เข้าสู่ระบบDi dalam kamar utama yang redup, keheningan perlahan mengambil alih menggantikan kegaduhan di luar. Bayu mendudukkan tubuh Maudy di atas kasur dengan teramat hati-hati.Dia dengan cepat mengambil wadah dan mengusap pelipis serta leher Maudy menggunakan handuk hangat hingga napas istrinya yang semula tersengal perlahan mulai teratur.Setelah memastikan Maudy jauh lebih tenang, Bayu naik ke atas ranjang. Pria itu menyampingkan tubuhnya, merengkuh Maudy ke dalam pelukan hangatnya yang begitu kokoh. Dia membenamkan wajahnya di leher istrinya, mengisap aroma harum tubuh Maudy yang selalu menjadi penenang jiwanya."Maafkan aku, Sayang..." bisik Bayu dengan suara yang amat dalam dan bergetar."Mas..." lirih Maudy pendek."Maafkan aku," ulang Bayu lagi, merapatkan dekapannya. "Gara-gara aku turun ke bawah, kamu jadi terguncang dan mual seperti ini."Maudy memejamkan matanya, merasakan hangatnya napas Bayu yang menerpa kulit lehernya."Aku sangat mencintai kamu," tutur Bayu lembut. "K
Maudy masih menatap lurus ke dalam manik mata Bayu. Hening yang mencekam seolah menggantung di udara, menunggu keputusan dari mulut Maudy.Namun, sebelum Maudy sempat menguraikan kata-katanya, raut wajahnya mendadak berubah pucat pasi. Matanya terpejam rapat, dan tangannya yang semula berada dalam genggaman Bayu seketika bergerak naik cemas memegangi dadanya.Hueeek!Maudy membungkuk dalam-dalam, menahan gejolak mual yang amat dahsyat yang mendadak mencengkeram perutnya."Maudy!" pekik Bayu panik setengah mati. Pertengkaran dan ketegangan di dapur seketika sirna dari pikirannya. Pria itu langsung merengkuh bahu istrinya erat-erat."A-aku mual, Mas... mual sekali..." rintih Maudy dengan suara yang amat serak."Maudy! Anakku!" seru Ibu Maudy, melangkah tergesa-gesa mendekati mereka dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas luar biasa. "Tuh kan! Kamu kelelahan dan stres gara-gara kejadian ini!"Hueeeek!Maudy kembali terbatuk hebat, menutup mulutnya dengan jemari yang bergetar
Sinar cahaya lampu dapur yang mendadak terang benderang itu terasa menelanjangi suasana di ruangan tersebut. Hening seketika mencekam, hanya diselingi napas Cindy yang tersengal pelan di dalam dekapan Bayu.Menyadari sorot lampu yang menyengat dan banyak pasang mata yang menatap mereka, terutama raut wajah Ibu Maudy yang mendadak berubah mengerikan, kesadaran Cindy seketika terhentak bangun. Rasa pusing yang menghantam kepalanya mendadak menguap, berganti dengan rasa takut dan panik yang luar biasa.Dengan sisa-sisa tenaga dan gerakan yang sangat panik, Cindy berusaha sekuat tenaga mendorong dada Bayu untuk melepaskan diri dari papahan pria itu."M-mas... lepas..." bisik Cindy panik, suaranya gemetar hebat."Cindy, diam dulu, kaki kamu nanti kena kaca!" tahan Bayu."Tidak, Mas! Aku bisa berdiri sendiri!" potong Cindy dengan cepat.Cindy mencoba berdiri merambat pada tepi meja bar. Tangannya gemetaran, matanya bergerak liar menatap orang-orang yang mengepung area dapur."Ibu...
Dering jam dinding di ruang tengah menandakan pukul dua dini hari. Keheningan malam menyelimuti seluruh sudut kediaman rumah Bayu. Semua penghuni rumah telah terlelap dalam mimpi masing-masing, larut dalam kelelahan setelah seharian diwarnai berbagai kejadian.Di kamar tamu lantai bawah, Cindy terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan panas. Efek samping obat-obatan medis yang diminumnya tadi malam membuat rasa haus melilit kerongkongannya. Ia menatap botol air mineral di atas nakas sebelah ranjangnya, namun cairan di dalamnya terasa hangat dan kurang menyegarkan. Cindy merindukan seteguk air es yang dingin untuk membasahi tenggorokannya yang dahaga.Dengan gerakan amat pelan dan berhati-hati, Cindy menyibak selimutnya. Ia berdiri perlahan, meraba dinding kamar untuk menopang tubuhnya yang masih agak gontai, lalu melangkah keluar kamar menuju arah dapur utama.Pada saat yang bersamaan, di kamar tidur utama lantai atas, Bayu mendadak terbangun. Pria itu mengusap l
Ibu Maudy memegang erat kedua tangan anaknya. Matanya menatap Maudy tajam, memancarkan kepanikan seorang ibu yang tak ingin kehidupan rumah tangga putrinya koyak."Pikirkan lagi, Maudy," desak Ibunya dengan suara bergetar.Maudy tertegun. Kata-kata ibunya barusan seperti godam yang menghantam dadanya."Tapi itu dulu, Bu..." bisik Maudy, suaranya mendadak menyusut pelan."Dulu atau sekarang, perasaan lama itu bisa tumbuh lagi!" pangkas sang Ibu cepat."Mas Bayu cuma menganggapnya adik...""Perempuan mana yang tahan diabaikan pria seperti Bayu?" cecar Ibunya. "Gagah, mapan, dan perhatian!"Maudy menunduk. Bayangan masa lalu mendadak terlintas di benaknya. Dulu, sebelum mereka menikah, ia memang pernah mendengar cerita betapa Cindy begitu mengagumi sosok Bayu.Dada Maudy mendadak terasa sesak. Keraguan kecil mulai merayap halus memanjati pikirannya."Kamu sedang hamil empat anak kembar, Maudy," bisik Ibunya lagi, makin memojokkan pikiran Maudy."Iya, Bu...""Kondisimu sedang l
Roda mobil MPV hitam itu akhirnya berhenti sempurna di bawah kanopi teras utama yang megah. Pintu geser otomatis terbuka perlahan, menyapa sejuknya udara sore di pelataran rumah.Ibu Maudy, yang sejak tadi menunggu di balik pintu ruang tamu, segera melangkah keluar dengan senyuman hangat di wajahnya. Namun, begitu langkah kakinya mendekati mobil, raut wajahnya mendadak berubah kaku. Senyumannya menyusut drastis saat melihat sosok wanita muda berwajah pucat yang melangkah keluar dibantu oleh Suster Maya. Wanita itu adalah Cindy.Ibu Maudy tertegun. Matanya membelalak pelan, melirik Bayu dan Maudy secara bergantian. Keheranan dan rasa tidak setuju terpancar jelas di bola matanya. Namun, sebagai wanita paruh baya yang sarat akan tata krama, beliau dengan cepat menahan diri. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun yang memicu suasana kaku di depan Bayu maupun Cindy."Mari, Bu Cindy. Kamar tamunya sudah siap di sebelah sana," tutur Suster Maya dengan ramah, memapah Cindy menyusuri lorong
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







