FAZER LOGINStefani Sauvone, gadis berusia 21 tahun yang harus melewati lika-liku kehidupan yang rumit, sejak lulus sekolah Stefani harus melawan kerasnya dunia, hidup mandiri untuk memenuhi tuntutan keluarga. Hingga akhinya ia mulai bekerja di sebah perusahaan property, tuntutan kerja semakin membuatnya tertekan. Bahkan membuatnya harus rela melakukan segala hal yang tak pernah ia perbuat. Keaadaan itu membawa Stefani bertemu dengan Albert Wiliams, seorang laki-laki dewasa yang sudah mempunyai seorang istri. Niat awal Stefani mendekati laki-laki itu murni untuk pekerjaan, namun siapa sangka, sikap Albert Wiliams yang lemah lembut dan penuh perhatian menumbuhkan benih cinta dalam hati Stefani. Lantas bagaimanakah kisah hubungan beda usia dan status tersebut? Akankah Stefani mengubur perasaannya, atau justru semakin terjerat oleh Pesoan CEO kesepian itu!?
Ver maisCuaca pagi itu memang cerah, tetapi tak ada sinar yang mampu menembus mendung yang menyelimuti hati Stefani, gadis berambut panjang yang bekerja sebagai sales villa mewah. Langkahnya gontai, seakan tiap tapak menghitung mundur detik-detik keputusasaan yang menari dalam benaknya.
Stefani memasuki gedung megah tempat ia bekerja, sebuah konstruksi batu yang terasa seperti penjara bagi ambisinya yang layu. Bibirnya masih dapat menyunggingkan senyum, semburat merah muda yang dipaksakan sebagai topeng profesionalisme. Dengan kepala tertunduk, ia memberikan sapaan hormat kepada para senior, yang hanya membalasnya dengan lirikan sepi, seperti ombak yang enggan menyapa pantai. "Selamat pagi, Bu," gumamnya lembut, suara yang tenggelam dalam hiruk pikuk pagi. Stefani menarik napas dalam, merasa tercekik oleh label "hanya seorang sales" yang terasa makin menggenggam erat statusnya. Tangannya yang halus menekan tombol lift, sebuah simbol lain dari naik turunnya harapan yang makin lama makin memudar. Ah, betapa pahitnya nasib yang terjebak dalam siklus yang monoton dan tanpa pengakuan. Pintu lift sempat tertahan sebelum berhasil tertutup sempurna, namun tiba-tiba kembali terbuka. Beberapa karyawan perusahaan itu langsung membanjiri ruang sempit itu, memenuhi setiap sudut lift, yang wajar saja mengingat ini adalah jam kedatangan mereka. "Luar biasa, mbak Gisel sungguh beruntung sekali, bisa menjual tiga properti dalam satu pekan saja, sementara aku yang hanya ingin menjual satu saja sudah kesulitan, ajarin dong mbak caranya!" ucap seorang sales yang cukup Stefani kenali. Wanita bernama Gisel yang terkenal sebagai sales senior ulung itu hanya tersenyum simpul. Kecantikan wajahnya serta penampilan yang selalu mempesona membuatnya menjadi magnet tersendiri dalam dunia sales. Stefani yang mendengar percakapan mereka hanya bisa terdiam di pojok lift, menyembunyikan perasaan iri yang menggebu. Ia tak berkata apa-apa, bahkan saat pintu lift terbuka di lantai yang dituju, pikirannya masih melayang-layang mengingat keberhasilan Gisel. Hatinya menyimpan sedikit rasa iri yang mendalam, meski hanya sekilas terlihat. Jangankan bisa menjual tiga properti dalam satu bulan, setengah tahun terakhir ini ia hanya berhasil menjual satu villa itupun yang biasa saja. Menemukan konsumen tampak seperti berlayar di tengah badai. Persaingan di antara rekan penjualan begitu sengit, di mana teman bisa berubah menjadi lawan dalam sekejap, membuat Stefani enggan memiliki sahabat di kantor itu. Saat ia baru saja meletakkan handbagnya dan bersiap untuk duduk, suara tajam asisten manajer menembus kesunyian. "Stefani, Pak Danil meminta kamu segera ke ruangannya!" Tidak ada ruang untuk membantah atau mengeluh, Stefani hanya bisa menarik nafas panjang dan mengukir senyuman pahit. "Baik, Bu," sahutnya lemah. Hatinya berdebar, Stefani mengerti bahwa setiap panggilan dari Pak Danil hampir pasti berarti serangkaian tekanan baru akan dilontarkan kepadanya. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh gadis sepertinya, yang kian terjepit, selain menyusuri koridor menuju pintu bercat kurma itu sambil menelan setiap cacian dan tekanan yang harus dia hadapi. Dia mengambil napas dalam, menyiapkan diri menghadapi apa yang akan terjadi, sebelum akhirnya mengetuk pintu yang akan membawanya bertemu dengan sang atasan. Tok.. Tok.. Tok.. "Masuk!" Suara garang Danil bergema, menggema hingga ke sudut ruangan, membuat Stefani tergopoh-gopoh membuka pintu. "Permisi, Bapak memanggil saya?" suaranya bergetar saat matanya tidak berani menatap langsung. Kaki Danil berderap mendekati Stefani, matanya tajam memeriksa sosok di hadapannya. "Sudah berapa lama kamu bekerja di sini, Stefani?" suaranya menusuk, membawa otoritas yang tak terbantahkan. Jantung Stefani berdebar seakan ingin meledak, ia menelan ludah berat, berusaha mengumpulkan keberanian. "E... Enam bulan, Pak," jawabnya terbata, suara hampir tak terdengar. Bruak! Danil menggebrak meja di sampingnya dengan keras, menghancurkan keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Stefani menunduk lebih dalam, matanya terpejam, tubuhnya bergetar. "Setengah tahun, Stefani! Setengah tahun tapi hasilmu hanya satu villa terjual? Lihat teman-temanmu," Danil menunjuk sinis ke arah pintu. "Mereka sudah membeli apartemen, bahkan mobil dari hasil penjualan. Sementara kamu, apa yang kamu miliki?" Sinisme Danil tumpul tapi menusuk, meninggalkan Stefani merasa kecil dan tertekan. Sebuah perasaan gagal menjerat, membelenggu harapannya hingga membuatnya nyaris tak bisa Berkata-kata.. "Kamu itu memang memiliki kemampuan atau tidak?" suara Danil memotong angkasa, menyentak Stefani sampai ke tulang sumsum. Meski ini bukan perlakuan baru baginya, entah kenapa kali ini terasa menghunjam lebih dalam di hati. "Kalau kamu benar-benar tak sanggup, lebih baik angkat kaki saja dari sini!" nada Danil kian meninggi. Dalam situasi menghimpit, Stefani refleks mengangkat kepala, matanya menatap lekat pada Danil, seakan mencari setitik belas kasihan. "Tolong Pak, pekerjaan ini sangat berarti bagi saya," rayunya dengan nada memelas. Danil, dengan tatapan dingin dan tangan terlipat di dada, menyampirkan kekecewaan dalam tiap katanya. "Setiap bulan kamu menerima gaji, namun tidak ada hasil nyata yang kamu torehkan untuk perusahaan. Apa gunanya aku mempertahankanmu?" kata-katanya seperti petir yang menyambar hati Stefani. "Saya mohon, Pak. Beri saya satu kesempatan lagi, saya berjanji akan membuktikan diri," suara Stefani bergetar, penuh harapan. Danil, merenung sejenak dalam diam yang mencengkam, lalu meraih sebuah kartu nama dari atas meja. Dia mengulurkannya pada Stefani, mata mereka bertemu, dalam tatapan yang sarat ketegangan.. "Albert Williams?" Stefani bergumam sambil memandang kartu nama itu, matanya memancarkan ketidakpastian. "Dia adalah CEO Williams Group. Kabarnya, ia tengah mencari villa mewah untuk hadiah pernikahan ke-15 untuk istrinya," ungkap Danil, suaranya serius. "Tugas kamu adalah menemui dia, pikat dia untuk membeli villa dari perusahaan kita. Lakukan apapun yang diperlukan, Stefani. Ini adalah kesempatan emas yang tak boleh kamu sia-siakan!" tegasnya. Stefani terdiam, pikirannya melayang pada tanggung jawab besar yang kini menggelayut di pundaknya. Ia sadar betul, tidak ahli dalam memikat hati konsumen elite, tapi karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menjaga masa depannya. Mengingat dirinya hanya lulus sekolah menengah atas, dengan pendidikan yang ia miliki, mencari pekerjaan lain bukanlah pilihan. Kini, segalanya bergantung pada bagaimana ia bisa mengatasi rasa gentar di hatinya dan mengambil langkah berani untuk menghadapi Albert Williams. "Baik Pak, saya akan berusaha. Terima kasih atas kesempatannya," ujar Stefani dengan nada berat. Danil menatapnya tajam, suaranya dingin memecah keheningan. "Aku memberimu waktu sampai akhir bulan ini. Jika kamu tidak bisa mendapatkan kepastian, maka siapkan dirimu untuk meninggalkan tempat ini. Apa kamu mengerti, Stefani?" Stefani menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang berpacu. Dengan kepala yang masih tertunduk, ia mengangguk pelan. "Baik Pak," jawabnya, sebelum ia berlalu dengan langkah gontai. Duduk kembali di mejanya, Stefani mengarahkan pandangan kosongnya pada kartu nama yang tergeletak di atas meja. Di sana tertera alamat dan nomor yang bisa dihubungi. Ia merenung sejenak, penuh keraguan, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menelepon nomor tersebut. Satu kali, dua kali, bahkan lebih dari lima kali ia mendial tanpa jawaban, meningkatkan rasa frustrasinya. Namun ketika ponselnya akhirnya berdering kembali, Stefani segera menjawab dengan nada yang tergesa-gesa. "Selamat pagi, maaf mengganggu. Bisa saya bicara dengan Tuan Albert?" suaranya bergetar, mencerminkan campuran harapan dan ketakutan dalam hatinya.Stefani mengerjabkan mata perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyusup lewat celah tirai tipis kamar hotel itu. Langit di luar tampak pucat kebiruan, menandakan hari baru telah datang. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan, seolah ingin memastikan bahwa semua yang ia rasakan benar-benar nyata. Perlahan, pandangannya bergeser ke samping. Di sana… Albert terbaring dengan posisi menyamping, wajahnya tampak tenang, bahkan jauh lebih lembut dari biasanya. Tidak ada ekspresi dingin atau wibawa yang sering ia lihat. Hanya seorang pria yang sedang tertidur lelap, dengan rahang tegas dan alis yang berkerut samar, seolah masih membawa sisa-sisa kegelisahan semalam. Tanpa sadar, sudut bibir Stefani terangkat membentuk senyum tipis."Ini nyata…" batinnya lirih. "Bukan mimpi. Bukan khayalan." Albert, pria yang selama ini terasa begitu jauh, begitu mustahil ia gapai mengungkapkan perasaannya padanya. Bahkan mengucapkan niat yang terlalu besar untuk gad
"Aku menyukaimu Stefani.” Stefani membeku. Kata-kata itu… tidak mungkin ia dengarkan, apalagi dari mulut Albert. Jantungnya berdegup keras, tapi tubuhnya terasa dingin seolah disiram air es. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Pak… jangan bercanda begitu,” ucapnya pelan, suara bergetar. “Bapak… baru saja bercerai. Dan saya, saya hanya… saya hanya orang luar. Jangan bilang hal seperti itu hanya karena Bapak sedang emosi.” Albert menggeleng pelan, seolah perkataan Stefani barusan menusuknya. “Stefani, aku tidak sedang emosi.” “Tapi…” Stefani mundur satu langkah, punggungnya hampir menyentuh dinding kamar sempit itu. “Apa Bapak sadar apa yang Bapak katakan? Bapak baru saja melalui masa sulit. Perceraian… konflik… dan saya hanya orang biasa, yang rasanya lebih pantas menjadi asisten rumah tangga. Bukankan Bapak juga jelas sudah menolak waktu saya—” suaranya tercekat, wajahnya memerah menahan malu. “—waktu saya melakukan kebodohan itu…” Albert memejamkan mata sesaat. “Jangan s
Tidur di kamar berukuran tiga kali empat meter persegi sebenarnya bukan hal baru bagi Stefani. Ia sudah terbiasa hidup sederhana, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, hanya dengan satu kasur tipis, kipas angin tua, dan meja kecil di sudut ruangan. Namun entah kenapa malam ini terasa berbeda. Udara seolah menyesakkan, dan matanya sama sekali tak mau terpejam. Gadis itu menggulingkan tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, berulang-ulang. Pikiran yang semestinya sudah ia tenangkan malah kembali berisik, penuh bayangan masa lalu yang enggan hilang. “Huh…” desahnya pelan. “Kadang aku mikir… aku bukan anak ibu.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tapi kemudian sunyi kembali menyelimuti kamar mungil itu. Stefani menatap langit-langit kamar hotel itu yang mulai kusam, matanya berkaca-kaca tanpa sadar. Ia mengingat wajah ibunya yang selalu datar, jarang menunjukkan kasih sayang bahkan saat dirinya sakit. Kadang justru ucapan-ucapan tajam sang ibu yang membuat hatinya semak
"Lebih baik aku menemui Stefani.." Albert berjalan turun seraya mengancingkan satu persatu kancing kemejanya. Pria itu masuk kedalam mobil dan menginjak pedal gasnya dengan kasar, nafasnya masih memburu. Pintu pagar terbuka setelah Albert menekan klakson. Tampak Stela masih duduk di depan pagar rumah mewah itu, matanya sembab, wajahnya penuh air mata. Saat melihat mobil Albert keluar dari garasi, wanita itu sontak berdiri dan berusaha mengejar, namun Albert sama sekali tak menoleh. Ia sudah kehilangan rasa peduli pada wanita itu. Mobil hitam milik Albert melaju cepat menembus jalanan malam. Lampu kota memantul di kaca depannya, sementara pikirannya terus melayang pada satu nama, Stefani. Entah kenapa, di saat seperti ini, hanya wajah gadis itu yang terlintas di pikirannya. Wajah lembut yang selalu mampu menenangkan hatinya di tengah badai amarah. Beberapa menit kemudian, mobil Albert masuk ke area basement apartemen. Ia mematikan mesin, keluar, dan menutup pintu dengan gerakan te


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações