แชร์

Bab 188—Sudah Tak Tahan

ผู้เขียน: Ayuwine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-17 22:04:51

Malik membelalakkan matanya saat jari lentik Sheila menekan bibir bawahnya sambil menyuarakan kalimat yang tak disangka-sangka.

"Maksudnya?" tanya Malik. Sungguh, apakah Malik benar-benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura tak paham?

"Jangan berpura-pura tidak tahu, Malik..." desis Sheila. Tatapannya liar, memancarkan gairah yang begitu membara.

Tangan Sheila kembali turun. Kali ini kedua tangannya meremas dan menarik kerah baju Malik, memaksa pria itu makin membungkuk mendekatkan wajahnya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 188—Sudah Tak Tahan

    Malik membelalakkan matanya saat jari lentik Sheila menekan bibir bawahnya sambil menyuarakan kalimat yang tak disangka-sangka."Maksudnya?" tanya Malik. Sungguh, apakah Malik benar-benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura tak paham?"Jangan berpura-pura tidak tahu, Malik..." desis Sheila. Tatapannya liar, memancarkan gairah yang begitu membara.Tangan Sheila kembali turun. Kali ini kedua tangannya meremas dan menarik kerah baju Malik, memaksa pria itu makin membungkuk mendekatkan wajahnya karena Sheila sedang duduk.Pandangan Malik bergeser turun secara refleks, menatap ke arah dada Sheila yang terekspos begitu samar di balik pakaian tipis tanpa bra. Dan Sheila menyadari betul ke mana arah netra pria itu tertuju."Kamu mau?" bisik Sheila terkekeh sensual, membuat Malik cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Namun lagi-lagi, tangan Sheila menarik baju Malik lebih rapat."Aku bisa meminta apa saja darimu, Malik. Bahkan uangku jauh lebih banyak daripada uangmu," ucap Sheila seraya se

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 187—Hadiah Anniversary

    "Mbak... kenapa mau memukulku?" tanya Malik dengan nada suara lembut.Jarak keduanya begitu rapat, saling mengikis ruang hingga tak tersisa. Netra mata bulat Sheila menatap Malik dengan sangat intens."Aku kira maling, Lik! Kenapa sih lampunya gak dinyalain? Apalagi aku mau ambil air minum... Tiba-tiba kaget dengar suara di dapur dan pas berlari ke bawah, aku melihat bayangan besar yang sedang mengendap-endap," jelas Sheila dengan bibir manyun, seolah tak mau disalahkan atas kepanikannya.Malik merasa gemas luar biasa. Rasanya ia ingin melumat bibir yang merajuk itu saat ini juga, namun Malik menahannya sekuat tenaga. Jantungnya berdebar kencang, seolah sangat merindukan sentuhan Sheila kembali."Maaf, Mbak... Tadi aku juga mendengar suara aneh, makanya aku mengendap-endap," jelas Malik jujur.Akhirnya keduanya terkekeh bersama di dalam kegelapan dapur, mencairkan kepanikan tadi."Aku akan membereskan pecahan kacanya, Mbak... Duduk dulu di sana," ucap Malik mengusir rasa canggung sera

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 186—Hampir

    "Oke, Ris... aku minta maaf. Apa masih ada yang mau kamu katakan lagi?"Mendengar permintaan maaf Malik, Aris langsung menyunggingkan senyum miring, merasa puas atas kepatuhan Malik yang selalu mengalah dan menurut padanya. Padahal, Maksud Malik meminta maaf bukanlah karena merasa bersalah, melainkan hanya malas memperpanjang perdebatan."Enggak ada, hanya itu saja, Lik. Aku juga ada urusan," ucap Aris seraya melirik jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Melihat gerakan itu, dahi Malik berkerut heran. "Semalam ini? Urusan apa, Ris?" tanya Malik.Pertanyaan itu langsung ditanggapi dengan ekspresi tegang dari raut wajah Aris. Namun sedetik kemudian, Aris kembali bersikap biasa. Ia berdeham pelan , membuat Malik terdiam menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu."Kontrol, Lik... Dokter pribadiku baru pulang dari Amerika. Dia mengabariku karena jadwal kontrolku sempat tertinggal beberapa minggu kemarin," jelas Aris dengan raut wajah yang dibuat men

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 185—Keras Kepala

    Mendengar tuduhan itu, Malik mendongak menatap Aris dengan pandangan heran. Siapa yang Aris maksud? batinnya bertanya-tanya."Apa yang sedang kamu bicarakan, Ris? Dan soal siapa?" tanya Malik seraya menegakkan posisi duduknya.Aris menyesap kembali rokok di tangannya yang kini tersisa separuh, lalu menghembuskan asapnya ke udara."Soal mertuaku!" jawab Aris tegas."Pak Arya?"Aris mengangguk cepat."Aku tidak melakukan apa-apa, Ris," balas Malik jujur."Lalu kenapa dia tadu memanggilmu dan memujimu di depanku?! Kenapa kamu gak ngasih tau aku sebelumnya kalau beliau mau datang?!" desak Aris merasa sangat kesal."Aku gak tahu, Ris, kalau beliau akan datang... apalagi memanggilku ke ruangannya," jelas Malik dengan kening berkerut. Ia heran melihat sikap Aris yang terkesan kekanak-kanakan.Sahabatnya itu terlihat sama sekali tak ingin Malik berada di atasnya—jangankan di atasnya, berada sejajar dengannya saja sepertinya Aris tidak sudi."Apa yang beliau katakan padamu, Lik?! Aneh banget

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 184—Uang Merubah Segalanya

    "Rasanya tidak sopan, Ris, kalau aku memuaskan Mbak Sheila saat kalian sedang merayakan anniversary. Kenapa tidak kamu saja? Oh, astaga! Maaf, Ris... Aku lupa, kamu kan tidak mampu, ya? Bagaimana dengan penyakitmu itu, Ris? Apa sudah ada perkembangan? Bagaimanapun, Mbak Sheila pasti akan lebih senang jika bersama denganmu—suami sahnya—bukan bersama sahabat suaminya, kan?"Sheila terbelalak menatap keberanian Malik saat menyuarakan kalimat itu. Ia bahkan sempat menatap sebatang rokok yang masih berada di tangan Malik dengan asap tipis yang membumbung.Dahinya berkerut dalam. Apa rokok itu mengandung alkohol? Rasanya tidak mungkin Malik berani membalas perkataan Aris sesadis itu tanpa bantuan alkohol... gumamnya dalam hati, masih belum percaya dengan tindakan nekat pria itu.Mendengar sindiran menohok itu, mata Aris melotot tajam."Sudahlah, Ris... Ini hari bahagia kalian. Jangan libatkan aku dulu di sesi-sesi kebahagiaan kalian," lanjut Malik santai, seolah tak memberi ruang bagi Aris

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 183—Kepanikan Sheila

    Malik langsung membuka matanya. Ia tersentak hingga tanpa sengaja asap rokok yang diisapnya terhirup salah jalur ke dalam tenggorokan.Mata Malik seketika terbelalak. Ia memekik tersedak asap pekat itu. Tenggorokannya terasa seperti ditusuk-tusuk dan perih bukan main. Malik batuk hebat hingga wajahnya memerah padam dan matanya berair menahan sakit.Sheila yang menyadari hal itu langsung berlari menghampirinya, merasa bersalah karena telah mengejutkan pria itu.Malik kini terduduk lemas di atas lantai, sementara Sheila berlutut tepat di hadapannya."Astaga, Malik!" pekik Sheila panik.Ia langsung menyambar gelas berisi air putih di atas meja dan menyodorkannya pada Malik. Tanpa bantahan, Malik dengan cepat meneguknya hingga tandas. Rasa terbakar itu begitu menyiksa sampai segelas air terasa tidak cukup. Sheila bergegas mengambilkan segelas lagi.Selama Malik minum, tatapan Sheila memancarkan rasa cemas yang amat sangat. Bahkan bulir air mata menetes di pipinya. Satu tangannya mengelus

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status