LOGIN“ทำไมฉันต้องเป็นฝ่ายจีบก่อนด้วย น้องปริมต่างหากที่ต้องเป็นฝ่ายจีบฉัน”
View More"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
นับแต่ค่ำคืนแสนหวานวันนั้น ดูเหมือนว่าหยางเฟยอวี่จะทำตัวติดปราณปรียามากขึ้นจนเกือบจะทุกที่ แม้แต่ในช่วงเวลาที่เธอทำงานอยู่ที่ร้านดอกไม้ฮวาฮวา ชายหนุ่มมักหาเหตุผลโดดงานแวะเวียนมาหาเธอเสมอ แต่สิ่งที่ชัดเจนยิ่งกว่าคือความหึงหวงที่แสดงออกอย่างไร้เหตุผลครั้งนี้ก็เช่นกัน…ปราณปรียาที่กำลังง่วนกับการจัดดอกไม้ให้ลูกค้าชายหนุ่มคนหนึ่งสังเกตได้ถึงสายตาคมกริบของหยางเฟยอวี่ที่จ้องมองลูกค้าอย่างไม่วางตา แม้กระทั่งตอนที่เธอส่งเงินทอนให้ลูกค้า เขาก็ยังยืนกอดอกอยู่มุมร้าน ดวงตาวาวโรจน์ราวกับจะขุดประวัติของชายหนุ่มคนนั้นออกมาให้เมื่อส่งลูกค้าคนสุดท้ายออกจากร้านได้สำเร็จ ปราณปรียาก็หันกลับมามองคนตัวสูงที่ยังคงยืนทำหน้าตาไม่พอใจอยู่ที่เดิม เธอเดินตรงเข้าไปหาเขา พลางถอนหายใจอย่างระอา“พี่เฟยอวี่คะ ถ้ายังทำแบบนี้อีก คืนนี้ปริมจะให้ไปนอนข้างนอก!” หญิงสาวพูดเสียงเขียว พลางจ้องเขาด้วยสายตาตำหนิหยางเฟยอวี่นิ่วหน้า มองคนรักอย่างไม่ยอมแพ้ “ปริมไม่เห็นเหรอครับ ว่าหมอนั่นมองปริมยังไง?”“เขาไม่ได้มองอะไรปริมเลยค่ะ เขาแค่มาซื้อดอกไม้เท่านั้นเอง!”ชายหนุ่มส่ายหน้า “ไม่จริงครับ พี่เห็นชัด ๆ เขาแอบมองปริมตั้งแต่เดิ
ปราณปรียาที่ดื่มไวน์ไปสองแก้วตามคำชวนของคุณนายหยางเริ่มรู้สึกคอพับเล็กน้อย ถึงแม้จะพยายามตั้งสติ แต่ก็เริ่มรู้สึกไม่ค่อยสบายตัว หยางเฟยอวี่สังเกตเห็นอาการของเธอจึงรู้สึกว่าเป็นเวลาที่ควรจะพาเธอกลับคอนโด“วันนี้ค้างที่บ้านก็ได้นะ ไม่เห็นต้องรีบกลับคอนโดเลย” คุณนายหยางพูดขึ้นขณะที่เดินมาส่งลูกชายที่หน้าประตู ริมฝีปากของเธอยังคงบ่นน้อยใจเล็กน้อยเพราะเห็นลูกชายรีบพาหญิงสาวกลับหยางเฟยอวี่ที่กำลังช่วยปราณปรียาใส่เข็มขัดนิรภัยหันมาตอบผู้เป็นแม่อย่างนุ่มนวล “พรุ่งนี้น้องปริมมีเรียนแต่เช้าครับ ที่นี่ห่างจากมหาวิทยาลัยค่อนข้างมาก ผมกลัวว่าน้องปริมจะไปไม่ทัน”คุณนายหยางพยักหน้ารับรู้ แต่ก็ไม่วายหรี่ตามองลูกชาย “คิดว่าแม่ไม่รู้นิสัยแกเรอะ” เธอพูดก่อนจะหยิกไปที่ต้นแขนของลูกชายเบา ๆ รอยยิ้มอ่อน ๆ เกิดขึ้นบนใบหน้าเธอ“ลานะครับ” หยางเฟยอวี่พูดพร้อมกับยิ้มยกมือขอโทษ ก่อนจะพูดต่อ “เดี๋ยววันหยุดหน้าผมจะพาน้องปริมมาเยี่ยมใหม่”คุณนายหยางมองหน้าลูกชายอย่างมองผ่าน “เอาเถอะ วันหยุดหน้าค่อยมาเจอกันใหม่” เธอพูดไปพร้อมกับยิ้มและขยับตัวกลับเข้าไปในบ้าน แต่ยังไม่วายหันมาทางปราณปรียาและพูดด้วยน้ำเสียงอ่อนโยน “ดู
หลังจากที่หยางเฟยอวี่บอกว่าจะพาปราณปรียาไปยังที่แห่งหนึ่งในอีกสองวัน หญิงสาวก็รีบลางานล่วงหน้าที่ร้านดอกไม้ฮวาฮวา ร้านนี้เป็นที่ที่เธอทำงานเพราะหลงใหลในการดูแลดอกไม้ และอีกเหตุผลหนึ่งคือ "มิวมิว" แมวสีขาวที่นับวันก็ยิ่งอ้วนกลมจนเธออดหยิกแก้มมันไม่ได้ทุกครั้ง“ปริม คุณหยางมาถึงแล้วจ้ะ” เจียวมีฮวา เจ้าของร้านดอกไม้ตะโกนเรียกจากด้านหน้า เมื่อปราณปรียาเงยหน้าขึ้นจากช่อดอกไม้ที่เธอกำลังจัด ก็เห็นร่างสูงในชุดทำงานยืนพิงรถอยู่หน้าร้านหยางเฟยอวี่ถือโทรศัพท์ไว้ในมือ เขาแต่งตัวเรียบร้อยอย่างมีระดับ ทว่าท่าทางเย็นชาและใบหน้าคมคายที่นิ่งสงบของเขาทำให้คนที่เดินผ่านไปมาอดเว้นระยะออกห่างไม่ได้ แต่ทุกอย่างเปลี่ยนไปทันทีที่เขาเหลือบเห็นหญิงสาวในชุดกระโปรงสีขาวเดินออกมาจากร้าน ดวงตาคมอ่อนโยนขึ้นอย่างเห็นได้ชัด และริมฝีปากที่เคยเรียบเฉยกลับยกยิ้มกว้างจนปิดไม่มิด“วันนี้ทำงานเหนื่อยไหมครับ” หยางเฟยอวี่เอ่ยถามขณะเดินเข้ามาหาเขาเก็บโทรศัพท์เข้ากระเป๋าอย่างรวดเร็ว“ไม่ค่ะ พี่เฟยอวี่รอนานไหมคะ” หญิงสาวตอบพลางส่งยิ้มบาง“ไม่นานหรอกครับ คนดี” เขาตอบเสียงนุ่มก่อนจะจับมือของเธออย่างอ่อนโยนและพาเข้าไปในรถเมื่อท
หลังจากนั้นไม่นาน ปราณปรียาก็ได้รับรู้ถึงเหตุผลที่ทำให้ถังเหมยหลินมาเกาะติดเธอเหมือนเงาตามตัวเรื่องราวที่ถูกพูดถึงในกลุ่มเพื่อนเริ่มกระจายไปทั่ว หวังหย่วน หนุ่มเพื่อนร่วมคลาสที่เคยมีภาพลักษณ์ดี ทำผู้หญิงคนหนึ่งในกลุ่มเดียวกับถังเหมยหลินท้องโดยไม่รับผิดชอบ เรื่องนี้สร้างความสะเทือนใจให้ถังเหมยหลินอย่างรุนแรง เพราะนอกจากจะรู้สึกโกรธแทนเพื่อนแล้ว ยังทำให้เธอเสียศูนย์ในความมั่นใจของตัวเองหญิงสาวที่เคยวางท่าโอหังและมั่นใจในตัวเองมาโดยตลอด ตอนนี้กลับเต็มไปด้วยความหวาดระแวง เธอเริ่มตั้งคำถามกับทุกความสัมพันธ์ในชีวิต ว่าใครกันแน่ที่จริงใจกับเธอ และใครที่อาจจะซ่อนมีดไว้ข้างหลังในสายตาของถังเหมยหลิน ปราณปรียาคือคนเดียวที่ดูแตกต่าง หญิงสาวที่มักวางตัวนิ่ง ๆ ไม่เข้าไปยุ่งเกี่ยวหรือใส่ใจกับเรื่องวุ่นวายรอบตัว กลับดูเป็นตัวเลือกที่ปลอดภัยที่สุด“ฉันแค่ต้องการเพื่อนที่จริงใจสักคน” ถังเหมยหลินพูดขึ้นในวันหนึ่งหลังจากเงียบอยู่นาน ปราณปรียาที่ได้ยินเช่นนั้นเพียงเงยหน้าจากหนังสือและยิ้มเล็กน้อย“ฉันไม่ไล่เธอหรอก ถ้าเธออยากจะเล่าอะไร ฉันรับฟังได้เสมอ”คำพูดเรียบง่ายของปราณปรียาทำให้ถังเหมยหลินที่กำลัง
ปราณปรียาเดินมาหยุดยืนหน้าร้านพรีเวดดิ้งที่ตั้งอยู่ใจกลางย่านเศรษฐกิจ ตึกสูงสามชั้นที่ตกแต่งอย่างทันสมัยโดดเด่นด้วยบานกระจกใสขนาดใหญ่สะท้อนแสงอาทิตย์ระยิบระยับ ป้ายชื่อร้านสลักด้วยอักษรสีทองที่เปล่งประกาย อ่านได้ชัดเจนว่า ร้านซินโหรวตัวอักษรที่สื่อถึงความหรูหราและเรียบง่ายในคราวเดียวกัน ช่วยเสริมภ
ก๊อก ก๊อก ก๊อกเสียงเคาะประตูทำให้ปราณปรียาที่กำลังเหม่อมองม่านหน้าต่างต้องละสายตาจากท้องฟ้ายามค่ำคืน ร่างบอบบางลุกขึ้นจากเก้าอี้เดินตรงไปที่ประตู เมื่อมองผ่านช่องตาแมวเห็นใบหน้าคุ้นเคยของเพื่อนสนิท เธอจึงเปิดประตูด้วยรอยยิ้ม“เหนื่อยจริง ๆ! ทำไมปริมถึงไม่เลือกห้องพักที่มีลิฟต์นะ” เอมอรบ่นพลางใช้มื
“คุณชายใหญ่ เป็นอะไรหรือเปล่าครับ?”มู่เจิ้ง ผู้ช่วยคนสนิทเอ่ยถามอย่างอดไม่ได้ ตั้งแต่ขึ้นรถมา หยางเฟยอวี่ไม่ได้พูดอะไรสักคำ สีหน้าของเขาดูเคร่งเครียดผิดปกติ แถมยังหยิบบุหรี่ขึ้นมาสูบแทบไม่หยุด ควันสีเทาลอยคละคลุ้งจนเต็มรถ ราวกับสะท้อนอารมณ์ที่ปั่นป่วนอยู่ภายในใบหน้าคมที่มักสงบนิ่งกลับขึ้นสีแดงจาง
หยางเฟยอวี่ขมวดคิ้ว หงุดหงิดจนแทบระเบิด วันนี้เขามีนัดเจรจาธุรกิจสำคัญ แต่ต้องมาถูกลูกพี่ลูกน้องตัวดีลากมาสนามบินเพื่อรับเพื่อนสนิทของอีกฝ่าย ทั้งที่ไม่ได้เกี่ยวอะไรกับเขาเลย หากไม่ใช่เพราะอยู่ในสถานที่พลุกพล่านแบบนี้ เขาคงหยิบบุหรี่ขึ้นมาอัดควันลึกเข้าปอด เพื่อระบายความอึดอัดใจให้หายไปเสียที"ถ้าเ