LOGINLiana. Gadis berusia belasan tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia harus menjalani kehidupan yang penuh tekanan dari orang tuanya. Mereka selalu membatasi ruang gerak Liana. Sampai suatu ketika, Liana yang merasa lelah dan kecewa atas sikap orang tuanya memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh. Bunuh diri. Namun aksinya gagal karena seorang pria yang tiba-tiba datang menolongnya. Lelaki yang tak lain Alviano, kakak kelas Liana semasa dia masih duduk dibangku kelas sepuluh. Diam-diam ternyata menaruh rasa padanya.
View MoreWanita itu berteriak, langkahnya tergesa hanya untuk menyusul putrinya agar mau bicara. Sampai kemudian Adilla berhasil mencekal erat pergelangan Liana hingga membuat gadis itu berbalik menatap ibunya."Mami mau menjelaskan apalagi?""Mami sama Om Firman itu tidak punya hubungan apa-apa, Li. Hubungan kami tidak lebih dari seorang rekan kerja di kantor." Wanita itu berusaha menjelaskan. Namun, sayangnya Liana sudah tidak mau percaya lagi mendengar kalimat yang dilontarkan oleh maminya.Bukan tanpa alasan, selama ini dia berusaha untuk mendengarkan kata maminya meskipun itu sult. Dia berusaha menjalankan apa yang diperintahkan olehnya dan tidak melanggar larangannya. Hingga suatu pesta perayaan ulang tahun temannya yang bahkan sangat ia inginkan untuk hadir di sana. Semuanya gagal karena dia harus menuruti nasihat maminya yang melarang ia keluar malam.Namun, bukankah semua itu harus ada keseimbangan antara satu sama lain. Jika Adilla menuntut anaknya melakukan sesuatu yang menjadi kehe
Seseorang membuyarkan lamunan Alan ketika Kevin terlihat memunculkan kepalanya untuk melihat ke arah sahabatnya. Sementara yang diajak bicara hanya terkekeh pelan tanpa rasa berdosanya sama sekali. Alan pun segera menemuinya di ambang pintu. "Kenapa kau kembali lagi?" "Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa masih di sini. Bos sudah menunggu." Ingatnya seketika membuat pria itu membulatkan mata sempurna sembari menepuk pelan jidatnya dengan tangan. "Astaga? Aku bahkan bisa melupakan hal sepenting ini." Buru-buru Alan pergi menemui bosnya di ruangan. Firasatnya berkata akan terjadi hal buruk mengenai pekerjaannya di kantor. "Oh Tuhan, lindungilah aku." *** Di sisi lain, Liana masih larut dalam kekesalannya. Dia mengurungkan diri di kamar dan tidak membiarkan seorang pun bisa masuk ke ruangannya. Tak terkecuali Adilla, wanita itu kebingungan bagaimana membujuk putrinya agar mau keluar dan makan. "Li?" panggil maminya dari balik pintu kamar Liana. "Makan dulu, gih! Dari sian
Kevin menghela napas setelah memutuskan panggilannya dengan seorang perempuan asing yang tidak dikenalnya. Pandangannya mengedar menatap ke segala arah."Siapa yang menelponmu?" tanya Alan penasaran. Tapi bukannya menjawab, Kevin hanya mendengus kesal. Dia tidak kenal siapa perempuan yang sudah menghubunginya baru saja. dari mana dia mendapatkan nomornya? "Aku tidak tau.""Mengapa begitu?" tanya Alan dengan kedua alisnya yang terangkat karena pensaran."Dia tidak menyebutkan nama.""Sungguh?"Kevin mengangguk."Lalu bagaimana dia mengetahui nomormu?""Itulah yang membuatku bingung.""Dia bilang apa?""Dia menyuruhku untuk bertemu di kafe depan sekolah Tunas Bangsa. Dia bilang ada hal yang ingin dibicarakan denganku."Mendengar jawaban Kevin, seketika membuat Alan beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan mendekat ke arah sahabatnya yang masih diliputi kebingungan."Sepertinya kau akan terlibat dengan masa laluku, Lan.""Menyebalkan! Dia bahkan sama sekali tidak menyebutkan kapan wak
Liana mendengus kesal saat dirinya sudah sampai di rumah. Dia masuk ke kamarnya setelah melepas sepatu sekolah dan meletakannya di atas rak."Gue kakak kelas elo dulu sewaktu SMK." Kalimat Alan terus terngiang-ngiang di telinganya. Jika benar ucapannya, lantas kenapa Liana merasa asing dengannya? Batin gadis itu penasaran.Liana membanting tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar yang bernuansa kebiruan. Tak hanya itu, dia juga menyalakan AC di ruangan tersebut untuk mendinginkan suasana."Liana?????"Teriakan mama Adila terdengar riuh memecah kesunyian rumah itu. Liana yang baru saja memejamkan mata berniat untuk tidur, seketika langsung terbangun sambil beranjak dari tempat tidur."Pasti bentar lagi mami gedor-gedor pintu," Liana membatin dalam hati.Tok-tok!Nah kan, "Gue bilang juga apa," sungutnya dengan wajah kesal lalu berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya.Ceklek!"Ya ampun, Liana? Kamu ke mana aja, sih? Mami khawatir dari tadi nyariin kamu tadi enggak kete






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.