ログインDevita Arriva tidak menginginkan pernikahan dalam waktu dekat. Namun, gara-gara kecerobohannya mengajak Alby menikah lewat dating app, mau tak mau Devita harus melepaskan keinginannya untuk tidak menikah. Devita yang bar-bar dan Alby si mantan play boy. Kira-kira bagaimana kisah mereka ke depannya, yah?
もっと見るThe moon hung high, swollen and silver, bleeding its glow through the tangled branches of Black Hollow Forest. Luna Cross moved like smoke—silent, seductive, untouchable. Her black leather pants clung to her hips, the crimson crop top revealing the jagged scar above her navel, a relic of a fight she barely survived. She didn’t run with a pack. She didn’t obey rules. She fucked, fought, and vanished.
Rogues like her weren’t supposed to survive long. But Luna didn’t just survive—she owned the night.
Tonight, her scent had drawn more than prey. She felt it—deep in her bones—an energy that coiled and crackled in the air. Her wolf stirred beneath her skin, restless and aroused.
Something... someone... powerful was close.
She crouched near a stream, the cool water lapping at her fingers as she drank. Then she heard it—a low growl, barely a breath above the wind. Her lips curled into a wicked smirk.
"Step out, Alpha," she purred, rising to her full height without flinching. "No need to stalk. I don’t scare easily."
From the shadows emerged a towering figure. Tall, broad-shouldered, with hair as dark as midnight and eyes like wildfire. Kael Thorne. The Alpha of the Bloodfang Pack. Dangerous. Ruthless. Revered. His presence hit her like thunder.
"You crossed into my territory," he said, voice deep and smooth like velvet over blades.
She tilted her head. "You make it sound like I stumbled into your bed. Am I trespassing, or tempting?"
Kael’s jaw clenched. “You know who I am.”
"Of course," she whispered, taking slow, calculated steps toward him. "Alpha Kael. The merciless king of the forest. Tell me... do you growl as well as you fuck?"
His eyes flashed gold. In one swift movement, he closed the distance between them, his hand wrapping around her throat—not tight enough to hurt, but firm enough to make her wolf purr.
"You’re bold, rogue."
"You’re hard," she murmured, her thigh brushing against his.
Kael released her with a grunt, stepping back as if her touch burned. "You have a death wish."
"No," Luna said, licking her lips. "I have a hunger. And you, Alpha, smell like raw power."
He should’ve torn her apart. A rogue like her—wild, unclaimed—was a threat to any pack’s stability. But something in her scent, her defiance, her heat… pulled him like gravity.
"This forest is off-limits," he growled. "Turn back. Or I’ll drag you to my den in chains."
"Promise?" she asked, smirking before shifting—her body erupting in silver light as fur replaced skin, and a midnight-black wolf bolted into the woods.
Kael stood frozen for a moment, heart pounding. He should’ve gone after her. He should’ve called his patrols. Instead, he stood there… hard as stone, and hungrier than he’d been in years.
---
Farther away, Luna shifted back, leaning against a tree with a grin. Her blood was still humming from the tension. She didn’t expect to survive if Kael truly came after her. But for the first time in years… she didn’t care.
Something inside her wanted him to chase.
Not to kill.
But to claim.
And damn it… part of her was ready to be caught.
Seharian Alby sibuk mengurus toko. Pokoknya yang biasanya siang bisa makan bersama Devita kali ini tidak. Kentara sekali masih marah dan menghindari sang istri. Bahkan telepon Devita saja tidak laki-laki itu angkat. Tapi, dalam perjalanan pulang menuju rumah mendadak laki-laki itu merenung. Bahwa mau sampai kapan ia dan Devita perang dingin begini. Apalagi tidak adanya penjelasan mengenai alasan Alby marah. Pasti Devita kebingungan. Mendadak laki-laki itu merasa bersalah. Jadi, dalam perjalanan ia sempat mampir untuk membeli martabak telur di pinggir jalan. Senyum Alby terukir, ia memantapkan hati begitu bertemu dengan Devita harus bermaafan. Ya, minimal ajak duduk bersama lalu bicarakan permasalahan dan berdamai kemudian. "Assalamualaikum." Alby masuk ke rumah, tapi ruang tamu tampak gelap. Wajar memang karena sekarang sudah nyaris tengah malam. Alby meletakkan martabak telur di atas meja makan. Kemudian melangkah menuju kamar yang pintunya terbuka sedikit. Tangan Alby sudah meme
"Selamat ya ... atas pernikahannya bestie," kata Devita ketika perempuan itu bersalaman dengan Mely di atas pelaminan ditemani oleh Alby tentunya. "Thanks bestiee." Sesaat keduanya berpelukan. Mely berbisik pelan di samping telinga Devita ketika keduanya masih berpelukan. "Ada mantan lo tahu."Seketika Devita melepaskan pelukannya. "Serius lo?!" Perempuan itu menatap Mely nyaris seperti melotot. Membuat Mely menepuk keras bahu sahabatnya agar tahu situasi. Sebab ekspresi perempuan itu mengundang rasa penasaran beberapa orang termasuk Alby. Mely tertawa pelan. Bukannya menjawab pertanyaan dari Devita, perempuan itu justru mendorong sahabatnya ke arah Alby. "Bawa istri lo deh sebelum dia bikin keributan." Alhasil Alby menarik Devita menjauh. Meski perempuan itu sempat berontak dan nyaris tersandung gara-gara tak mengikuti ritme langkah kaki suaminya. "Ngomongin apa?" tanya Alby dengan tatapan menyelidik setelah keduanya berhenti disudut tempat duduk yang agak sepi. "Gak ada, bia
"AC-nya kecilin, Ta," kata Alby laki-laki itu tampak membungkus tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Devita sedang memegang remote AC sambil berdiri di sisi kasur. Bukannya mendengarkan, perempuan itu justru menaikkan suhu AC. Alby keluar dari selimut. Laki-laki itu melangkah menghampiri sang istri. Hendak mengambil remote AC. Tetapi, sayangnya Devita sudah lebih dulu menyadari kehadiran sang suami. Sehingga ia bisa dengan cepat menghindar. "Ta! Kecilin." "Gak mau. Gerah tau." Alby berlari mendekati Devita. Perempuan itu dengan cepat menghindar. Ia bahkan berlarian sampai melintasi atas kasur, atas kursi, lompat bahkan membelokkan arah agar tak tertangkap. Sedangkan Alby tampak greget sendiri. Laki-laki itu dengan cepat mengejar langkah pendek istrinya. Tangan besarnya berhasil menangkap Devita. Ya, lebih tepatnya memeluk perut istrinya dari belakang. Membuat Devita memberontak. Berusaha untuk menyembunyikan remote AC itu. Sampai tangannya ia rentangkan ke atas berha
"Mas gak jadi makan siang bareng. Aku mau ke sekolah Guntur," kata Devita ketika keduanya berada dalam satu mobil hendak menuju ke tempat makan. "Yaudah aku anterin." Devita hanya mengangguk saja. Perempuan itu mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Meski begitu, Alby tahu istrinya terlihat cemas. "Masalah apa?" tanya Alby tak tahan dengan keterdiaman Devita. Helaan napas berat terembus. "Aku gak tahu. Guntur itu bukan tipikal anak yang neko-neko. Makanya aku kaget karena ditelepon guru katanya Guntur ada di ruang kepala sekolah." Devita memijat pelipisnya. "Aku coba tanyain ke dia lewat chat juga gak dibales, cuma suruh cepet aja." Alby membelokkan setirnya menuju sekolah Guntur. "Yaa ... namanya masa-masa labil gini. Mas juga dulu gitu kok. Yang penting, kamu tanya baik-baik dulu aja. Jangan langsung ditodong kayak kriminal." Kali ini Devita mengangguk. Meski tetap saja mulutnya tak tahan ingin mengomeli Guntur. Pasalnya sebentar lagi adiknya itu kelas dua bel
Dalam seminggu setidaknya ada satu hari Alby tidak kerja. Laki-laki itu menetapkan hari minggu sebagai libur sekaligus quality time bersama dengan Devita. Kalau saat lajang dulu laki-laki itu akan nongkrong atau cari mangsa baru untuk dijadikan kekasih. Alby yang masih mengenakan kolor dan tak m
"ALBY!" Bukannya bangun, sehabis shalat subuh di masjid laki-laki itu justru kembali tertidur di kasur. Sebab kemarin-kemarin Alby sibuk dengan usaha online shop-nya yang menjual macam-macam perabotan rumah tangga. Alhasil, jam tidur laki-laki itu juga ikutan tersita. "Mas bangun! Emangnya ga
"Kok lo tidur disebelah kanan sih?" tanya Devita heran melihat Alby yang sudah terbaring di sisi kanan kasur. Padahal laki-laki itu tahu, itu tempat favoritnya. "Bahasanya hei," tegur Alby kali ini laki-laki yang terbaring terlentang itu menatap sang istri. Devita berdecak, sebab sulit sekali
Aroma masakan tercium sampai ke dalam kamar. Alby yang sedang bersiap-siap segera melangkah keluar. Laki-laki itu mengikuti aroma yang menggoda tersebut yang berakhir di dapur. Dapur minimalis modern yang Alby bangun untuk melihat istrinya memasak. Ternyata sekarang menjadi nyata. Ia melihat bag
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.