Ketika Adat Menentang Cinta

Ketika Adat Menentang Cinta

last updateLast Updated : 2022-08-16
By:  Ciang #17Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10
11 ratings. 11 reviews
35Chapters
3.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

"Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kenapa dia bisa hadir diantara kita. Dia begitu berani mengajaku menikah. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi semakin aku menghindar dia semakin berani mendekatiku!" KALIMAT ITU SEMPURNA MENGHANCURKAN HIDUPKU

View More

Chapter 1

Bab 1

               1.Terputusnya Jembatan Impian

Pukul 11 siang, aku berdiri di depan cermin kamarku. Tangan merapikan kemeja biru kusam yang dipinjam dari tetangga sebelah. Hari ini adalah hari pertama aku akan bertatap muka langsung dengan dosen. Sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus swasta, ada sedikit rasa bangga, meski samar—mungkin lebih banyak gugup. Setelah melewati serangkaian tes tertulis, administrasi yang bikin kepala pening, dan masa orientasi yang penuh kejutan, akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa. Namun, ironisnya, aku tak tahu apakah aku akan mampu bertahan.

Mereka bilang menjadi mahasiswa adalah pintu gerbang menuju mimpi-mimpi besar. Kalimat itu sering kudengar dari mulut motivator di televisi atau para tetangga yang bangga menyebutkan anak-anak mereka kuliah. Tapi aku? Rasanya kalimat itu hanya terdengar hampa, seperti suara hujan yang jauh di kejauhan. Ada banyak orang di luar sana yang tidak pernah merasakan bangku kuliah, tetapi tetap berhasil membangun sesuatu, meraih sesuatu, bahkan tanpa harus berdasi. Bukankah mereka juga punya mimpi?

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku terlalu banyak menuntut hidup? Ataukah aku yang terlalu malas berjuang? Entahlah. Yang jelas, ada hal yang belum kutemukan dalam diriku, dan itulah yang membuatku selalu merasa resah.

Saat matahari mulai tenggelam, tepat pukul 7 malam, aku bersiap menuju rumah Kak Rustam. Dia adalah mahasiswa Universitas Darussalam__tempat di mana aku akan mencoba peruntunganku. Rustam adalah sosok yang kuhormati, seperti seorang kakak. Meski dia bukan saudara kandung, aku sudah lama menganggapnya bagian dari keluargaku sendiri.

"Tam! Aku mau mendaftar malam ini. Bisa temani aku?" tanyaku lewat telepon tadi sore.

"Datang saja ke rumah. Aku akan mengantarmu," jawab Rustam singkat. Nada suaranya hangat, seperti biasa.

Rumah Rustam hanya berjarak sekitar seratus meter dari rumahku. Aku sengaja memintanya mengantar karena lokasi kampus cukup jauh, hampir 15 menit perjalanan dengan motor. Tidak ada kendaraan umum yang melintas di sana, dan jalanannya pun gelap, tanpa penerangan sama sekali. Aku tak mau mengambil risiko.

Rustam sudah siap dengan motornya ketika aku tiba di depan rumahnya. Motor tua itu berderu pelan, menunggu kami meluncur. Rustam mengenakan jaket cokelat lusuh yang selalu dipakainya.

“Kita harus bergegas, Ciang. Langit terlihat mendung. Jangan sampai kita kehujanan di tengah jalan,” ujarnya sambil menunjuk langit yang mulai gelap.

Aku mengangguk. Tidak ada waktu untuk ragu. Kami langsung berangkat, menyusuri jalanan yang mulai sepi. Suara mesin motor memecah keheningan, bercampur dengan angin malam yang membawa aroma hujan.

Setelah perjalanan sekitar 15 menit, kami tiba di Wara, salah satu bangunan cabang Universitas Darussalam. Bangunannya terlihat sederhana, dengan halaman luas yang dihiasi pohon-pohon besar di sudutnya. Di ujung halaman, terlihat sebuah ruang kecil dengan lampu kuning redup yang menjadi tempat pendaftaran. Gerimis mulai turun, membasahi tanah yang kering. Namun, tidak terlalu mengganggu langkah kami.

Rustam membuka pintu ruangan dengan santai. Aku mengikutinya dari belakang, mencoba menyembunyikan kegugupan. Di dalam ruangan, seorang bapak-bapak bertubuh gempal tengah sibuk merapikan tumpukan berkas di atas meja. Kulitnya gelap, kumis tebalnya melengkung ke atas, memberikan kesan serius. Tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang hangat.

“Assalamualaikum,” Rustam memberi salam sambil tersenyum.

“Waalaikumsalam,” jawab bapak itu, menoleh sekilas. “Oh, Rustam! Tumben ke sini malam-malam. Tidak mungkin, kan, kau mau mendaftar ulang jadi mahasiswa baru?” ledeknya sambil tertawa kecil.

Rustam balas tertawa. “Tidak, Pak. Saya hanya mengantar adik saya yang ingin mendaftar. Dia agak pemalu, jadi saya temani ke sini.”

Aku tersenyum canggung sambil menyerahkan berkas-berkas pendaftaran. Tanganku sedikit gemetar saat Bapak itu menerima kertas-kertas tersebut.

“Hmm… Abdul Azis,” gumamnya sambil membaca nama di formulirku. “Nama yang bagus. Tapi apakah wajahnya sebagus namanya, ya?” Dia tersenyum lebar, dan kumisnya terlihat seperti ikut mekar. Aku ingin tertawa, tapi kutahan. Rasanya aneh bercanda dengan seseorang yang baru dikenal.

Aku segera mengisi formulir tambahan yang diberikan. Rustam berdiri di sampingku, sesekali memberikan instruksi kecil agar aku tidak salah menulis. Ruangan itu penuh dengan suara gesekan pena di atas kertas, diselingi oleh detik jam dinding. Di luar, gerimis masih turun, menambah suasana yang entah bagaimana terasa damai.

Setelah semua berkas lengkap, Bapak itu menatapku dengan senyum kecil. “Selamat datang di Universitas Darussalam. Semoga kau betah di sini, Abdul Azis. Kampus ini punya banyak cerita untukmu.”

Aku hanya mengangguk. Kata-katanya seperti sebuah janji, meski aku belum tahu apakah aku siap untuk itu. Rustam menepuk bahuku pelan saat kami keluar dari ruangan.

“Kau sudah satu langkah lebih dekat, Ciang,” katanya. “Jangan sia-siakan kesempatan ini.”

Langit masih mendung ketika kami melaju pulang. Jalanan sepi, hanya suara gemerisik dedaunan yang terdengar. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang berdebar. Mungkin malam ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Atau mungkin hanya satu lagi percobaan dalam hidupku yang penuh dengan keraguan. Tapi setidaknya, aku sudah mencoba.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

user avatar
abdulasis327
bgi yg sdah trlnjur mmbca!! mhon mf tmn",, utk smua krkter wanita, nmx akn d gnti dngn nm samaran! trima ksih.
2021-09-13 06:40:12
3
user avatar
abdulasis327
untuk bhsa buton!! di stiap akhir Bab ada keterangan/note mksih:) mhon dukungan trus tmn"!
2021-09-12 19:02:42
2
user avatar
La Mango
makin penasaran kak... lanjutannya mana?
2021-09-12 17:48:47
2
default avatar
Azzz
on proses!! segera di up!
2021-09-08 09:14:24
3
user avatar
Pemi Rianty
makin penasaran tentang kisah hidupnya...
2021-09-08 08:02:32
4
user avatar
Pemi Rianty
Jadi Makin Penasaran Tentang lanjutanya..
2021-09-08 08:01:42
3
user avatar
Hamidz Paradox
Kuat.. Kuat..!! Mantap utk di baca
2021-08-06 13:35:51
4
user avatar
Zaid Zaid
sangat bagus untuk diikuti ceritanya
2021-08-06 08:19:10
3
user avatar
Zaid Zaid
Sangat bagus
2021-08-05 22:09:34
3
user avatar
Ciang #17
Mohon dukungannya semua !!......
2021-08-05 21:09:51
3
user avatar
Ciang #17
Untuk kelanjutan ceritax.. msih mnunggu prtinjaun dr phak platform..!! Moga cepat di ttd........
2021-08-05 21:50:12
3
35 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status