"Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kenapa dia bisa hadir diantara kita. Dia begitu berani mengajaku menikah. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi semakin aku menghindar dia semakin berani mendekatiku!" KALIMAT ITU SEMPURNA MENGHANCURKAN HIDUPKU
View More1.Terputusnya Jembatan Impian
Pukul 11 siang, aku berdiri di depan cermin kamarku. Tangan merapikan kemeja biru kusam yang dipinjam dari tetangga sebelah. Hari ini adalah hari pertama aku akan bertatap muka langsung dengan dosen. Sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus swasta, ada sedikit rasa bangga, meski samar—mungkin lebih banyak gugup. Setelah melewati serangkaian tes tertulis, administrasi yang bikin kepala pening, dan masa orientasi yang penuh kejutan, akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa. Namun, ironisnya, aku tak tahu apakah aku akan mampu bertahan.
Mereka bilang menjadi mahasiswa adalah pintu gerbang menuju mimpi-mimpi besar. Kalimat itu sering kudengar dari mulut motivator di televisi atau para tetangga yang bangga menyebutkan anak-anak mereka kuliah. Tapi aku? Rasanya kalimat itu hanya terdengar hampa, seperti suara hujan yang jauh di kejauhan. Ada banyak orang di luar sana yang tidak pernah merasakan bangku kuliah, tetapi tetap berhasil membangun sesuatu, meraih sesuatu, bahkan tanpa harus berdasi. Bukankah mereka juga punya mimpi?
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku terlalu banyak menuntut hidup? Ataukah aku yang terlalu malas berjuang? Entahlah. Yang jelas, ada hal yang belum kutemukan dalam diriku, dan itulah yang membuatku selalu merasa resah.
Saat matahari mulai tenggelam, tepat pukul 7 malam, aku bersiap menuju rumah Kak Rustam. Dia adalah mahasiswa Universitas Darussalam__tempat di mana aku akan mencoba peruntunganku. Rustam adalah sosok yang kuhormati, seperti seorang kakak. Meski dia bukan saudara kandung, aku sudah lama menganggapnya bagian dari keluargaku sendiri.
"Tam! Aku mau mendaftar malam ini. Bisa temani aku?" tanyaku lewat telepon tadi sore.
"Datang saja ke rumah. Aku akan mengantarmu," jawab Rustam singkat. Nada suaranya hangat, seperti biasa.
Rumah Rustam hanya berjarak sekitar seratus meter dari rumahku. Aku sengaja memintanya mengantar karena lokasi kampus cukup jauh, hampir 15 menit perjalanan dengan motor. Tidak ada kendaraan umum yang melintas di sana, dan jalanannya pun gelap, tanpa penerangan sama sekali. Aku tak mau mengambil risiko.
Rustam sudah siap dengan motornya ketika aku tiba di depan rumahnya. Motor tua itu berderu pelan, menunggu kami meluncur. Rustam mengenakan jaket cokelat lusuh yang selalu dipakainya.
“Kita harus bergegas, Ciang. Langit terlihat mendung. Jangan sampai kita kehujanan di tengah jalan,” ujarnya sambil menunjuk langit yang mulai gelap.
Aku mengangguk. Tidak ada waktu untuk ragu. Kami langsung berangkat, menyusuri jalanan yang mulai sepi. Suara mesin motor memecah keheningan, bercampur dengan angin malam yang membawa aroma hujan.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit, kami tiba di Wara, salah satu bangunan cabang Universitas Darussalam. Bangunannya terlihat sederhana, dengan halaman luas yang dihiasi pohon-pohon besar di sudutnya. Di ujung halaman, terlihat sebuah ruang kecil dengan lampu kuning redup yang menjadi tempat pendaftaran. Gerimis mulai turun, membasahi tanah yang kering. Namun, tidak terlalu mengganggu langkah kami.
Rustam membuka pintu ruangan dengan santai. Aku mengikutinya dari belakang, mencoba menyembunyikan kegugupan. Di dalam ruangan, seorang bapak-bapak bertubuh gempal tengah sibuk merapikan tumpukan berkas di atas meja. Kulitnya gelap, kumis tebalnya melengkung ke atas, memberikan kesan serius. Tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang hangat.
“Assalamualaikum,” Rustam memberi salam sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam,” jawab bapak itu, menoleh sekilas. “Oh, Rustam! Tumben ke sini malam-malam. Tidak mungkin, kan, kau mau mendaftar ulang jadi mahasiswa baru?” ledeknya sambil tertawa kecil.
Rustam balas tertawa. “Tidak, Pak. Saya hanya mengantar adik saya yang ingin mendaftar. Dia agak pemalu, jadi saya temani ke sini.”
Aku tersenyum canggung sambil menyerahkan berkas-berkas pendaftaran. Tanganku sedikit gemetar saat Bapak itu menerima kertas-kertas tersebut.
“Hmm… Abdul Azis,” gumamnya sambil membaca nama di formulirku. “Nama yang bagus. Tapi apakah wajahnya sebagus namanya, ya?” Dia tersenyum lebar, dan kumisnya terlihat seperti ikut mekar. Aku ingin tertawa, tapi kutahan. Rasanya aneh bercanda dengan seseorang yang baru dikenal.
Aku segera mengisi formulir tambahan yang diberikan. Rustam berdiri di sampingku, sesekali memberikan instruksi kecil agar aku tidak salah menulis. Ruangan itu penuh dengan suara gesekan pena di atas kertas, diselingi oleh detik jam dinding. Di luar, gerimis masih turun, menambah suasana yang entah bagaimana terasa damai.
Setelah semua berkas lengkap, Bapak itu menatapku dengan senyum kecil. “Selamat datang di Universitas Darussalam. Semoga kau betah di sini, Abdul Azis. Kampus ini punya banyak cerita untukmu.”
Aku hanya mengangguk. Kata-katanya seperti sebuah janji, meski aku belum tahu apakah aku siap untuk itu. Rustam menepuk bahuku pelan saat kami keluar dari ruangan.
“Kau sudah satu langkah lebih dekat, Ciang,” katanya. “Jangan sia-siakan kesempatan ini.”
Langit masih mendung ketika kami melaju pulang. Jalanan sepi, hanya suara gemerisik dedaunan yang terdengar. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang berdebar. Mungkin malam ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Atau mungkin hanya satu lagi percobaan dalam hidupku yang penuh dengan keraguan. Tapi setidaknya, aku sudah mencoba.
Alhamdulillah setibanya di Ambon, beliau langsung di bantu oleh Ayahnya Ahmad. Rumah pengungsi yang di janjikan pemerintah benar – benar dibangun, dengan ukuran 2×3m per unit. Sebagian orang mungkin akan bertanya – tanya mengapa rumah pengungsi yang dibangun terlalu kecil! Apa jadinya bila satu kepala keluarga berjumlah 4 atau 5 orang atau bahkan lebih. Karena ukurannya yang terbilang kecil, ada sebagian warga yang memilih untuk mencari tempat tinggal di tempat lain. Entah itu dengan mengontrak rumah atau hanya sekedar mencari kerabat dekat. Meskipun terbilang kecil setidaknya ada hunian, bukan! Kebetulan saat itu Ayahnya Ahmad adalah kepala RT di komplek pengungsian. Ibuku diberikan satu unit. Biar bagaimanapun, Ibuku adalah korban dari kerusuhan kota Ambon dan sudah seharusnya beliau mendapatkan bagiannya. *** Setelah Ibu menjelaskan keadaan kami. Alahamdulillah pamanku tidak keberatan, toh juga si Adit hanya mampir. Beliau meminta agar Ibuku tidak perlu repot – repot mengurus si
Sebelum matahari terbit, aku langsung menuju pasar. Pagi ini aku sendirian, aku tidak mengajak Fahri ataupun Umar. Mereka masih tidur. Terlalu pulas untuk dibangunkan. Lagipula tidak ada lagi taruhan diantara mereka. Juli juga tidak pernah lagi bermalam disini. Dan itu membuat Umar tidak mempunyai partner untuk bertaruh dengan Fahri. Orang – orang mulai memadati pasar. Dari pedagang, pembeli hingga orang – orang yang hanya sekedar mampir untuk memanjakan mata. Semuanya menyatuh dalam satu frame.Ratusan kata terdengar samar – samar ditelingaku. Ada yang sedang menawar harga barang karena ingin membeli, ada juga yang hanya sekedar iseng menawar seakan ingin membeli dan itu sudah menjadi seni layaknya musik pengantar. Seakan ingin memberikan sentuhan terakhir, suara roda dua dan empat tidak luput dari perhatianku. Bukan karena itu mobil sport atau harley davidson, akan sangat lucu jika itu benar - benar terjadi. Itu hanyalah angkutan umum dan ojek yang selalu setia menunggu penumpang.
“Apa istrimu memang selalu seperti itu! Atau,, apa karena aku membeli ini?” aku segera melontarkan pertanyaan saat aku turun dari motornya sambil menunjukan ponsel yang baru saja aku beli beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya aku sudah ingin bertanya sejak aku masih berada di rumahnya, tapi urung karena aku rasa itu akan terlihat sedikit tidak sopan, aku juga tidak ingin membuat suasana menjadi canggung. Dan aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Sejujurnya aku tidak akan terlalu perduli jika saja ini terjadi kepada orang lain. Tapi biar bagaimanapun dia adalah iparku, istri dari kakak kandungku. Aku tidak bisa diam saja sebagaimana biasanya aku bersikap. Kebetulan di halaman rumah ada beberapa kursi, kami segera duduk. Dia merabah sak celananya, meraih bungkusan rokok, mengambil sebatang. Pangkal bibirnya mengapit bagian filter kemudian menyalahkan pematik sebelum satu tarikan itu menyemburkan asap yang cukup menutup sebagian wajahnya. “Aku rasa pertanyaanmu suda
Menerutku, pemicunya tidak lain adalah karena hubungan darah. Alih – alih memikirkan hubungan darah, skenario terburuknya bahkan kalian akan di peralat. Berbisnis dengan keluarga lebih cenderung berakhir dengan perselisihan. Rasa was – was tidak akan terhindarkan. Ya, tapi kembali lagi, selama bisa me_manage hubungan darah dalam bisnis, aku rasa semuanya akan baik – baik saja. Lain lagi ceritanya jika membangun sebuah bisnis dan bekerja sama dengan orang luar, kedua bela pihak akan saling terbuka dan berusaha meminimalisir kesalah pahaman. Pritoritasnya adalah kepercayaan. Dari pada hanya sekedar memanfaatkan keuntungan pribadi, mereka akan lebih cenderung meningkatkan progres usaha yang di jalankan. Kalaupun ada yang berani bermain di belakang, itu karena memang dari awal sudah di rencanakan. Tapi kemabli lagi kepada diri sendiri. Selama tidak ada niatan untuk memanfaat kerabat atau pun orang luar! Tidak akan ada keriguan yang berarti. Setidaknya semuanya akan baik – baik saja, buk
Aku tidak perduli bagaimana sistem gaji disini khususnya bagi pedagang orang buton yang menyimpan gaji karyawan dengan iming – iming akan di berikan saat mereka pulang kampung atau paling tidak harus bertahan selama 3 tahun dengan imbalan akan di bantu menjajaki usaha dengan bantuan modal. Jadi begini! Pertama, setelah karyawan kios mampu bertahan selama 3 tahun. Mereka akan diberikan tanggung jawab untuk menjalankan sebuah usaha. Dalam hal ini mereka akan di berikan kios untuk di jalankan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Mulai dari biaya kontrak kios hingga barang – barang yang di perlukan sesuai dengan kebutuhan pasar. Kedua, mereka akan di minta untuk mengisi barang – barang yang di butuhkan. Karena baru akan memulai sebuah usaha. Mereka tidak di berikan pilihan selain mengambil barang dari sang Bos. Setelah semua keperluan sudah terlaksana, Barulah sang Bos dan karyawan akan menghitung semua biaya yang di keluarkan. Biasanya, seorang karyawan di gaji Rp. 300.000/bulan. K
Saat aku menatap salah satu di antara mereka, aku tersenyum sambil sedikit membungkukan badan, berlalu mengikuti Kakak Ku. Selanjutnya aku asyik menonton melihatnya memasak.Fahri sudah pernah memberitahuku soal Kakak ku yang jago memasak. Dia menyalahkan kompor, menyiapkan wajan, tak lupa juga menuangkan minyak goreng.Aku mengamatinya dengan cermat, barangkali saja aku bisa sedkit belajar. Sambil menunggu minyak di panaskan. Dia menuangkan tepung bumbu di baskom mini, sepertinya dia akan membuat filet udang.Pyak,, pyak,, pyak!Suara itu terdengar mendominasi saat udang yang memang sudah di baluri tepung bumbu berenang ke dalam minyak yang sudah panas. Sambil menunggu, Perhatiannya teralihkan, dia mengambil pisau dan talenan.Mengiris beberapa bawang, cabe dan tomat. Tidak akan berlebihan jika aku berkata bahwa aku sedang menyaksikan perlombaan memasak, hanya saja kontestan yang mengikuti lomba hanya dia sendiri. Hehehe!Dia mengambi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments