แชร์

Bab 7. Menjadi Luna?

ผู้เขียน: J.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-15 22:51:13

Suara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang.

"Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan.

Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi.

"Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang.

Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti."

Napas Freya tersendat di tenggorokan, membuat perutnya mual. Pertemuan? Bersama dia? Pikirannya berputar kencang, mencoba menerka peran apa yang bisa ia mainkan dalam urusan penting seperti itu. Namun sebelum sempat mengumpulkan akal, suara Logan kembali menohok, kali ini lebih tajam, sarat peringatan.

"Jangan salah artikan ini sebagai kebaikan hatiku," ucapnya dingin. "Satu-satunya alasan aku memberimu kelonggaran selama ini karena Samantha memohon atas namamu. Tapi masa-masa mudahmu sudah berakhir, omega. Mulai sekarang, bersiaplah."

Ketegasan dalam nada itu menghantamnya bagaikan pukulan telak. Ia tak perlu penjelasan lebih—ia sangat paham apa maksudnya. Masa tenggang telah usai. Hal yang tak terhindarkan tak bisa lagi ditunda.

Di seberang meja, Eve terlihat gelisah meski cepat-cepat merapikan raut wajahnya, menyembunyikan kecemburuan atau kegelisahan yang sempat terlintas. Jemarinya mengencang di sekeliling gelas anggur. Meski tersenyum kecil pada Logan, ada ketajaman aneh di matanya saat melirik ke arah Freya.

Samantha yang merasakan ketegangan semakin memadat, diam-diam meraih tangan Freya di bawah meja dan menggenggamnya erat. "Makanlah," bisiknya lembut. "Jangan hiraukan."

Tapi Freya sudah tak bisa lagi merasakan makanan. Perutnya mual oleh cemas, seleranya lenyap seketika. Ia paksa dirinya mengunyah dan menelan, namun setiap suapan terasa seperti batu kasar yang tersangkut di kerongkongan.

Saat hidangan usai, Samantha pamit pada Alpha dengan anggukan sopan sembari menarik Freya pergi. Freya mengikuti dengan langkah berat, kepala terus menunduk.

Begitu pintu kamarnya tertutup di belakang mereka, Samantha segera berbalik. "Freya, ada apa? Wajahmu pucat sekali."

Freya menggeleng, menekan telapak tangan ke dadanya. "Tidak apa-apa."

Samantha mengerutkan dahi. "Kalau soal Eve, abaikan saja. Kau tahu sifatnya. Dia senang melihat orang lain tak nyaman."

Freya tersenyum tipis, letih. "Bukan Eve."

"Lalu?" desak Samantha, matanya mengamati wajah Freya dengan cemas.

Freya ragu. Kata-kata menggejolak di dalam batin namun tak kunjung bisa tersusun rapi. Akhirnya, ia berbisik, "Aku hanya... berharap bisa punya apa yang kau miliki. Pasangan sejati. Seseorang yang memilihku, bukan karena hutang, bukan karena kewajiban, tapi karena dia menginginkanku. Karena dia... mencintaiku."

Suaranya pecah di kata terakhir. Ia cepat membalikkan badan, memeluk dirinya sendiri.

Ekspresi Samantha luluh. Ia mendekat, meletakkan tangan lembut di bahu Freya. "Tapi Alpha... dia tak memperlakukanmu dengan buruk. Dia tak memaksamu apa pun, bahkan tak menganggapmu seperti—seperti mesin reproduksi. Dia menghormatimu lebih dari kebanyakan Alpha lain. Apa kau tak sadar? Bisa jadi kau akan menjadi Luna suatu hari nanti."

Freya tersentak, menggeleng keras. "Bukan itu yang kuinginkan, Samantha. Bukan dengan cara begini. Jika aku jadi Luna, seharusnya karena aku dipilih, karena aku dicintai. Bukan karena dijual seperti ternak, pelunasan hutang ayahku. Kau paham? Tempat ini memberiku makan, memberiku atap, tapi itu bukan kebebasan. Ini tetap penjara."

Kejujuran mentah dalam ucapannya membuat Samantha terpaku cukup lama. Akhirnya, ia menghela napas, bahunya merosot. "Aku mengerti," ucapnya lirih. "Sungguh, aku paham. Tapi tetap saja, kau harus tenang, Freya. Jangan biarkan keputusasaan melahapmu hidup-hidup. Kau lebih kuat dari yang kau kira."

Freya tak menjawab. Ia berjalan ke jendela dan duduk di bangku panjang di bawahnya. Udara malam yang sejuk menerpa, membawa aroma pinus dan asap kayu bakar dari kejauhan. Matanya menerawang ke cakrawala yang diterangi rembulan, di mana area pak berkelap-kelip oleh cahaya obor.

"Aku penasaran," gumamnya hampir tak terdengar, "seperti apa ya dunia manusia itu?"

Kepala Samantha menoleh cepat, matanya membelalak. "Apa?"

Freya menoleh sedikit, senyum tipis mengembang di bibir meski matanya tetap sendu. "Bertahun-tahun aku membayangkannya. Bagaimana rasanya hidup tanpa serigala, tanpa ikatan yang membelenggu hidup mereka. Bagaimana rasanya bangun tanpa aturan pak, hidup seperti mereka, punya pilihan."

"Freya!" desis Samantha, bergegas menutup jendela. Ia berbalik, menurunkan suaranya dengan panik. "Jangan pernah ucapkan hal seperti itu lagi. Kau dengar? Itu terlarang, benar-benar terlarang. Kau tahu apa yang bisa terjadi kalau ada yang mendengarmu?"

Freya mengangkat dagu dengan keras kepala. "Aku tahu itu terlarang. Aku pernah membacanya dulu, saat masih di Silverfang. Aku ke perpustakaan kuno dan menemukan gulungan, kisah tentang dunia manusia—bagaimana mereka berkembang, bagaimana dunia mereka berbeda dari kita. Mereka bilang kita tak boleh memasuki dunia mereka, tapi aku sering memimpikannya. Bagaimana jika ada kehidupan lain di luar sana selain siklus tanpa akhir ini—melahirkan dan mengabdi pada pak? Bagaimana jika..." Suaranya menghilang, tenggorokannya tersekat oleh kerinduan yang entah sejak kapan bersemayam di sanubari.

Samantha menatapnya, untuk sesaat kehilangan kata-kata. Lalu ia menggeleng tegas. "Tidak. Hentikan. Aku tak mau dengar lagi. Kau tak paham bahayanya pikiran seperti itu. Serigala yang bermimpi pergi, yang mencoba menyeberang ke dunia manusia—tak ada yang kembali. Itu gila. Jangan pernah singgung lagi."

Freya diam, tapi secercah pemberontakan masih berpendar di matanya. Ia kembali menatap jendela, menyandarkan dagu di lutut, memandang keluar ke dalam gelap malam seolah mencari sesuatu yang jauh di balik tembok Northridge.

Samantha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, gelisah. Ia bisa merasakan pembicaraan ini memasuki wilayah berbahaya, wilayah yang tak siap ia jelajahi. Maka ia membiarkannya berakhir di sini, pergi meninggalkan Freya dengan hening, meski hatinya memberat oleh kekhawatiran.

Dan Freya, sendirian dengan lamunannya, membiarkan dirinya berandai—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—apakah takdirnya benar-benar terikat pada dunia serigala, ataukah ada takdir lain yang menanti...??

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 97 (BAB AKHIR)

    Fajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 96.

    Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 95

    Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 94.

    Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 93

    Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 92

    Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 6. Adik Angkat Arogan

    Enam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-an

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 5. Tak Ada Jalan Keluar

    Selama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 4: Sang Pembiak

    ​Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 3: Pelunasan Utang

    ​Nyala lilin di aula besar itu bergetar pelan, memanjangkan bayangan di dinding batu yang dingin dan lembap. Richard menuangkan anggur ke dalam cawan Beta Xavier dengan tangan yang sedikit gemetar, hingga beberapa tetes cairan merah itu tumpah ke meja kayu.​"Kau tahu, Beta," buka Richard dengan se

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status