Masukเพราะความเข้าใจผิด ทำให้ต่างคนต่างก็แสดงท่าทีเย็นชาใส่กัน ทำให้ต่างคนต่างก็พลาดช่วงเวลาแห่งความสุขไป กว่าจะรู้ตัวว่าอีกฝ่ายมีความสำคัญในชีวิตของตนมากแค่ไหน อีกฝ่ายก็ได้จากไปตลอดกาลเสียแล้ว...
Lihat lebih banyak"Tuan, tolong saya. Saya mohon …"
Saat ini di sebuah kamar hotel seorang perempuan berpenampilan acak-acakan sedang merengek pada seorang pria berparas datar dan dingin.
Bukan tanpa alasan perempuan itu merengek meminta pertolongan pada pria yang dikenalnya. Terlebih, setiap hari dia bertemu pria dingin tersebut.
Seandainya dia tak lagi sedang dalam keadaan terdesak. Mana mungkin dia berani meminta hal yang sangat-sangat mustahil dan terkesan murahan.
"Shanum, apa kamu yakin?" Pria beralis tebal dan bermanik hitam itu mencoba meyakinkan sekali lagi. "Saya tidak ingin kamu menyesalinya setelah ini," tegasnya.
Perempuan bernama Shanum itu mengangguk cepat. "Saya yakin, Tuan. Yakin seribu persen. Dari pada saya harus menderita semalaman gara-gara obat sialan itu, lebih baik saya … saya minta bantuan sama Tuan Ozkhan."
Keputusan berat yang harus diambil Shanum, setelah dirinya dijebak oleh suaminya sendiri. Sial! Hidupnya benar-benar sial setelah menikah dengan Orhan—suaminya yang tak tahu diri dan tukang bohong.
"Ini semua gara-gara suami saya. Dia menjual saya, Tuan. Dia bohongi saya. Dia menjadikan saya sebagai penebus utang." Shanum memberikan penjelasan kepada Ozkhan—pria yang merupakan atasannya sendiri.
Ya, entah nasib apa yang digariskan oleh Tuhan pada kehidupan Shanum. Sampai-sampai dia berada di situasi sekarang ini.
Bertemu secara tidak sengaja di sebuah hotel ternama saat dia hendak melarikan diri dari pria 'berengsek' yang mengaku sudah membelinya. Shanum baru sadar jika suaminya lebih dulu mencekoki dirinya dengan obat perangsang.
Ozkhan berdecak keras, melihat sekretarisnya menceritakan kemalangannya. Tangannya secara sadar terulur, menyentuh sudut bibir Shanum yang berdarah. Miris sekali nasib perempuan di hadapannya ini, pikirnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Ozkhan, dengan raut datar. Namun, sorot matanya memancarkan kemarahan serta ketidaksukaan.
Shanum mengerjap, hingga cairan bening tak dapat dibendung lagi. Air matanya meleleh seiring isakannya. "Pria itu, Tuan. Dia yang melakukannya," ucap Shanum, sambil menahan rasa sesak yang teramat di dada.
Rahang Ozkhan seketika mengetat. Tatapan datar dan dingin itu berubah menjadi tatapan iba. "Ini juga?" Dia melirik lengan Shanum yang lebam, seperti habis terbentur sesuatu yang keras.
Shanum hanya mengangguk. Maniknya terpejam sesaat, lalu terangkat untuk sekadar menatap Ozkhan. "Tuan …"
Ozkhan menghela napas panjang. Membalas tatapan Shanum yang terlihat mengiba. "Suamimu ke mana?"
Shanum menggeleng, lalu berdiri. Obat perangsang semakin mempengaruhi akal sehatnya. Dengan tak tahu malu, Shanum mengalungkan kedua lengannya di leher Ozkhan. "Tuan … Tubuh saya rasanya sangat panas. Saya sudah tidak bisa menahannya lagi."
"Shanum …" Ozkhan memalingkan wajah ketika Shanum hendak menciumnya. Dia juga menahan pinggang perempuan itu agar tak terlalu dekat dengannya.
"Please, Tuan. Saya mohon …. Saya benar-benar tidak bisa menahannya." Anggaplah kali ini Shanum benar-benar sudah gila. Bagaimana tidak? Jelas-jelas yang dia mintai tolong adalah atasannya yang sudah beristri.
'Aku tidak peduli. Untuk saat ini hanya itu cara yang bisa menangani efek obat sialan ini. Soal ke depannya, kita lihat saja nanti.' Batin Shanum berperang dengan logikanya.
Ozkhan sendiri tak bisa berpikir apa pun untuk saat ini. Di satu sisi dia sudah mengenal Shanum dengan baik, dan di sisi lain Ozkhan tak bisa mengelak jika sang sekretaris memang memiliki daya tarik tersendiri di matanya sebagai laki-laki.
"Saya gerah!" Shanum tiba-tiba menurunkan resleting dress-nya, hingga kain itu luruh ke bawah kakinya. Yang tersisa hanya underwear warna merah yang menutupi kedua aset berisi nan sintal, dan inti tubuhnya.
Melihat tingkah Shanum yang ekstrem, Ozkhan tentu terperanjat. Bola matanya membulat sempurna, ketika pemandangan indah terpampang nyata di hadapan.
Ozkhan mendesah frustrasi. Dia sadar jika saat ini Shanum tidak sadar dengan apa yang diperbuatnya. Pengaruh obat perangsang memang sangat berbahaya.
"Shanum, apa yang kamu lakukan?" Suara Ozkhan bahkan terdengar serak dan berat.
"Saya hanya melakukan yang seharusnya, Tuan. Saya benar-benar tersiksa. Jadi, saya minta, Tuan mau membantu saya." Suara Shanum terdengar serak, dan berkali-kali dia menggosok kedua telapak tangan di depan muka. "Tuan …" Tatapannya semakin sayu.
"Ikut saya!" Ozkhan menarik tangan Shanum, membawanya ke kamar mandi, dan berdiri tepat di bawah shower. "Diam di sini."
Shanum kebingungan saat ini karena Ozkhan malah mengguyurnya dengan air dingin. "Tu- Tuan mau apakan saya? Saya tidak minta dimandikan, tapi …"
"Diamlah. Saya sedang berusaha meredakan efek obat itu," kata Ozkhan, menahan lengan Shanum agar tidak pergi, meski dia sendiri hampir basah karena cipratan air.
Shanum tak tahu kalau Ozkhan adalah pria normal yang tentu akan bereaksi jika disajikan pemandangan erotis semacam ini. Namun, meski pun begitu, Ozkhan masih tetap waras untuk tidak menuruti kemauan gila sekretarisnya.
"Dingin, Tuan." Shanum tidak bohong, saat ini dia benar-benar kedinginan. Tubuhnya yang semula panas kini menjadi dingin.
Ozkhan tak menanggapi. Diam-diam dia menikmati keindahan di depan mata. Kulit Shanum yang putih dan lekukan-lekukan yang pas begitu menggoda. Apalagi di bawah kucuran air seperti sekarang, membuat Shanum terlihat seksi.
Satu hal yang baru Ozkhan sadari—ternyata sekretarisnya itu sangat cantik.
'Sial! Singkirkan pikiran kotormu itu, Ozkhan. Dia sudah bersuami dan kamu juga sudah beristri.' Ozkhan membatin kesal, merutuki dirinya yang sudah lancang berpikiran mesum terhadap sekretarisnya sendiri.
Dan untuk itu, Ozkhan pun memilih menjauh. Demi kebaikan Shanum dan juga dirinya sendiri. Ozkhan berdiri bersandar pada dinding, dan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Lama-lama dia sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri.
"Tuan, berapa lama saya harus seperti ini?" tanya Shanum, yang mulai kedinginan. Bibirnya menggigil, dan sekujur tubuhnya gemetar.
"Satu jam," jawab Ozkhan tanpa mengalihkan tatapan dari pintu kamar mandi yang terbuka. Mati-matian dia menahan hasrat yang tak tahu malu muncul ke permukaan.
"Apa Tuan, satu jam? Bisa-bisa saya mati kedinginan," cicit Shanum. "Kenapa harus pakai cara seperti ini, kalau ada cara yang lebih menguntungkan," gumam Shanum, merasa jika cara tersebut sama sekali tak membantu.
Tentu saja Ozkhan dapat mendengar omongan Shanum, meski samar-samar. Sudut bibir lelaki tinggi itu berkedut, dadanya tak berhenti berdebar sedari tadi. Dia memilih tak menanggapi perkataan konyol Shanum.
Ozkhan berdeham berat, seraya bersedekap, sementara Shanum tertunduk lesu sambil menatap dirinya sendiri. Dari ujung kaki sampai ke dadanya yang berukuran cukup berisi.
Tiba-tiba saja Shanum berceletuk, "Tuan … Setidaknya Anda menatap saya. Apa Anda tidak tergoda dengan saya? Atau memang tubuh saya kalah jauh dengan tubuh istri Anda?"
Ozkhan masih diam, meski dia ingin sekali membalas celetukkan Shanum. Yang dikatakan perempuan itu tidaklah benar.
Andai saja Ozkhan bisa bicara blak-blakan kepada sekretarisnya itu. Namun, Ozkhan harus tetap menjaga imej-nya sebagai atasan, bukan?
'Dia tidak tahu kalau sejak tadi aku mati-matian menahan hasrat ini. Sial!' Ozkhan membatin.
"Tuan … seandainya Anda mau membantu saya. Saya janji akan merahasiakan hal ini. Saya pastikan ini yang pertama dan yang terakhir," ujar Shanum, yang sebenarnya dia sendiri merasa malu berkata demikian. "Saya pastikan, Nyonya Numa tidak akan pernah tahu soal ini."
Shanum menggigit bibir bawahnya, sambil melirik Ozkhan yang tak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu.
Sejurus kemudian, ponsel Ozkhan berdering. Dan dengan cepat dia menjawab panggilan telepon dari seseorang yang dia percayai.
"Ya. Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan buktinya?" tanya Ozkhan yang nampak serius.
'Saya sudah mendapatkan buktinya, Tuan. Saya sudah mengirim beberapa fotonya.'
"Oke. Terima kasih. Kamu boleh pergi dari sana."
Ozkhan mengakhiri pembicaraan, lalu mengecek beberapa foto yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya di ponselnya.
Tatapan Ozkhan menajam ketika melihat foto-foto tersebut. Dia hanya menyeringai, lalu menonaktifkan ponselnya.
"Shanum …" panggil Ozkhan, sambil meletakkan ponsel ke pinggir wastafel.
"Ya, Tuan." Shanum melihat Ozkhan melepas jas, dan menatapnya dengan tatapan berbeda.
Ozkhan lantas mendekat pada Shanum dengan seringai penuh arti. "Apa kamu masih membutuhkan bantuan saya?"
Shanum mengerjap lambat ketika tahu-tahu Ozkhan sudah berdiri di hadapan dan merengkuh pinggangnya. "Apa Tuan mau membantu saya?"
Tak ada jawaban dari mulut Ozkhan, karena saat ini lelaki itu sedang diliputi perasaan kesal bukan main. Pikirannya pun sudah tidak bisa dikendalikan. Saat ini yang dia butuhkan hanyalah pelampiasan.
"Maaf Shanum, kalau saya sudah kurang ajar. Tapi, menurut saya, ini tidak ada salahnya. Kita bisa merahasiakan hal ini. Kamu butuh saya, dan saya juga butuh kamu," kata Ozkhan, tanpa sungkan meraba bibir Shanum yang menggoda dengan ibu jari. Dan kali ini tubuhnya sudah benar-benar basah serta menginginkan Shanum.
Shanum mendongak lalu menelan ludah. Dia tak pernah membayangkan jika dia akan berada di posisi sekarang ini. Berada sangat dekat dengan atasannya.
"I-Iya, Tuan. Tidak masalah. Saya—"
"Kalau begitu, kita bisa memulainya."
Ozkhan lantas meraup bibir Shanum, menciumnya tanpa permisi. Perlahan dia mendorong tubuh Shanum agar merapat pada dinding kamar mandi. Awalnya Shanum cukup kewalahan, tetapi perlahan dia bisa mengimbangi permainan lidah sang atasan yang sangat liar.
Dan dari sinilah kisah mereka dimulai!
****
Bersambung....
หลังจากพูดคุยกันอยู่นานเกือบสองเค่อ เสียงของทารกน้อยที่นอนอยู่ห้องข้างๆ ก็ดังขึ้นมา จ้าวฟางเซียนรีบบอกกล่าวมารดา แล้วรีบเดินออกไปหาบุตรชาย หลังฟื้นมาจากฝันร่้ายในวันนั้น จ้าวฟางเซียนก็รู้สึกเสียใจเป็นอันมาก ที่สองวันแรก นางไม่อาจให้นมบุตรชายเองได้ ดีที่แม่สามีมองการณ์ไกล เตรียมแม่นมเอาไว้ให้ เผื่อเจอกับเหตุการณ์ที่ไม่คาดคิดและสองวันแรกที่นางคลอดลู่หมิงออกมา ก็เกิดปัญหาขึ้นมาจริงๆ หลังจากที่นางตื่นขึ้นมา ก็พยายามดูแลร่างกายตนเอง และกินอาหารบำรุงน้ำนม ไม่ถึงเจ็ดวัน นางก็ขออนุญาตแม่สามี ให้นางป้อนนมลูกด้วยตัวเอง จางซื่อก็ไม่ได้ห้ามปรามอันใด เพราะน้ำนมจากมารดาย่อมดีกว่านมจากผู้อื่นอยู่แล้ว นับตั้งแต่นั้นมา จ้าวฟางเซียนก็ให้นมเซี่ยลู่หมิงเองเรื่อยมา ทว่ามีแม่นมฉินอยู่คอยช่วยดูแลบุตรชาย ในเวลาที่นางไม่ต้องให้นมหวงซื่อเดินตามบุตรสาวเข้ามาในห้องของหลานชาย นางมองไปยังบุตรสาว ที่ออกเรือนมาได้ไม่ถึงสามปี ทว่ายามนี้ได้มาเห็น ว่านางนั้นมีครอบครัวที่สมบูรณ์พูนสุขเพียงใด ก็พลอยให้รู้สึกโล่งใจ จากที่เคยคิดเป็นกังวล ว่านางจะได้พบเจอกับความยากลำบาก ในการใช้ชีวิตอยู่ในตระกูลขุนนางใหญ่ ก็ทำให้นางวางใจล
วันเวลาผันผ่านไปอย่างรวดเร็ว จากฤดูที่หนาวเย็นยะเยือก แปรเปลี่ยนมาเป็นฤดูใบไม้ผลิ เทศกาลลี่ชุนก็ได้เวียนมาถึงอีกหน อากาศเริ่มอบอุ่นขึ้นเรื่อยๆ สรรพสิ่งเริ่มงอกงาม หลายครอบครัวที่ทำการเกษตร เริ่มต้นการเพาะปลูก สรรพสัตว์เริ่มออกจากการจำศีล เพื่อออกหากิน เหล่านายพรานกลับมาทำอาชีพของตนบ้านเมืองสงบสุขร่มเย็น ชาวเมืองยิ้มแย้มแจ่มใส เด็กน้อยที่กำลังวิ่งเล่น ส่งเสียงหัวเราะออกมา จนทำให้ผู้ใหญ่ทั้งหลายที่ได้ยิน ต่างก็พากันยิ้มได้ จวนตระกูลเซี่ยยามนี้ ก็ไม่ต่างไปจากสถานที่อื่น หรือจวนอื่นนัก ทว่าวันนี้ที่จวนสกุลเซี่ย ได้จัดงานครบเดือนให้แก่คุณชายน้อย ที่มีอายุครบหนึ่งเดือนพอดี บรรยากาศภายในจวน จึงเต็มไปด้วยความชื่นมื่นมีความสุขตระกูลจ้าวถือโอกาสที่เหลนน้อยอายุครบเดือน พากันเดินทางมาจากเมืองหนานจาง เพื่อมาเยี่ยมเยือนจ้าวฟางเซียน และบุตรชายของนางที่จวนสกุลเซี่ย เมืองหนานจง จ้าวฟางเซียนมองไปยังผู้คนจากตระกูลเดิมของตน ด้วยความรู้สึกตื้นตันใจ นางไม่เคยคิดเคยฝันเลยว่า ชีวิตของนางจะมีโอกาส ได้มาเห็นภาพแห่งความสุขเช่นในวันนี้ท่านปู่ท่านย่าที่อายุมากแล้ว ก็ยังอุตส่าเดินทางมาถึงที่นี่ เพื่อมาอวยพรให้เ
“หลงเอ๋อร์…จ้าวซื่อกับเจ้า ได้ตั้งชื่อเตรียมเอาไว้ให้เขาแล้วใช่หรือไม่”จางซื่อถามบุตรชายออกมาขณะที่ส่งทารกในห่อผ้าไปให้เขา เซี่ยเฟยหลงหัดอุ้มเด็กกับภรรยามาบ้างแล้ว แม้จะมีท่าทีเงอะงะงุ่มง่าม ทว่ากลับดูไม่ขัดตาเท่าใดนัก เซี่ยเฟยหลงก้มมองดวงหน้าเล็กเท่าฝ่ามือของบุตรชาย ก่อนที่จะเอ่ยนามของเขาออกมา“เซี่ย…ลี่หมิง”เพราะเขาคือแสงสว่างอันงดงาม ส่องลงมายังบนโลกมนุษย์ให้ความอบอุ่นแก่ผู้คน จ้าวฟางเซียนเป็นผู้ที่ตั้งชื่อบุตรชาย ส่วนตัวเขาเป็นผู้ที่ตั้งชื่อบุตรสาวเอาไว้ ทว่ากลับไม่ได้ใช้ ช่างเป็นวาสนาของเจ้าตัวน้อยเสียจริง ที่ได้ชื่อที่มารดาเป็นผู้ที่ตั้งให้“นามไพเราะ ความหมายดี…หมิงเอ๋อร์หลานย่า” จางซื่อยื่นมือไปรับหลานชายกลับมา เซี่ยเฟยหลงไม่ดื้อดึง ส่งทารกในห่อผ้ากลับคืนให้แก่มารดาทันที“จ้าวซื่อเป็นคนตั้งชื่อให้เขาใช่หรือไม่” นายท่านผู้เฒ่าเซี่ยเอ่ยถามหลานชายออกมา ก่อนที่จะกวักมือเรียกลูกสะใภ้ให้พาเหลนตัวน้อยมาให้เขาได้เชยชมบ้าง“ขอรับท่านปู่…นางตั้งชื่อบุตรชาย ส่วนข้าตั้งชื่อบ
หลังจากที่ตรวจพบว่า จ้าวฟางเซียนตั้งครรภ์ จางซื่อก็ได้ส่งแม่นมฉิน ให้มาทำหน้าที่คอยดูแลฮูหยินน้อยอย่างใกล้ชิด แม้เซี่ยเฟยหลงจะรับปากกับมารดาว่า เขาจะไม่ล่วงเกินภรรยา ขอเพียงแค่ให้เขาได้นอนกอดนางก็พอคราแรกจางซื่อก็ไม่ยินยอม ทว่าจ้าวฟางเซียนกลับช่วยพูดให้แม่สามีเข้าใจ จางซื่อจึงยอมอ่อนข้อให้แก่บุตรชาย ทว่ากลับให้แม่นมฉิน มานอนเฝ้าอยู่ที่หน้าฉากกั้นแทน เช่นนั้นแล้วหากเซี่ยเฟยหลงมีความคิดเหลวไหล ย่อมถูกแม่นมฉินจับได้“โหวเหย…ท่านต้องเห็นใจบ่าวด้วยสิเจ้าคะ บ่าวก็ไม่ได้อยากทำเช่นนี้ แต่ในเมื่อนายหญิงท่านสั่งมา บ่าวจะกล้าขัดได้อย่างไรกัน”เซี่ยเฟยหลงจ้องหน้าแม่นมตาเขม็ง แม่นมฉินฉีกยิ้มกว้างออกมา ก่อนที่จะสั่งให้คนนำตั่งตัวยาวมาวางไว้ ด้านหน้าฉากกั้น จ้าวฟางเซียนนึกขัน ให้กับใบหน้าของสามีที่กำลังบูดบึ้ง พลางมองไปยังแม่นมฉินด้วยแววตาอบอุ่นแม่นมฉินแคล้วคลาดจากความตายในความทรงจำของนาง หรืออาจจะเป็นเพราะนางมีครรภ์ ถึงได้ทำให้เหตุการณ์บางอย่างเปลี่ยนไป นางเองก็ไม่แน่ใจเช่นกัน เพราะถ้าหากเหตุการณ์ดำเนินไปตามที่นางเคยพบเจอแม่นมฉินจะต้องจากไปตั้งแต่ต้น
สายลมที่พัดเอื่อยๆ มาในยามเช้าเช่นนี้ เหมาะแก่การชื่นชมภาพบรรยากาศเบื้องหน้า ที่เป็นทุ่งบุปผายิ่งนัก ซู่เอ๋อ สาวรับใช้คนสนิท รีบไปชงชาร้อนให้แก่คุณหนูของนาง และเซี่ยโหวอย่างรู้หน้าที่ สองหนุ่มสาวเดินไปหยุดยืนเคียงข้างกัน มองไปเบื้องหน้าที่เป็นทุ่งบุปผากว้างขวางสุดลูกหูลูกตา บุปผาที่เติบโตในทุ่งแห
เป็นเพราะเริ่มรู้สึกตระหนักได้ว่า ชีวิตในภายภาคหน้าอาจจะไม่ปลอดภัย และเพราะความหวาดกลัว ในชื่อเสียงของท่านแม่ทัพทิศใต้อย่างเซี่ยโหว ผู้ที่มีสถานะเป็นพี่ชายของคุณชายเซี่ยผู้ล่วงลับ ใครจะไปคิดว่าคุณชายรูปร่างหน้าตางดงามเช่นนั้น จะเกิดในตระกูลแม่ทัพ อีกทั้งยังบังเอิญจะได้เกี่ยวดองกับตระกูลจ้าวอีก เห
รถม้าของจวนตระกูลจ้าวถูกบ่าวชายของจวน บังคับขับเคลื่อนไปตามเส้นทางที่มุ่งหน้าสู่ตลาดใหญ่ใจกลางเมืองหนานจาง สองพี่น้องนั่งพูดคุยกันตลอดทางโดยมีสองสาวรับใช้คนสนิทนั่งฟังคุณหนูทั้งสองอยู่เงียบๆ จ้าวฟางเซียนรู้สึกว่าพี่หญิงใหญ่เปิดใจให้นางมากขึ้น เพราะเรื่องที่คุยกันส่วนใหญ่ก็จะเป็นเรื่องที่เกี่ยวกับคุ
หลังจากเกิดเหตุการณ์ที่จ้าวฟางหรูทำให้ผู้เป็นบิดาไม่พอใจแล้ว สถานการณ์ภายในเรือนฟางเฟยจึงอึมครึมลงไม่น้อย จ้าวหวังเหล่ยทำตัวหมางเมินและแสดงท่าทีเย็นชาใส่บุตรสาวคนโต จนถึงวันพิธีปักปิ่นของจ้าวฟางเซียน สองพ่อลูกจึงได้ลดความหมางเมินนั้นลง ยามนี้พิธีปักปิ่นของจ้าวฟางเซียนก็ผ่านพ้นมาได้ครบหนึ่งเดือนแล้ว











