Mag-log inเพราะความหวังดี ทำให้อรุณลักษณ์ได้ช่วยเหลือชายนิรนามที่บาดเจ็บอยู่ในตรอก ในค่ำคืนฝนพร่ำ และนั้นนำพาให้เธอเข้าไปข้องเกี่ยวกับเรื่องอันตราย ชายผู้นั้นคือลูเซียส แวมไพร์สายเลือดราชวงศ์ อรุณลักษณ์ถูกศัตรูของลูเซียสทำร้ายด้วยคมเขี้ยวบาดผิว ทำให้เลือดกลายเป็นพิษ ยามใดพระจันทร์เต็มดวง ยามนั้นร่างกายเธอเร่าร้อนทรมาน และเลือดของเขาคือสิ่งที่ช่วยบรรเทา
view moreDi dunia yang dipenuhi predator, aroma adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Bagi Runala, aroma adalah vonis mati yang harus gadis itu sembunyikan setiap detik.
Runala menembus rimbunnya hutan di pinggiran Desa Demura. Dengan sengaja menghindari jalan utama desa yang kini sesak oleh prajurit kerajaan.
Kabarnya, ada kepala desa baru yang datang. Belum ada yang mampu bertahan mengatur tempat ini. Semua akan pergi sebelum purnama berikutnya.
Begitulah yang terjadi pada para pendahulu yang berusaha mengatur desa ini.
Demura bukanlah sekadar desa buangan. Tempat ini serupa dengan lubang hitam bagi para penyamun dan kriminal kelas kakap.
Mereka tidak lagi diterima oleh desa mana pun. Di sini, hukum rimba menjadi satu-satunya aturan.
Desa yang menjadi tempat para pendosa paling kejam bersembunyi di balik bayang-bayang kemiskinan dan debu.
Udara di sekitarnya lembap, berbau tanah basah dan lumut. Hingga paru-paru Runala terasa seperti terbakar oleh setiap tarikan napas yang dia paksakan.
“Jangan berlari terlalu kencang, Runala.” Suara lembut Margreta sang ibunda terngiang. Kepingan memori usang yang selalu menghantuinya. “Detak jantung manusia adalah musik yang paling ingin didengar oleh taring mereka. Jadilah bayangan, atau kau akan menjadi mangsa.”
Runala mempererat genggaman pada seikat akar Silver-Lace. Tanaman berbunga perak itu berlumuran tanah.
Garon sedang kritis di gubuknya. Werewolf tua adalah satu-satunya yang peduli setelah ibunya tiada.
Dia tidak akan membiarkan penyakit paru-paru perak merenggut pria itu.
“Runala ... sudahlah... jangan merepotkan dirimu,” gumam Garon tadi pagi di sela batuk darahnya. “Kau hanya seorang Omega kecil berhati baik. Jangan bersusah payah hanya demi orang tua sepertiku yang sudah tinggal menunggu ajal.”
Runala tidak akan berhenti. Tidak untuk Garon.
Langkah kaki Runala menghantam dedaunan kering. Hingga terdengar gemeresik yang terlalu keras di kesunyian hutan. Runala tahu ini berbahaya. Namun, setiap detik adalah nyawa.
Tidak jauh dari jalur yang sedang ditempuh Runala, Solvatar duduk di atas batang pohon tumbang. Jubah kebesarannya tersampir. Kakinya menjulur di tanah yang lembap.
Lelaki itu butuh ruang.
Tempat busuk ini merupakan hinaan bagi indra penciuman Solvatar. Namun, setidaknya di sini tenang dan damai.
Jauh dari wajah-wajah ketakutan penduduk desa dan tatapan mata-mata yang dikirim ayahnya dalam kedok pasukan pengawal.
Kekuatan Alpha yang bergejolak di dalam dada selalu terasa seperti api yang ingin membakar segalanya jika dia terlalu lama berada di dekat kerumunan yang lemah.
Perlahan, Solvatar memejam. Dengan indra pendengaran, dia menyaring kebisingan hutan. Suara burung gagak, gesekan dahan pohon dan sesuatu yang lain.
Langkah kaki.
Suaranya sangat ringan, tetapi ritmenya kacau. Bukan langkah kaki pemburu, juga bukan langkah kaki prajurit. Seseorang sedang berlari dengan keputusasaan yang jelas.
Solvatar bergeming. Derap itu makin dekat ke arahnya. Dia justru sengaja menghalangi jalur sempit di antara semak-semak duri dengan kaki kirinya.
Hanya karena ingin tahu siapa werewolf yang cukup bodoh untuk berlari tanpa waspada di wilayah kekuasaannya.
Sementara itu, sedikit lagi, Runala mencapai jalur tikus di balik pepohonan tua. Jalur yang akan membawanya langsung ke belakang gubuk Garon.
Paling penting, di tidak harus berpapasan dengan satu pun prajurit dari istana.
Akan tetapi, di tengah fokusnya pada jalan di depan, sebuah benda perak berkilau menyilaukan.
Di bawah cahaya matahari yang menembus celah pohon, sepatu bot baja menghentikan langkahnya.
Runala tidak sempat mengerem. Dia menjerit ketika tubuhnya terpelanting, menghantam akar pohon yang keras. Seikat akar obat di tangannya terbang ke udara.
Lalu mendarat di atas tanah yang lembap. Gadis itu jatuh tersungkur. Sehingga jubah merah kumalnya tersingkap. Napasnya seolah-olah dicabut paksa tatkala hawa dingin yang menindas tiba-tiba menyelimuti seluruh tempat itu.
Jelas, itu bukan sekadar aura prajurit. Itu adalah tekanan dari seorang Alpha yang begitu kuat. Sangat kuat. Hingga membuat bulu kuduk meremang dan perut Runala seperti diaduk-aduk.
Runala membeku di atas tanah, tidak berani langsung mendongak. Di depannya, berdiri sepasang kaki terbalut pelindung baja yang sangat bersih. Terlalu bersih untuk tempat menjijikkan seperti ini.
Glabela Solvatar berkerut pada jeritan itu. Suara yang kecil dan melengking. Seorang perempuan. Dia mengenakan jubah merah kumal yang baunya sangat mengganggu. Seperti campuran belerang, lumpur, dan tanaman busuk.
Hingga membuat hidung Solvatar berkedut tidak nyaman. Gadis itu terlihat seperti Omega rendahan yang baru saja merangkak keluar dari lubang tambang.
Akan tetapi, saat dia membeku di bawah kaki Solvatar, atmosfer di sekitar mereka seolah-olah berubah.
Jantung Runala berhenti berdetak sejenak. Dia menelan ludah. Sekarang fokusnya adalah kembali ke gubuk Garon tanpa terlibat masalah apa pun.
Tatkala Runala mengangkat wajah, hal pertama yang dia lihat adalah sepasang netra emas yang menatap dengan tatapan predator lapar.
Di detik yang sama, luka jahitan di pahanya tiba-tiba berdenyut membara seolah-olah bereaksi pada kehadiran lelaki di hadapannya.
Solvatar bangkit lantas melangkah maju, tetapi tiba-tiba makhluk itu berteriak.
“Jangan diinjak!” pekik Runala seraya memungut seikat bunga dari tanah yang sebagian tertahan bot Solvatar. “Aku mohon.”
Di antara helai rambut merah kecokelatan yang berantakan, Solvatar melihat sepasang netra yang melebar ketakutan. Saat itulah, insting serigalanya meraung.
Sebuah reaksi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Di bawah bau belerang busuk dan lumpur amis, ada sebuah aroma yang menyelinap masuk ke paru-paru.
“Kau memohon,” ulang Solvatar dengan nada datar. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang aneh menempel di telapak botnya. “Hanya untuk tanaman?”
“I-ini obat.” Runala menelan saliva. “Seseorang sedang sekarat.”
Solvatar menarik napas panjang lagi. Sengaja, memenuhi paru-paru dengan wangi khas yang menguar dari gadis itu.
Wangi itu tipis, sangat halus, sekaligus begitu murni hingga membuat kepala Solvatar pening. Baunya seperti bunga liar yang mekar di tengah badai.
Anehnya, tidak ada jejak serigala di sana. Seolah-olah itu berasal dari makhluk yang tidak seharusnya ada di sini.
“Banyak orang sekarat di Demura.” Kendati berat hati, Solvatar menggeser kaki. Bukannya peduli, melainkan karena tanaman itu tidak cukup menarik untuk diinjak. “Itu bukan urusanku.”
Untuk sedetik, Solvatar berniat langsung pergi. Satu langkah sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan ini.
Akan tetapi, kakinya tidak bergerak. Seolah-olah pikiran Solvatar memberontak pada dirinya sendiri. Dia lantas membungkuk ke arah gadis berkulit pucat itu.
“Hei.” Suara Solvatar lebih keras dari yang dia inginkan. “Angkat wajahmu.”
Solvatar mencengkeram dagu Runala dengan kasar, hingga tatapan mereka bertemu.
Di detik yang sama, tatkala kulit mereka bersentuhan, sebuah kejutan listrik yang tajam menghantam layaknya sengat petir yang menjalar dari ujung jari langsung ke jantung.
Solvatar melepaskan sentuhan. Anehnya, kulit gadis itu terasa sangat dingin. Namun, di titik sentuhan itu, Solvatar merasa seperti menyentuh besi panas.
“Kau—” Solvatar tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Keterkejutan Solvatar dilihat sebagai kesempatan bagi Runala. Gadis itu bergegas menyambar tas, bangkit dengan sisa tenaga.
“Berhenti!” perintah Solvatar begitu berhasil menguasai diri. “Berlutut sekarang juga di tempatmu!”
Runala mengabaikan itu. Dia menghilang ke dalam rimbunnya hutan sebelum Solvatar sempat menyadari bahwa serigala dalam dirinya baru saja melolong dalam keheningan.
Sebuah pengakuan pada pasangan sejati yang seharusnya tidak mungkin ada.
Sengatan petir beberapa detik lalu, bergema di benak Solvatar. Diikuti ucapan peramal kerajaan.
“Pangeran ke-19 akan hidup sendirian. Tanpa pernah punya pasangan. Selamanya.”
กางเกงถูกกระชากออกอย่างรวดเร็ว ลูเซียสรั้งร่างบางเข้าหาตนเอง เขาเงยหน้าผ่อนลมหายใจออกมา เพื่อไม่ให้ตนเองเผลอฆ่ามนุษย์ผู้หญิงคนนี้ไปเสียก่อน อรุณลักษณ์ไร้การต่อสู้ดิ้นรน เธอไม่อาจเอาตัวรอดได้อีกแล้วก๊อก ก๊อกเสียงเคาะประตูหน้าห้อง ลูเซียสไม่ตอบยังคงสนใจคนใต้ร่าง เวลานี้เขากำลังต้องการปลดปล่อย“เจ้านาย หากท่านจะทำอะไรนางโปรดคิดให้ดีก่อนนะครับ เพราะเจ้านายไม่อาจปล่อยให้มนุษย์มีเชื้อสายของเราได้เด็ดขาด ท่านเข้าใจในข้อนี้ใช่ไหมครับ!”ลูเซียสขบกรามแน่น มือสั่นเทา หลับตาลงแล้วกัดฟัน ปล่อยร่างบางเป็นอิสระ แล้วกระชากประตูเปิดออกเดินหนีออกมาทันทีอรุณลักษณ์รีบกระถดกายชิดหัวเตียง น้ำตาอาบแก้ม หัวใจเต้นกระหน่ำแทบไม่หยุด ถ้าเมื่อสักครู่ แค่นิดเดียวเท่านั้น เธอคงได้กลายเป็นของเขาแล้วจริงๆ ทำไมเหตุการณ์แบบนี้ต้องมาเกิดกับเธอด้วย ทำไม...เสียงฝีเท้าแผ่วเบาดังแว่ว ลูเซียสไม่ได้สนใจ ยังคงทอดสายตามองผืนน้ำเบื้องหน้า ดวงตาคมกริบหรี่ลงแล้วระบายลมหายใจออกมาอย่างหนักหน่วง“บอกให้แม่บ้านเอาเสื้อผ้าไปให้นางเปลี่ยน แล้วก็จัดอาหารให้นางด้วย”“ได้ครับ” เรวิโอ้รับคำ แล้วเดินหันหลังเพื่อทำหน้าที่ที่ได้รับมอบหมาย
เสียงนกร้อง ปลุกให้คนบนเตียงค่อยๆ เปิดเปลือกตา อรุณลักษณ์ผุดลุกนั่งมือกุมขมับ ร่างกายปวดเมื่อยราวกับออกกำลังกายมาอย่างหนัก คิ้วบางขมวดมุ่นเข้าหากันด้วยความสงสัย กวาดตามองรอบๆ ภายในมืดสนิท ราวกับกลางคืน เห็นแสงร่ำไรรอดเข้ามา ยิ่งทำให้เธอตระหนก ที่นี่มัน...ร่างกายเธอสั่นสะท้าย เพราะผิวกายสัมผัสอากาศเย็นภายในห้อง เมื่อก้มมองตนเองกลับพบร่างกายเปลือยเปล่า มีเพียงชั้นในปิดกาย เธอชะงักรีบหยิบผ้าห่มมาปกปิด ก่อนทอดสายตามองไปยังอีกฝั่งของเตียง เธอดึงผ้าห่มพบกับเรือนกายแกร่งที่สวมเพียงกางเกงเท่านั้น คนตัวเล็กกายสั่นสะท้าน“กรี๊ด!” หญิงสาวกรีดร้อง แล้วรั้งผ้าห่มมาพันกายไว้แนบแน่นลงจากเตียงสีหน้าสับสน เธอมาอยู่ที่นี่ได้ยังไง จำได้ว่าตนเองอยู่กับครีส แล้วทำไมถึงมาอยู่บนเตียงของชายคนนี้อีกเล่าลูเซียสลุกนั่ง แล้วตวัดสายตามอง เห็นมนุษย์ผู้หญิงกำลังกรีดร้อง มองมาทางเขาสีหน้าแววตาตื่นตระหนก“คุณเป็นอะไร” เขาถามเสียงหนัก แล้วสบตา“ทำไมฉันถึงมาอยู่ที่นี่อีกแล้ว ทำไม!”“คุณไม่สบาย ผมเลยให้คนพามาที่นี่” เขาอธิบายชัดถ้อยชัดคำ“ไม่สบายงั้นเหรอ คุณคิดว่าฉันจะโง่เชื่อหรือไง ฉันเป็นพยาบาลจะไม่รู้เลยหรือว่าตัว
แอด...ประตูห้องเปิดออก เจ้าของใจระทึก เห็นแฟนหนุ่มถือขวดไวน์พร้อมด้วยอาหารมา เธอปิดประตูลงเมื่อเข้าก้าวเข้ามาด้านใน ไวน์ถูกแช่เย็น อรุณลักษณ์จัดอาหารใส่จาน ไม่ทันไรร่างบางถูกโอบกอดจากด้านหลัง หัวใจหญิงสาวเต้นระรัวด้วยความหวั่นไหว เธอหันมาเผชิญหน้ายิ้มเจือนๆ“ทานอาหารก่อนสิคะ” หญิงสาวพยายามหาทางทำความสนิทสนม อย่างน้อยก็ขอให้ได้รับแอลกอฮอลล์สักนิดก็ยังดี เธอไม่เคยนอนกับผู้ชายมาก่อนเลย เพราะมัวแต่เรื่องมาก จนอายุล่วงเลยมาถึงตอนนี้ ก็ยังบริสุทธิ์อยู่เขายอมปล่อยร่างบางเป็นอิสระแล้วนั่งบนเก้าอี้ สักพักอรุณลักษณ์ยกอาหารออกมาวางไว้ พาสต้าร้อนๆ มีควันพวยพุ่งน่าทาน เธอเปิดตู้เย็นหยิบไวน์เมื่อครู่มารินใส่แก้วสองใบ“ชนกันหน่อยค่ะ” เธอชวนแกร๊งไวน์รสหวานปนขมลงคอลื่นไหลดีเสียจริง ใบหน้าขาวนวลเริมแดงก่ำเพราะฤทธิ์แอลกอฮอลล์ คุณหมอหนุ่มทอดสายตามองเลือดในกายร้อนขึ้นมา วงหน้าของแฟนสาวช่างงดงามจับใจ มือใหญ่เอื้อมมาลูบไล้ใบหน้านั้นแผ่วเบา โน้มมาใกล้แล้วแนบริมฝีปาก“อืม..” อรุณลักษณ์ครางแผ่ว เมื่อถูกควานหาความหวานอย่างละมุนละไมมือเขาเริ่มเลื่อนไล้ไปตามร่างกายอย่างบางเบา แต่เรียกความหวาดหวั่นวิตกให้แก่ห
รถจอดเทียบหน้าห้องพัก อรุณลักษณ์เปิดประตูลงมา แล้วเข้าข้างในปิดประตูลงกลอนอย่างแน่นหนา หัวใจยังสั่นระรัวไม่หาย ไม่คิดว่าตนเองจะไปนอนบนเตียงชายแปลกหน้าอีกครั้ง เธอไม่รู้ด้วยซ้ำว่าไปอยู่ที่นั้นตั้งแต่เมื่อไหร่ก๊อก ก๊อกหญิงสาวสะดุ้ง แล้วค่อยๆ ก้าวมายืนตรงประตู ส่องตาแมว เห็นร่างสูงยืนอยู่ด้านนอก ตัดสินใจเปิดประตู ครีสยิ้มกว้างยกถุงขนมให้ดู แล้วเดินเข้ามาข้างในวางมันไว้บนโต๊ะ“ผมมาเยี่ยมครับ หายดีหรือยัง”หญิงสาวยิ้มเจือนๆ “ดีขึ้นแล้วค่ะ”“ผมเป็นห่วงนะครับ” เขาบอก แล้วสบตาคนสวยอรุณลักษณ์เม้มริมฝีปาก ครุ่นคิด ชายผู้มีปริศนามากมาย กับชายที่อ่อนโยนและให้เกียรติเธอเสมอ ถึงเขาไม่ได้มีเสน่ห์เหลือล้น แต่อย่างน้อยเธอก็มั่นใจได้ว่า ครีสนั้นเป็นคนดีคนหนึ่ง และหวังดีต่อตนมาตลอด“ขอบคุณนะคะคุณหมอ ที่เป็นห่วงฉัน”ครีสยิ้มอ่อนโยน “ไม่เป็นไรครับ ผมยินดี”หญิงสาวขยับเข้ามาใกล้ แล้วสบตา ทำอีกฝ่ายแก้มแดง“คุณหมอรู้สึกยังไงกับฉันกันแน่คะ” อรุณลักษณ์ถามตรงประเด็น แล้วจ้องมองเพื่อรอคำตอบคนถูกถามอึกอัก ทำหน้าไม่ถูก“เอ่อ...”“ฉันอยากรู้ว่าคุณหมอคิดยังไงกับฉันกันแน่ ถึงมาห่วงใย ทำดีด้วยแบบนี้ ทั้งๆ ที่คุณหม
เสียงหยาดฝนโปรยลงมาไม่ขาดสาย หญิงสาวรูปร่างสูงโปร่ง ในชุดสีขาว ถือร่มสีเทาเดินผ่านตรอกเล็กในเมืองเวนิชแห่งอิตาลี ท่อนแขนข้างหนึ่งกอดกระหวัดเพื่อคลายความหนาวเย็นของอากาศ ก่อนก้าวเดินอย่างเร่งรีบกลับห้องพักตนเอง ทว่าสองเท้ากลับต้องชะงัก เมื่อเห็นน้ำไหลมาตามพื้นบาทวิถี ด้วยความเชี่ยวชาญในการทำงาน ทำให
ตุบ!ร่างบางถูกโยนลงบนเตียง เจ้าของร่างลืมตา ในกายกำลังร้อนราวกับมีไฟแผดเผา เหงื่อกาฬผุดซึมเต็มใบหน้าและลำตัว เธอหยัดกายนั่งอย่างรวดเร็ว นัยน์ตากรอกไปมาอย่างสับสน ยกมือกุมขมับด้วยความปวดร้าว เกิดอะไรขึ้นทำไมถึงรู้สึกเหมือนคนจับไข้ ผสมด้วยความต้องการบางอย่างพวยพุ่งไม่หยุดหย่อนอรุณลักษณ์ปรับสายตาเข้
อรุณลักษณ์บิดกายบนเตียงหลังจากผ่านค่ำคืนอันยาวนาน นึกภาพใบหน้าชายที่ช่วยเอาไว้แล้วรู้สึกผ่าวร้อน เขาช่างหล่อเหลามีแววตาชวนหลงใหล แต่เธอไม่กล้าเข้าไปยุ่งเกี่ยว เขาคงมีศัตรูมากมาย และไม่พ้นมีหญิงสาวมาติดเช่นเดียวกัน คนตัวเล็กถอนหายใจสะบัดผ้าห่มออกจากกาย แล้วหยิบผ้าเช็ดตัวเข้าห้องน้ำเพื่อจัดการกับตนเอ
ร่างสูงโปร่งค่อยๆ ถอยมายืนเคียง “คุณ... ฉันจะถ่วงเวลาพวกมันไว้ คุณวิ่งหนีไปได้เลยนะ” หญิงสาวกระซิบ“พวกมันไม่ปล่อยผมไปหรอก”“นั่นไง ฉันถึงจะช่วยให้คุณหนี ฉันเป็นผู้หญิงพวกมันคงไม่ทำอะไรหรอก”ลูเซียสระบายลมหายใจกับมนุษย์ผู้หญิง ช่างอ่อนต่อโลกเสียจริง ก็เข้าใจว่าคงไม่เคยเจอแวมไพร์ พวกมันไม่ได้สนใจอะไ