INICIAR SESIÓNUjung sepatu kulit Leo menapaki lantai keramik lobi Puskesmas Elite. Pagi itu, tumpukan berkas pasien sudah memenuhi meja kayu resepsionis."Kosongkan seluruh bangsal timur sekarang juga," perintah seorang pria berjas abu-abu terang dari balik meja pendaftaran.Pria itu meletakkan sebuah koper logam berukuran sedang. Tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu menyembul dari sela koper yang terbuka sebagian.Maya menghitung uang tersebut dengan tatapan datar. Janda kembang itu memutar tubuhnya saat melihat Leo berjalan mendekat."Tamu VVIP dari ibu kota Megantara baru saja memonopoli bangsal timur kita, Tuan," lapor Maya menyerahkan selembar formulir."Siapa yang sakit?" tanya Leo melangkah mendekati meja."Seorang aktris televisi bernama Bella," jawab Maya memelankan suaranya. "Manajernya bilang dia butuh isolasi total dari media selama satu minggu penuh."Leo mengangguk pelan menerima formulir tersebut. Langkahnya berbelok menuju lorong utama untuk memeriksa kondisi fasilitas rawat ina
Tangan Leo menarik paksa sisa seragam perawat Ayu hingga terlepas sepenuhnya. Kain putih itu jatuh menumpuk menutupi sepatu kulitnya di lantai tanah berbatu.Ayu meremas seprai tipis yang melapisi ranjang lipat besi tersebut. Tubuh polos wanita itu kini terekspos langsung di bawah cahaya lampu tenda darurat."Kalian berdua terlalu banyak bicara tadi," ucap Leo menatap tajam kedua asistennya.Kania tidak membuang waktu lebih lama. Gadis desa itu melucuti seluruh sisa pakaiannya dan membuangnya ke sudut ruangan.Ia merangkak naik ke atas ranjang dan langsung memposisikan dirinya di sisi kiri Leo."Aku akan membuktikan taruhanku malam ini, Tuan," bisik Kania dengan napas memburu.Tangan Kania mulai memberikan sentuhan konstan pada otot perut bagian bawah Leo. Jari-jarinya bergerak dengan teknik presisi, meniru cara Leo memanipulasi titik saraf para pasiennya selama ini.Ayu mengambil posisi di sisi kanan ranjang. Ia memfokuskan pijatannya pada pangkal paha Leo menggunakan sisa salep pend
Kain terpal hijau penyekat tenda P3K bergeser terbuka. Leo melangkah masuk mendahului kedua asisten medisnya.Udara di dalam tenda darurat itu terasa hangat dan berbau alkohol medis. Sebuah ranjang lipat besi diletakkan memanjang di bagian tengah ruangan.Kania menutup tirai terpal itu kembali dan mengikat talinya rapat-rapat. Bidan Ayu berdiri membelakangi pintu masuk, tangannya bertumpu pada meja peralatan medis."Duduklah di ranjang, Tuan Leo," instruksi Kania membuka kotak bedah minornya. "Aku akan membersihkan serpihan kaca di telapak tanganmu."Leo duduk santai di tepi ranjang besi. Matanya menatap tajam gerak-gerik kedua wanita di depannya.Gadis desa itu berjongkok di antara kedua kaki Leo. Tangan Kania dengan cekatan meneteskan cairan antiseptik ke atas luka sayatan."Gerakan tanganmu sudah mulai presisi, Kania," puji Leo datar.Ayu berbalik dari meja perlengkapan. Wanita berhijab itu memegang sebuah botol salep pendingin otot."Aku akan membantu merelaksasikan lengan kananmu
Leo tidak memberikan respons verbal. Langkah panjangnya langsung membelah kerumunan warga menuju area pameran yang gelap.Kania berlari kecil mengikuti dari belakang, tangannya mencengkeram ujung kemeja Leo dengan erat.Panggung utama masih menyiarkan musik dangdut dengan dentuman bas yang memekakkan telinga. Suara keributan di sudut pasar malam itu nyaris tak terdengar oleh warga lainnya.Leo menghentikan langkah sepatunya lima meter dari stan pameran teh milik desa.Tiga pemuda berandal tampak berdiri sempoyongan di depan meja bambu yang sudah hancur berantakan. Pecahan cangkir keramik dan daun teh berserakan di atas tanah.Pemuda yang paling besar mencengkeram kerah baju Sekar dengan satu tangannya. Tangan lainnya memegang pecahan botol minuman keras berbahan kaca hijau."Berikan kami uang kas pameran ini, Janda Sombong!" teriak pemuda besar itu dengan napas bau alkohol."Lepaskan aku, Bajingan!" ronta Sekar memukul lengan pria itu sekuat tenaga.Kania menahan napasnya melihat pema
Tangan Leo merenggut gaun merah marun itu hingga meluncur jatuh menumpuk di atas ubin semen. Kulit punggung Wulan terekspos langsung di bawah cahaya bohlam redup.Permukaan meja kayu berderit pelan menahan bobot tubuh wanita tersebut."Kita harus menyusun jadwal pengisi panggung untuk besok pagi," suara bariton Pak RT terdengar sangat dekat dari arah luar.Langkah sepatu bot beberapa pria berhenti tepat di balik dinding triplek. Jarak mereka hanya terhalang selembar papan kayu setebal tiga milimeter.Wulan membelalakkan matanya ngeri. Tangan wanita itu mencengkeram lengan kemeja Leo dengan gemetar."Tolong, pindah dari sini," bisik Wulan terbata-bata. "Mereka akan mendengar suara kita.""Kau yang memilih ruangan ini," balas Leo datar. Pria itu menyisipkan tubuhnya tepat di antara kedua paha Wulan.Jari Leo menekan titik meridian di sekitar panggul dan paha dalam Wulan. Manipulasi saraf itu menghasilkan gelombang panas yang merusak kendali motorik sang janda.Wulan menengadahkan wajahn
Maya meletakkan setumpuk map pasien ke atas meja kaca dengan bunyi bantingan keras. Janda kembang itu menatap Wulan dengan pandangan permusuhan yang tak disembunyikan.Kania masuk ke lobi puskesmas membawa daftar perlengkapan panggung. Gadis desa itu berhenti mematung melihat kedekatan posisi Wulan dengan bosnya."Tuan Leo harus menghadiri gladi bersih festival desa nanti malam," sela Kania dengan nada tidak terima.Wulan melirik Kania sekilas dari balik bulu matanya yang lentik. Janda kota itu sama sekali tidak menganggap asisten medis tersebut sebagai ancaman."Balai desa adalah lokasi gladi bersih kalian, bukan?" balas Wulan santai. "Kebetulan sekali. Ruang gantinya kedap suara dan cocok untuk relaksasi otot."Leo mengangkat tangan kanannya ke udara, menghentikan protes Kania yang baru akan keluar dari mulutnya."Jam delapan malam. Siapkan dokumen kontraknya," putus Leo mutlak. Pria itu berbalik arah dan kembali masuk ke ruang VIP-nya tanpa basa-basi.Wulan tersenyum menang melihat







