LOGINStefani Sauvone, gadis berusia 21 tahun yang harus melewati lika-liku kehidupan yang rumit, sejak lulus sekolah Stefani harus melawan kerasnya dunia, hidup mandiri untuk memenuhi tuntutan keluarga. Hingga akhinya ia mulai bekerja di sebah perusahaan property, tuntutan kerja semakin membuatnya tertekan. Bahkan membuatnya harus rela melakukan segala hal yang tak pernah ia perbuat. Keaadaan itu membawa Stefani bertemu dengan Albert Wiliams, seorang laki-laki dewasa yang sudah mempunyai seorang istri. Niat awal Stefani mendekati laki-laki itu murni untuk pekerjaan, namun siapa sangka, sikap Albert Wiliams yang lemah lembut dan penuh perhatian menumbuhkan benih cinta dalam hati Stefani. Lantas bagaimanakah kisah hubungan beda usia dan status tersebut? Akankah Stefani mengubur perasaannya, atau justru semakin terjerat oleh Pesoan CEO kesepian itu!?
View MoreStefani mengerjabkan mata perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyusup lewat celah tirai tipis kamar hotel itu. Langit di luar tampak pucat kebiruan, menandakan hari baru telah datang. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan, seolah ingin memastikan bahwa semua yang ia rasakan benar-benar nyata. Perlahan, pandangannya bergeser ke samping. Di sana… Albert terbaring dengan posisi menyamping, wajahnya tampak tenang, bahkan jauh lebih lembut dari biasanya. Tidak ada ekspresi dingin atau wibawa yang sering ia lihat. Hanya seorang pria yang sedang tertidur lelap, dengan rahang tegas dan alis yang berkerut samar, seolah masih membawa sisa-sisa kegelisahan semalam. Tanpa sadar, sudut bibir Stefani terangkat membentuk senyum tipis."Ini nyata…" batinnya lirih. "Bukan mimpi. Bukan khayalan." Albert, pria yang selama ini terasa begitu jauh, begitu mustahil ia gapai mengungkapkan perasaannya padanya. Bahkan mengucapkan niat yang terlalu besar untuk gad
"Aku menyukaimu Stefani.” Stefani membeku. Kata-kata itu… tidak mungkin ia dengarkan, apalagi dari mulut Albert. Jantungnya berdegup keras, tapi tubuhnya terasa dingin seolah disiram air es. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Pak… jangan bercanda begitu,” ucapnya pelan, suara bergetar. “Bapak… baru saja bercerai. Dan saya, saya hanya… saya hanya orang luar. Jangan bilang hal seperti itu hanya karena Bapak sedang emosi.” Albert menggeleng pelan, seolah perkataan Stefani barusan menusuknya. “Stefani, aku tidak sedang emosi.” “Tapi…” Stefani mundur satu langkah, punggungnya hampir menyentuh dinding kamar sempit itu. “Apa Bapak sadar apa yang Bapak katakan? Bapak baru saja melalui masa sulit. Perceraian… konflik… dan saya hanya orang biasa, yang rasanya lebih pantas menjadi asisten rumah tangga. Bukankan Bapak juga jelas sudah menolak waktu saya—” suaranya tercekat, wajahnya memerah menahan malu. “—waktu saya melakukan kebodohan itu…” Albert memejamkan mata sesaat. “Jangan s
Tidur di kamar berukuran tiga kali empat meter persegi sebenarnya bukan hal baru bagi Stefani. Ia sudah terbiasa hidup sederhana, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, hanya dengan satu kasur tipis, kipas angin tua, dan meja kecil di sudut ruangan. Namun entah kenapa malam ini terasa berbeda. Udara seolah menyesakkan, dan matanya sama sekali tak mau terpejam. Gadis itu menggulingkan tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, berulang-ulang. Pikiran yang semestinya sudah ia tenangkan malah kembali berisik, penuh bayangan masa lalu yang enggan hilang. “Huh…” desahnya pelan. “Kadang aku mikir… aku bukan anak ibu.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tapi kemudian sunyi kembali menyelimuti kamar mungil itu. Stefani menatap langit-langit kamar hotel itu yang mulai kusam, matanya berkaca-kaca tanpa sadar. Ia mengingat wajah ibunya yang selalu datar, jarang menunjukkan kasih sayang bahkan saat dirinya sakit. Kadang justru ucapan-ucapan tajam sang ibu yang membuat hatinya semak
"Lebih baik aku menemui Stefani.." Albert berjalan turun seraya mengancingkan satu persatu kancing kemejanya. Pria itu masuk kedalam mobil dan menginjak pedal gasnya dengan kasar, nafasnya masih memburu. Pintu pagar terbuka setelah Albert menekan klakson. Tampak Stela masih duduk di depan pagar rumah mewah itu, matanya sembab, wajahnya penuh air mata. Saat melihat mobil Albert keluar dari garasi, wanita itu sontak berdiri dan berusaha mengejar, namun Albert sama sekali tak menoleh. Ia sudah kehilangan rasa peduli pada wanita itu. Mobil hitam milik Albert melaju cepat menembus jalanan malam. Lampu kota memantul di kaca depannya, sementara pikirannya terus melayang pada satu nama, Stefani. Entah kenapa, di saat seperti ini, hanya wajah gadis itu yang terlintas di pikirannya. Wajah lembut yang selalu mampu menenangkan hatinya di tengah badai amarah. Beberapa menit kemudian, mobil Albert masuk ke area basement apartemen. Ia mematikan mesin, keluar, dan menutup pintu dengan gerakan te






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews