Share

123. Ribuan Lebah

Author: Leva Lorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-20 10:13:20

Ronald mengeluarkan tubuhnya dari kungkungan terbalik Bianca dengan gerakan yang sangat cepat.

Tusukan benda silikon yang sejenak terhenti itu seketika membuat Bianca mendesah kecewa karena gairahnya yang sudah hampir di puncak seolah dibiarkan menggantung begitu saja di awang-awang.

"Ron, kok berhenti?! Tanggung banget ini!" protes Bianca dengan napas yang terputus-putus, tubuhnya masih gemetar hebat menuntut penuntasan.

Ronald tidak menjawab, ia bergerak cepat memposisikan dirinya di belakan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   166. Memberi Jatah Enam Pewaris Cantik

    "Aku tahu selama ini kalian anggap aku cuma parasit kecil yang kerjanya cuma bisa nyinyir. Tapi kalian salah besar. Kenyataannya jauh lebih mengerikan dari itu," ucap Septa dengan suara yang bergetar namun penuh dengan tekanan emosional yang selama ini ia pendam sendirian.Septa mengeluarkan sebuah ponsel dari saku gaunnya yang ketat, lalu dengan jemari yang gemetar ia membuka beberapa folder tersembunyi. Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kayu di tengah ruangan, memperlihatkan beberapa foto dan memutar sebuah rekaman suara yang nampak diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik celah pintu."Aku selama ini diam karena aku takut, Ron! Aku takut kalau aku buka mulut, aku bakal jadi korban selanjutnya yang muntah darah hitam di mansion itu!" lanjut Septa sembari menunjuk ke layar ponselnya. Di sana terlihat foto Diana, wanita yang selama ini mereka pikir paling lembut dan penakut, tengah menuangkan serbuk halus ke dalam botol suplemen milik Pak Hermanto.Keempat wanita lainnya, May

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   165. Saksi Tak Terduga

    "Itu bisa saja terjadi. Kita lupa kalau ada orang-orang penting di dua perusahaan itu yang mungkin punya ambisi tersembunyi," kata Maya sembari menyandarkan punggungnya di sofa, membuat bulatan sekalnya yang montok sedikit bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang gelisah.Ronald mengangguk, namun raut wajahnya tetap menunjukkan keraguan yang mendalam. Ia mengusap dagunya sembari memandangi keempat wanita cantik itu secara bergantian. "Kemungkinan itu memang ada, tapi yang perlu kita ingat adalah alat pembunuhan ini berupa racun yang harus masuk melalui makanan atau minuman yang mereka konsumsi secara langsung. Itu artinya pelakunya harus punya akses yang sangat privasi," ucap Ronald dengan nada bariton yang menegangkan."Kalau Pak Hermawan mungkin bisa mereka dekati saat jam kantor atau makan siang bisnis, tapi bagaimana orang luar bisa menjangkau Pak Hermanto dan Bu Hermin yang minim interaksi dengan perusahaan? Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam mansion atau di lingk

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   164. Daftar Kemungkinan

    "Siapa yang paling punya kemungkinan buat ngelakuin itu, Ron? Kasih tahu kami biar aku sendiri yang habisi dia sekarang!" tanya Bianca dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, sorot matanya yang liar nampak berkilat penuh amarah yang tertahan.Ronald menggeser posisi duduknya agar lebih tegak, membuat otot lengannya yang kekar nampak semakin menonjol. Ia menatap keempat wanita cantik di hadapannya dengan tatapan yang sangat dalam dan serius. "Kita akan coba menganalisa satu persatu biar nggak salah langkah. Kita mulai dengan Septa. Menurut kalian, bagaimana dengan Septa?" ucap Ronald membuka diskusi."Septa emang terlihat licik dan culas sejak dulu. Tapi dia itu masih di bawah umurku, pengalamannya belum seberapa. Menurutku, dia nggak bakal seberani itu buat ngerencanain pembunuhan berantai dalam keluarga sendiri," ujar Bianca sembari menyandarkan punggungnya, membuat gumpalan daging di dadanya sedikit terangkat."Aku juga kurang yakin jika Septa pelakunya. Meskipun dia egois, tapi p

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   163. Tenangkan Diri Kalian!

    "Katakan, Ron. Apa yang bisa kami bantu buat kamu?!" ucap Lia lembut sembari memperbaiki posisi duduknya, menatap Ronald dengan sorot mata yang kini sepenuhnya patuh dan penuh kedekatan emosional.Ronald pun melangkah mendekat dan duduk di sofa panjang bersama mereka. Posisi duduknya berada di tengah-tengah, diapit oleh Maya dan Citra, sementara Bianca dan Lia berada di sisi lainnya. Kehadiran Ronald yang begitu terlihat serius membuat keempat wanita cantik itu secara otomatis memberikan perhatian penuh."Ada rahasia yang perlu kita selidiki kebenarannya. Ini menyangkut nyawa dan masa depan mansion kalian sendiri," ucap Ronald pelan dengan nada bicara yang sangat serius, membuat suasana di dalam rumah singgah itu mendadak berubah hening."Apa itu, Ron? Kamu jangan bikin kami penasaran dong! Katakan saja, kami semua di sini ada di pihak kamu," ucap Maya manja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Ronald, tangannya tanpa sadar mengelus lengan berotot sang caretaker.Citra dan Bianca

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   162. Diskusi Penting

    Ronald sedikit tersentak mendengar pertanyaan Diana yang terdengar sangat tulus dan penuh kekhawatiran. Ia paham jika semua wanita di ruangan itu merasa cemas padanya, mengingat betapa dominannya sosok anak-anak Bu Hermin tersebut. Namun, keingintahuan Diana yang biasanya berkarakter pendiam, pemalu, dan mudah gugup itu terdengar sedikit tidak sinkron dengan kepribadiannya yang selalu berusaha menghindar dari konflik.Ia seperti sedang mengkhawatirkan keselamatan seorang kekasihnya dan merasa ada ikatan batin di sana."Oh, tidak ada kejadian apa-apa yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya beruntung saja karena berhasil meruntuhkan ego mereka semalam dengan cara yang tepat. Mereka ternyata cuma butuh sedikit pendekatan yang berbeda," kata Ronald kemudian dengan nada tenang, mencoba meyakinkan para wanita yang masih menatapnya penuh selidik.Mendengar penjelasan itu, Arumi dan Diana tampak bernapas lega. Ketegangan di bahu mereka mengendur, dan rasa takut yang tadinya menghantui perlahan

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   161. Menyelinap Diam-diam

    "Justru kalian yang aneh. Kami bersikap biasa kok malah kalian kaget? Apa rindu sama kesombongan kami? Mau aku marahin lagi kayak kemarin?" Maya memainkan alisnya sembari melempar senyum tipis yang tak lagi mengandung kebencian, melainkan godaan santai yang membuat suasana meja makan semakin terasa aneh."Eh bukan gitu, Kak May. Kami cuma agak kaget aja karena perubahannya drastis banget. Kemarin kan kalian berdua ngeri banget kayak mau makan orang," sahut Bianca buru-buru merevisi perkataannya agar tidak menyinggung perasaan Maya. Ia sedikit merapikan letak tanktop hitamnya yang membuat gundukan daging di dadanya menyembul separuh.Arumi yang paling senior di antara para wanita itu pun mencoba menengahi dengan lebih bijak. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, lalu menatap Maya dan Lia dengan pandangan keibuan. "Wahh, bagus dong kalau kalian berdua bisa membaur gini. Jujur ya, aku rindu sama si imut Maya dan Lia yang dulu sering aku gandeng buat berangkat ke sekolah."Lia tersenyum l

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   5. Saling Curiga

    Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   4. Upaya Mendisiplinkan

    Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   3. Fakta Baru

    Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh,

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   2. Keunikan Para Penghuninya

    “Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Mes

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status