LOGINDewi istri berhati lembut dan sempurna untuk suaminya. Tapi lelaki tidak tahu diri itu memilih menghianati istrinya dengan menjalin tali kasih rahasia dengan mantan kekasihnya semasa SMA. tapi di kantor Dewi adalah atasan dari suaminya maka dengan berbagai cara dia mulai membalas dendam dan mengungkap semua aib lelaki itu serta kejahatan dan korupsinya hingga membuat lelaki itu kehilangan pekerjaan dan putus dari kekasihnya yang tiba-tiba saja hamil.
View More"Please. Just... please."
The words didn't leave my mouth. They died in my throat, strangled by the same terror that made my knees knock together. I was backed against the kitchen counter, the laminate edge digging into the small of my back.
Crash.
My mother’s favorite ceramic vase—the only thing I had left of her—shattered against the floor. A dozen blue shards skidded across the linoleum, coming to rest near the heavy, mud-caked boots of the man standing in my living room.
"Your brother’s a ghost, kid," the big one snarled. His name was Miller, and he smelled like stale cigarettes and cheap adrenaline. He kicked a kitchen chair aside. It hit the wall with a sickening crack. "And since Leo isn’t here to pay, you’re the collateral."
I shook my head, my hands trembling as I lifted them to sign. I don’t know where he is. Please, I don’t have any money.
Miller laughed, a dry, rasping sound. "I don’t speak hand-jive. Use your mouth or use your wallet. Oh, wait. You can’t do either, can you?"
He lunged.
I flinched, eyes slamming shut, my breath coming in jagged, shallow hitches. My lungs felt like they were filling with sand. This was the "low-status" reality of Rafferty Thorne: a mute boy in a crumbling apartment, waiting for a blow that he couldn't even scream to stop.
His hand gripped my shirt collar, twisting the fabric until it choked me. I was lifted off my toes. The air left me. My vision blurred, the edges of the room turning a fuzzy, bruised purple.
"Hey! Let him go!"
The front door didn't just open; it exploded inward.
The pressure on my throat vanished. I slumped to the floor, gasping, my hands flying to my neck. Through the tears stinging my eyes, I saw him.
Ignatius.
He didn't look like a savior. He looked like an omen. His tailored black overcoat caught the hallway light, casting a long, sharp shadow that cut across the wreckage of my home. He was Leo’s best friend, the man my brother spoke of with a mix of awe and fear.
"Ignatius?" Miller’s voice lost its edge, replaced by a frantic, high-pitched quiver. "We didn’t know the Thorne kid was under your—"
"You’re breathing my air," Ignatius interrupted. His voice was low, a smooth velvet that hid a razor blade. He didn't raise his voice. He didn't have to.
He walked into the room, stepping over the shards of my mother’s vase without looking down. He pulled a checkbook from his inner pocket, his movements slow and deliberate. The scratching of his pen was the only sound in the suffocating silence.
He ripped the paper off and held it out between two fingers.
"This covers Leo’s debt. And the rest of the building," Ignatius said. "Leave. If I see your shadows on this street again, you won't need a debt collector. You’ll need a priest."
Miller grabbed the check and scrambled out, his partners tripping over their own feet to follow. The door clicked shut.
Silence returned, heavier than before.
I was still on the floor, my chest heaving, the adrenaline leaving my limbs like receding tide water. I felt small. Pathetic. A broken thing in a broken room.
Ignatius knelt in front of me. The scent of sandalwood and expensive rain filled my senses. He reached out, his thumb brushing a tear from my cheek. His touch was warm—distractingly warm.
"Raffy," he whispered. "Look at me."
I lifted my gaze. His eyes were a piercing, stormy grey. For a second, a small flame of hope flickered in my chest. He had saved me. He was the only person who looked at me and didn't see a "broken" boy.
He leaned in closer, his breath ghosting over my ear. The warmth of his body was a shield against the cold apartment. I wanted to bury my face in his shoulder and cry.
"You’re safe now, Raffy," he murmured. The kindness in his tone made my heart stutter. "But your brother... Leo can never know I paid this. Not a word."
He pulled back just enough to look me in the eye. The "Saint" I saw seconds ago was gone. His grip on my shoulder tightened, just a fraction too much to be comforting.
"It’s our little secret," he said.
Setelah proses panjang di kantor polisi disertai usaha yang maksimal dari pengacara untuk membela akhirnya Mas Roni di lepaskan. Keputusan polisi dibuat berdasarkan penyelidikan mereka selama ini. Laporan Dana yang memiliki tidak cukup bukti, dan tidak mampu menghadirkan saksi membuat semua argumen dan tuduhan terpatahkan.Aku bahagia sekarang karena bisa menjemput suamiku dengan lega setelah dua minggu ia ditahan di rumah tahanan kantor polisi.Setelah rumah rangkaian kejadian dan ketegangan, kemarin-kemarin aku masih ketakutan, nyaris tidak mampu memejamkan mata tiap malam, aku benar-benar khawatir jika Mas Roni akan ditahan di penjara selama bertahun-tahun karena tuduhan pembunuhan tersebut. Dana melaporkan Mas Roni dengan tuduhan sengaja merencanakan pembunuhan terhadap ibu Audrey yang memiliki sakit kronis yang sudah sulit disembuhkan.Ia memberi keterangan bahwa Mas Roni sengaja menyuruhnya untuk memberi mendiang istrinya obat dengan dosis tinggi.Nun setelah diteliti, t
Ketukan di pintu rumah yang terus berganti dan terdengar berkali-kali membuat kamu terpaksa menghentikan makan malam dan meletakkan sendok kami lalu menuju pintu utama untuk menemui siapa yang datang."Selamat malam, apakah ini rumah Pak Roni Setiawan?" tanya mereka yang ternyata telah kulihat adalah 4 orang anggota polisi."Iya betul, Ada apa Pak?" tanyaku dengan hati-hati."Kami membawa surat penahanan atas tuduhan penganiayaan secara perlahan dan penggelapan uang."Aku sedikit mengernyit mendengarnya namun aku harus bersikap hati-hati juga."Siapa yang melaporkan Pak? kalau Boleh saya tahu," sambungku lagi."Ituu bukan wewenang kami untuk membeberkan di sini. Jika ingin tahu keterangannya, kalian bisa ikut kami ke kantor untuk sementara kami harus membawa Pak Roni untuk memeriksanya," jawab mereka."Saya harus tahu penganiayaan dan penggelapan uang siapa yang telah dilakukan oleh suami saya?" Aku berusaha menahan."Kepada Nyonya Eriska almarhum istrinya."Deg!Jantungku terasa ingi
"Selamat pagi sayang," ujar suamiku yang terlihat telah segar, ia menghampiriku di meja makan."Pagi, Mas.""Kamu masak apa buat sarapan sayang," tanyanya lembut."Roti bakar isi telur dan nasi goreng sosis.""Aku selalu kagum, kau istrinyang tidak pernah membiatkan suami memakan masakan wanita lain. Sejak kita menikah kau selalu memasak sayang," ucapnya sambil tersenyum."Aku harus memberi kesan dengan memanjakan perut Mas.""Kau memang telah memenangkan hatiku Sayang." Ia menarik tanganku lalu membawa tubuh ini ke pangkuannya."Aku mencintaimu, Dewi." Ia mengatakan itu lalu mencium pipiku."Cie, Papa dan Tante romantis sekali," ujar anak kami. Melihatnya datang aku segera bangkit dan pindah duduk di kursi."Kamu ke sekolah bareng Papa ya, Sayang.""Gak usah Tante, aku bawa motor.""Ya udah gak apa-apa. Tapi, hati-hati ya," ucapku dan balasnya olehnya dengan anggukan kepala.*Kulirik jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tak biasanya jam seperti ini suami dan anak tiriku itu belum
"Berikan saja kedua cincin ini kepada Dana, nilainya sama dengan uang yang dia inginkan ucapkan menyerahkan perhiasanku pada pada suamiku."Tapi, ini adalah cincinmu, cincin yang aku berikan sebagai mahar pernikahan kita." Ia ingin mengembalikan benda itu."Tidak apa, aku akan memberikan apapun untuk menyelamatkan Audrey.""Dewi ... Maafkan Aku...."Ia berusaha menghampiri untuk menggenggam tanganku namun, kutepis sambil memundurkan diri."Kita akan bicarakan ini nanti, yang paling penting adalah pergilah jemput Audrey," ulangku sekali lagi.Seiring dengan suara mesin mobil yang menghilang dari halaman rumah, aku hanya mampu menjatuhkan diri tidak berdaya.Dadaku sesak, hatiku perih, hingga tenggorokanku sakit, ingin menangis tapi tak tahu untuk apa. Aku kesal tapi tidak tahu harus melampiaskan pada siapa. Takdir telah membawaku untuk menerima Mas Roni sebagai suami, maka aku pun harus menjalani semua ini dengan berbesar hati.Mendengar kenyataan tadi, kenyataan yang membuatku
***Pesan pada tanggalDua puluh empat, Mei 2018[Aldo, ada rasa terkejut ketika pertama kali pak CEO mengenalkanmu padaku sebagai partner kerja dari perusahan pusat.Ada rasa bahagia menemukan sahabat lama yang memang sudah lama kurindukan. Kau begitu sukses dan berhasil membangun karier, aku turu
***Hari ini, setelah dua tahun hanya berdua di rumah sebagai ibu rumah tangga, aku putuskan untuk kembali bekerja dan membangun kembali karierku yang sempat 'mandeg' karena keinginan mas Aldo yang memintaku untuk serius mengurus rumah dan melahirkan buah hati. Ada rasa miris ketika mengeja kata
***Kicau burung dan cahaya mentari yang membias menyadarkan lamunanku. Dari semalam, sejak aku kembali dari rumah wanita itu, aku hanya termangu di ruang tamu menatap nyalang pada pigura yang menampilkan photo pernikahan kami, dengan ekspresi paling indah, bahagia.Kontras kalimat cinta dan setian
**Mereka begitu dekat dan mesra. Bak kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Suamiku memeluk pinggangnya dan tangan yang satunya membelai bagian belakang wanita itu dari balik gaun punggung terbukanya. Sedangkan si wanita melingkarkan kedua tangannya di leher Mas Aldo. Mereka saling pandang dan la












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews