แม่นาง! มาเป็นฮูหยินข้าเถิด

แม่นาง! มาเป็นฮูหยินข้าเถิด

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-09-10
Oleh:  ถานเซียงOngoing
Bahasa: Thai
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
39Bab
603Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“แม่นาง หากเจ้ารับข้าไว้เป็นสามี เจ้าจะได้ตำแหน่งฮูหยินแม่ทัพไปครอง...ยังไม่หมดเพียงเท่านี้ หากเจ้าตอบตกลงภายในหนึ่งเค่อ ทรัพย์สมบัติในจวนข้าจะเป็นของเจ้าครึ่งหนึ่งทันที” “....” “แต่หากเจ้าตอบตกลงตอนนี้ ข้าจะแถมม้าอีกห้าตัว และข้าวสารอีกห้าเกวียนให้เจ้าเพื่อเป็นของกำนัล” “....” “ตกลงเลยหรือไม่ สามีเช่นข้าไม่ได้หาง่ายๆ หรอกนะ” หญิงสาวได้แต่กรีดร้องอยู่ในใจ มือบางคว้าถ้วยน้ำชาที่วางอยู่ข้างๆ ขว้างใส่ร่างสูงทันที “ออกไปนะเจ้าหมีบ้า!..สามีอันใดข้าไม่ต้องการ!!!”

Lihat lebih banyak

Bab 1

บทที่ 1

"Aduh … dadaku ngilu banget," rintih Zea pelan. Ia sedang duduk sendirian di tepi ranjang sambil menekan alat pompa ASI ke dadanya.

Setiap kali melakukan rutinitas itu, rasa malu dan bingung yang menjalar di tubuhnya. Ini tidak masuk akal, bahkan sungguh di luar logika dan nalar manusia!

Padahal gadis itu belum pernah menikah. Seumur hidupnya pun belum pernah merasakan hamil. Tidak ada janin yang ia kandung, tidak ada pula bayi yang ia susui.

Ini semua dimulai dua minggu lalu ketika dadanya tiba-tiba terasa berat dan penuh, sampai akhirnya ia dan ibunya panik dan langsung dibawa ke dokter.

Hasilnya, dokter hanya menyebutnya sebagai gangguan hormon yang langka, tapi tidak berbahaya. Jadi tak perlu dikhawatirkan.

Tidak perlu khawatir? Mudah sekali Dokter itu mengatakannya!

Zea masih dua puluh dua tahun! Belum setahun ia lulus kuliah di jurusan Psikologi, belum ada pemikiran untuk menikah, atau melahirkan anak dan menyusui.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dua kali sebelum langsung terbuka.

"Zea, Mama bawain bra baru." Donna masuk sambil memegang tas belanjaan, lalu berhenti sejenak melihat anaknya. "Oh, lagi pumping. Ya sudah, Mama taruh di sini dulu."

Ia meletakkan tas itu di atas kasur. Dari dalamnya terlihat beberapa kotak bra baru dengan ukuran yang jelas lebih besar dari ukuran dada Zea sebelumnya.

"Mama beli berapa bra?" tanya Zea.

"Jangan tanya." Donna menjatuhkan diri di sisi kasur dengan ekspresi seorang ibu yang dompetnya baru saja mengalami musibah. "Enam, karena semua bra lamamu sudah nggak muat."

Zea meringis. "Maaf, Ma."

"Kamu ini. Baru lulus kuliah, belum kerja, eh malah bikin Mama keluar uang buat bra, alat pompa, botol, storage bag …." Ia menghitung dengan jari sambil mendengus. "Harusnya kamu sekalian punya bayi sekarang, Zea. Kasih Mama cucu!"

Zea hanya mendengus kesal. Ia tahu ibunya hanya bercanda, tapi tidak dipungkiri, Zea merasa bersalah karena kondisi tubuhnya merepotkan orang lain.

Beberapa menit kemudian setelah selesai pumping dan berganti baju, Zea pun keluar kamar untuk bergabung di meja makan untuk sarapan.

“Zea, kamu masih nganggur kan?”

Ucapan Zavian, kakak laki-laki Zea, membuat gadis itu mendongak dengan sedikit kaku.

“Iya, Kak. Tapi aku lagi cari kerja, kok.”

“Bagus. Kamu nggak ada kegiatan hari ini, kan? Ikut Kakak ke pusat pelatihan. Bantu Kakak di sana, Kakak butuh asisten.”

Zea tercengang sejenak. Zavian adalah mantan atlet renang yang pernah meraih gelar juara nasional saat masih aktif. Sekarang, ia berprofesi sebagai pelatih renang yang menangani sebuah klub renang elit.

Lalu tiba-tiba, ia merekrut adiknya menjadi asisten?

Zea menoleh ke arah Donna yang muncul dari arah dapur. "Iya tuh. Kamu ikut Kakakmu saja. Daripada di rumah, pumping terus."

Tentu saja mamanya setuju dengan kakaknya!

Zavian mengangguk. "Kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Kamu siap-siap."

Beberapa saat kemudian, perjalanan ke pusat pelatihan ditempuh kurang dari dua puluh menit.

Pusat pelatihan renang itu ternyata lebih besar dari yang Zea bayangkan. Gedung indoor dengan langit-langit tinggi, kolam berukuran olimpik, dan bau klorin yang langsung menusuk begitu pintu dibuka.

Tapi, yang tidak Zea bayangkan adalah betapa banyaknya laki-laki di dalam sana.

Para atlet yang sedang berlatih, staf pendamping, pelatih-pelatih lain … semuanya laki-laki!

Zea berjalan di belakang Zavian, berusaha sembunyi di balik punggung lebar kakaknya. Ia sedikit malu karena ia satu-satunya perempuan di sini.

Mata Zea melirik ke ujung kolam. Seorang pria yang baru saja berenang, dan naik ke tepi kolam.

Air menetes dari rambut basahnya, mengalir deras melewati dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna.

Pria itu berhenti di depan Zavian.

"Coach. Pagi," sapa pria itu. Suaranya terdengar dalam. Lalu tatapan tajamnya berpindah ke perempuan yang berdiri di sisi pelatihnya.

"Pagi," jawab Zavian singkat. "Ini Zea, hari ini dia ikut dan jadi asisten saya."

Zea menelah ludah saat iris mata gelap atlet itu menyorot ke arahnya. Zea kenal pria ini.

Wajah pria itu terlihat lebih dewasa, lebih tajam, dan lebih tegas. Tubuhnya juga lebih tinggi dan menjulang dari yang Zea ingat.

“Marco…?”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
39 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status