorku dengan nama Deby, dan membuat seolah aku adalah Deby yang ada dalam kontak misterius tersebut. Serta tak lupa aku menyalin nomor Deby dalam ponselku.
'Kita lihat Mas, siapa yang lebih pandai bersandiwara!' batinku sembari tersenyum sinis.
Mas Indra pun keluar dari kamar dengan mengenakan jaket kulit kesayangannya.
"Mau kemana Mas?" tanyaku.
"Mau keluar bentar beli rokok, kamu mau nitip engga?" terangnya.
Aku menggeleng karena tak ada yang ingin aku beli. Mas Indra lalu meminta ponsel yang masih ada dalam genggamanku.
Mas Indra pun pergi dengan motor sport yang ia beli beberapa bulan lalu. Setelah yakin motor Mas Indra menjauh dari halaman rumah, aku membuka ponselku untuk mencari tahu siapa sosok Deby sebenarnya.
Namun, betapa kagetnya aku ketika sebuah notifikasi menyambangi apliaksi W******p milikku.
[Sayang, aku sudah ada di depan rumahmu. Kita makan diluar ya, aku bosan masakan Salma]
Ternyata benar dugaanku, nomor yang selalu ada di daftar blokir Mas Indra memang memiliki sebuah rahasia. Sayang! bosan! oh, begitukah? baiklah Mas, aku akan cari tahu siapa nomor di balik kontak yang selalu terblokir itu.
"Ayo meneran Mbak, sedikit lagi. Tarik napasnya, yuk. Bismillah."Sekuat tenaga kukumpulkan kekuatan untuk meneran. Untuk ketiga kali, akhirnya rasa ini kembali menghampiri. Rasanya mustahil manusia sanggup terbiasa dengan penderitaan sepedih ini. Namun, dengan sang kekasih di sisi yang terus menyemangati, mengusap peluh di kening, menggosok punggung yang terasa sakit, semua akan terlewati dengan mudah. Ya, kali ini ada Mas Radit yang menemaniku melewati semuanya.Dia yang sedari awal mulai kontraksi terus menjadi tempat tangan ini menggenggam. Dia yang sedari awal bahkan rela meninggalkan segalanya demi mendampingiku. Aku sangat bersyukur di persalinan ketiga ini, Allah memberi kesempatan merasakan dampingan seorang suami dalam bertarung antara hidup dan mati. Demi melahirkan seorang bayi ke dunia."Ayo Mbak, sedikit lagi.""Bismillah."Doa dan zikir menggema hingga akhirnya, tangisan bayi terdengar membelah kesunyian malam kala itu. Bidan yang menolong segera mengikat tali pusat l
[Saya sudah dapat informasi siapa yang membawamu pulang malam itu, Al]Sebuah pesan dari Nina berhasil membuat dada ini bergemuruh hebat. Segera aku melakukan panggilan ke nomor sahabatku itu.[Hallo, Nin.][Iya, Al.][Siapa Nin orangnya?][Resty, mantan pacarnya Tama dulu, pas masih di Poltekkes.][Hah? Benarkah, Nin?][Iya, benaran. Suamiku yang lihat. Ni aku kirim alamat rumahnya ya. Biar kamu bisa langsung samperin orangnya.][Oh iya, Nin. Makasih ya.][Sama-sama.]Setelah menutup telpon, langsung saja kulakukan panggilan pada ponselnya Mas Radit, siapa tahu Mas Radit sedang tidak ada kegiatan dan bisa mengantarkanku ke sana.[Iya, Sayang?][Mas, barusan Nina hubungi Alya, katanya yang bawa saya malam itu mantan pacarnya Mas Tama.][Benar, Yank?][Iya, Mas. Nina juga kasih alamat rumah, supaya kita bisa tanyakan langsung sama orang itu.][Hm, tapi Mas masih ada pasien ni. Setengah jam lagi Mas pulang, ya.][Iya, Mas. Alya tunggu.]*Seperti ucapannya, setengah jam dari kumenutup t
"Yah, aku rindu sama Ayah Radit."Ucapan Akbar membuat mulut ini terhenti dari membacakan sirah nabi. Kututup buku serta merespon apa yang sedang dirasakan anak sambungku itu."Kalau Akbar rindu sama Almarhum Ayah, berarti Akbar harus ngirim doa. Minimal Alfatihah. Biar Ayah merasa bahagia karena sudah meninggalkan anak yang shaleh di dunia ini."Akbar mengangguk lalu mengangkat kedua tangan. Pelan lafaz surat Al-Fatihah mengalun dari bibirnya."Yah, apa ayah Radit bisa melihatku di sana?"Lagi-lagi aku dibuat bergetar dengan pertanyaan Akbar. Sekian lama menikahi ibunya, baru malam ini dia bercerita tentang almarhum sang ayah. Ternyata benar seperti kata Alya, Akbar adalah bocah yang sangat pintar memanage perasaan."Tentu bisa Sayang, makanya Akbar harus jadi anak baik, rajin shalat dan mengaji serta sayang sama Mama dan Dedek Maryam.""Aku udah ngelakuin semuanya, Yah.""Kalau gitu, pasti Ayah Radit sangat bangga pada Akbar.""Benar, Yah?""Iya, Sayang.""Akbar mau ngomong sama Mam
"Mas, ada flek ini." Alya berlari dari dalam kamar mandi sambil menunjuk sesuatu. Jantungku berdegup kuat menatap apa yang ada di tangan Alya. Fleknya lumayan banyak. Apakah ini efek dari berturut-turut bercocok tanam? Astaghfirullah! "Mas sih, lasak. Alya 'kan sudah ingatin." Dia merengut sambil merebahkan kepalanya di atas pundakku. Entah bagaimana jika istriku ini sedang menaruh kesal. Sebab yang aku tahu, saat kesal, Alya selalu menempel di tubuh ini. "Maaf ya, Mas janji nggak akan melakukannya lagi," ucapku terbata sambil mengelus pipinya Masih dengan rasa khawatir yang memenuhi rongga dada. Alya terlonjak dan menatapku seketika. Kenapa? Apa aku salah bicara? "Benar, Mas nggak akan melakukannya lagi? Sampai sembilan bulan?" Mataku berkedip cepat, melakukan apa? Sejenak kepala dengan cepat berpikir. Ketika sudah paham yang Alya maksud, jiwa ini malah bergidik ngeri. Tidak melakukan selama sembilan bulan? Hmm, lumayan lama. "Maksud Mas, nggak akan lasak lagi jika kita sed


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore