Short
ไม่จำเป็นต้องเฝ้าคะนึงหาในช่วงชีวิตที่เหลือ

ไม่จำเป็นต้องเฝ้าคะนึงหาในช่วงชีวิตที่เหลือ

By:  ชอบกินหมั่นโถวKumpleto
Language: Thai
goodnovel4goodnovel
29Mga Kabanata
5.0Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

“เวยเวย ในครอบครัวช่วยลูกจัดเตรียมเรื่องการแต่งงานมาตั้งแต่เด็กแล้ว ตอนนี้ลูกก็ใกล้จะหายป่วยแล้วด้วย ลูกเต็มใจจะกลับมาแต่งงานที่เมืองหลวงไหม?” “ถ้าไม่เต็มใจ แม่จะไปคุยกับพ่อของลูก ให้ยกเลิกเรื่องงานแต่งครั้งนี้” ในห้องเงียบสนิท ซ่งสือเวยทำได้เพียงฟังเสียงอีกฝ่ายเงียบ ๆ ขณะที่ปลายสายคิดว่าครั้งนี้ก็คงไม่อาจโน้มน้าวเธอได้ เธอก็พูดขึ้นมาอย่างกะทันหันว่า “หนูเต็มใจจะกลับไปแต่งงานค่ะ” แม่ซ่งที่อยู่ปลายสายถึงกับชะงัก ดูเหมือนจะแปลกใจเล็กน้อย “ลูก ลูกตกลงแล้วเหรอ?” ซ่งสือเวยมีน้ำเสียงราบเรียบ “ตกลงค่ะ แต่หนูยังต้องการเวลาอีกนิดหน่อยเพื่อจัดการเรื่องทางฝั่งไห่เฉิงให้เรียบร้อย หนูจะกลับไปภายในครึ่งเดือน แม่ก็เตรียมงานแต่งให้เรียบร้อยก่อนเถอะค่ะ” หลังพูดจบก็กำชับอีกสองสามประโยค เธอจึงวางสาย

view more

Kabanata 1

บทที่ 1

“Kalian sudah melihatnya bukan? Dia ada di sebelah sana, sedang terpuruk, minum sendirian dan ... kalian punya waktu banyak untuk bersama dengannya.”

“Jangan lupakan kalau kita sudah membayar, sehingga kita harap kalau kamu tidak memberikan batasan atas apa yang akan kita lakukan padanya!”

Senyuman terukir dengan jelas di bibir perempuan bernama Selina, dia mengangguk dengan santai. “Tentu saja, aku tahu bagaimana permainan dalam dunia ini, kalian sudah membayar mahal, kalian bebas melakukan apa saja dengan dia, lagi pula ... aku tidak peduli dengan dirinya yang sudah tidak memiliki apa pun.”

Keempat pria itu dengan seketika mengangguk, mereka paham dengan apa yang sudah dibicarakan, hingga akhirnya mereka semua berjalan menjauh dari tempat ini untuk menghampiri Elara yang sekarang sudah berbaur menyatu dengan lagu yang sedang menggema.

Tubuh indah perempuan bernama Elara Felicya bergerak menari mengikuti alunan musik dengan kesadaran yang sudah setengah hilang karena pengaruh alkohol yang dia minum. Beberapa pria tadi bergerak dengan cukup rapi, berjalan masuk tanpa meninggalkan kecurigaan siapa pun, lagi pula siapa yang akan mencurigai gerak-gerik seseorang di club?

“Sedang menikmati musiknya, cantik?”

Elara mengabaikan pertanyaan itu, dia terus mengabaikan mereka, sampai kesadaran Elara yang tersisa merasa ada sesuatu yang tidak beres, apalagi dengan pegerakan tangan mereka yang seolah terus mencoba menyentuhnya. Pergerakan mereka membatasi ruang Elara untuk bergerak bebas.

“Sebelumnya, kenapa kalian begitu mengganggu? Aku tidak minat untuk membuat circle, aku ingin menikmati semuanya sendiri.” Elara berbicara dengan nada yang masih di batas wajar, dia tidak mau langsung menuduh, karena kesalahpahaman di tempat ini akan menjadi sebuah bencana.

“Tidak ada kesenangan yang bisa dinikmati sendirian, lebih baik kita nikmati bersama.” Senyuman di bibir pria itu terukir dengan jelas, kalimatnya disetujui oleh pria lainnya.

“Kenikmatan yang sesungguhnya ada setelah kita menikmati bersama.” Senyuman miring terukir di bibir pria itu, tatapannya berbeda, memperhatikan Elara dari atas sampai ke bawah dengan tatapan tertarik.

“Lebih tepatnya setelah kita menikmati kamu bersama,” larat pria lain yang membuat tubuh Elara menegang, matanya melebar dengan pikiran yang sudah mengerti apa yang mereka maksudkan.

“Sekarang, mari ikut kita.” Tangan pria itu menarik tangan Elara, hanya saja Elara menolak.

Pandangannya mulai kabur dengan kepala yang terasa begitu berat, sehingga dia tidak sepenuhnya bisa menghindar, apalagi dengan mereka yang membelai Elara, memberikan asupan pada gejolak yang sekarang semakin terasa membara dalam diri Elara.

Secara perlahan pertahanan Elara runtuh, dengan tambahan minuman yang dia minum membuat dia semakin kehilangan kesadaran, mereka menggerakan tubuh Elara seiring dengan musing yang mengalun, sampai langkahnya yang mereka tuntun sampai ke sebuah private room.

Elara yang semakin penas, mulai bermain dengan mereka, setiap belaian yang mereka berikan terasa sebuah asupan untuknya, hingga Elara tanpa sadar dia sudah dijatuhkan dari pangkuan pria yang dia goda di atas tempat tidur. Pandangan mereka saling bertemu dengan senyuman yang menunjukkan gairah masing-masing.

Ketiga orang itu tidak mengganggu, mereka sepakat untuk bergantian dengan orang yang memberikan bayaran paling mahal sebagai orang yang akan menggodanya. Tangan pria itu membelai lembut wajah Elara, hingga perlahan turun ke area lehernya yang perlahan menyingkap tali dress yang Elara gunakan.

Brak!

Sebuah pintu terbuka dengan sangat kencang membuat mereka semua kaget, terlebih dengan ketiga orang yang duduk menunggu giliran. “Siapa kamu?”

“Tidak usah banyak tanya, sekarang keluar!”

“Tidak! Jangan mengganggu waktu kami bersama dengannya, kalau kamu mau ... tunggu giliran. Kamu akan menjadi yang terakhir bersenang-senang dengannya, itu pun jika dia masih punya tenaga setelah memuaskan kami!”

Kalimat itu membuat pria itu mengepalkan tangan penuh amarah, hingga tinjuannya melayang dan mendarat di sudut bibir pria yang baru saja berbicara. Kericuhan terjadi, beberapa anak buahnya diperintahkan membawa mereka secara paksa keluar.

Pria yang menggunakan setelan jas yang rapi berjalan ke arah tempat tidur, dia langsung menarik bahu pria itu seelum dia berhasil melepaskan pakaian Elara. Tubuh pria itu jatuh kasar ke lantai dengan amarah yang memuncak, tapi dia tidak sempat beradu fisik dengan orang yang tak menghargai kesenangannya. Anak buah pria itu langsung menarik paksa dia keluar dari Ruangan.

Elara mencoba membuka matanya yang terasa berat, mencoba memfokuskan pandangannya yang buram. “Ada keributan apa?” tanya Elara yang perlahan mencoba bangkit, hanya saja kepalanya sudah terasa pusing.

Pandangan Elara menangkap sosok pria berwajah tampan dengan penampilan sangat rapi, aura penuh wibawa yang kuat sangat terpancarkan yang secara perlahan membangkitkan sebuah rasa dalam diri Elara yang sempat tertahan. Senyuman di bibir Elara terukir dengan seketika saat melihat wajah yang terpahat nyaris sempurna.

Tangan Elara perlahan membelai rahang tegas milik pria itu. “Kau ... tampan,” ucap Elara dengan senyuman yang terlihat menjadi penanda kalau batas kewarasannya sudah hilang. Tanpa aba-aba, Elara mengecup bibir pria yang belum berucap apa pun itu.

“Kita tidak perlu menunggu lama, bukankah kamu menginginkan sebuah kesenangan malam ini?” Tatapan sayu Elara bertemu dengan tatapan tegasnya, tangan Elara terus membelai pria di hadapannya mencoba menggoda agar permainan bisa segera dimulai.

“Apakah kamu baik-baik saja?” Suara dingin memecah keheningan dan menciptakan kembali senyuman di bibir Elara sebelum dia mengangguk pelan.

“Aku baik-baik saja, bahkan akan sangat baik setelah kita bersama.” Dengan tenaga yang tersisa, Elara mengalungkan tangannya di leher pria itu dan dengan seketika menariknya membuat posisi keduanya lebih intens, apalagi dengan Elara yang sudah kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang.

Pria itu tahu kalau Elara benar-benar sedang mabuk, bahkan pergerakan tangan Elara sekarang semakin liar, mulai menelusuri setiap bagian dirinya, bahkan pria itu merasakan ada sesuatu yang menyentuh miliknya dari luar. Batasan kain celana yang dia gunakan seolah tidak berguna, karena pergerakan tangan Elara mulai membangunkannya.

Bola mata pria itu membulat besar, dia merasa ada sesuatu yang mencekam, pandangannya turun untuk memastikan dan sesuai dugaannya, kalau Elara bukan hanya mengelusnya, melainkan memberikan sedikit sentuhan yang lebih tegas.

Selang beberapa detik, tubuh atas Elara sudah bersih, menciptakan sebuah pemandangan indah. Dua buah kesayangan Elara begitu nampak, sedikit memberikan godaan dengan Elara yang membusungkan dada dan sentuhan lain di area lainnya membuat pria yang tidak sedang mabuk itu merasa terpancing.

“Malam ini akan terjadi, sesuai permintaanmu, tapi jangan salahkan aku.” Pria itu membenarkan posisinya, dia sekarang sudah benar-benar di atas Elara, tidak sampai menindih yang membuat sesak, dia masih bisa memberikan kebebasan untuk Elara menggeliat.

“Tidak akan ada yang salah di tengah kenikmatan.” Ucapan Elara terasa sebuah ajakan halus yang meningkatkan gairah dalam dirinya, terlebih permainan tangan Elara semakin liat.

Senyuman di bibir pria itu terukir dengan jelas. “Rupanya gadis ini mulai liar dan dia menginginkan bermain denganku, iya?” Tangan kekar miliknya perlahan mengelus wajah Elara, turun mengelus lehernya yang menciptakan suasana tegang yang semakin Elara nikmati, apalagi saat pergerakan tangan pria itu menyentuh bagian dadanya.

“Dunia terlalu memaksaku untuk hidup baik-baik saja, tanpa memberikan kesenangan yang kubutuhkan.”

Beralaian lembut dari masing-masing menjadi awal dari permainan mereka, hingga kesunyian tercipta saat kedua mulut mereka bertaut, saling mengulum dengan lembut dan cukup terasa sedikit minuman yang sudah Elara nikmati dan itu menjadi penambah kenikmatan di tengah cumbuan mereka.

Suasana di dalam kamar terasa semakin memanas dan pria itu cukup menikmati permainan Elara yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol yang sudah dia minum dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak perlu memerlukan waktu yang banyak, permainan mereka benar-benar dimulai dengan mereka yang secara intens menyatukan keduanya.

*****

Malam yang menyenangkan, sekaligus melelahkan membuat kedua makhluk ciptaan Tuhan itu tertidur dengan begitu nyenyak, apalagi Elara yang merasa kalau dunia benar-benar sedang berpihak kepadanya, dia sampai sekarang masih tertidur pulas di balik selimut.

Waktu terus berlalu, pandangan seorang pria yang duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur terus fokus memperhatikan Elara dengan senyuman kecil yang terukir. “Aku tidak menyangka kalau kamu tumbuh dengan cepat dan malam tadi ... aku menemukan sisimu yang lain.” Pikiran pria itu berputar pada kejadian semalam.

“Bagaimana kamu memancingku dengan pergerakan tanganmu yang liar, ternyata menciptakan malam yang panas dan penuh sensasi.” Tawaan kecilnya keluar. “Permainan dari seorang gadis manis di malam tadi ... cukup liar.”

Kepala Elara terasa begitu pusing, dia membuka matanya secara perlahan dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. “Heh! Siapa kamu?!” teriak Elara yang refleks bangkit dari posisi tidurnya dan hal itu membuat selimut melorot, hingga sensasi dingin begitu Elara rasakan.

Pandangan Elara dengan seketika turun, dia sangat terkejut melihatnya karena tidak ada sehelai benangpun yang terpasang ditubuhnya, dengan cepat dia kembali menarik selimutnya. “Kenapa aku tidak berbusana? Siapa kamu dan apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?!”

“Tidak ada, hanya ada malam yang sedikit ... penuh kenangan.”

Bola mata Elara membulat penuh amarah. “Arh! Dasar pria kurang ajar!” Tamparan langsung dia layangkan ke arah pria di hadapannya yang membuat dia terkejut.

“Kamu meniduri seorang gadis secara gratis, padahal banyak yang ingin meniduriku dengan bayaran fantastis!” teriak Elara yang kemudian bangkit dengan rasa ngilu yang begitu dia rasakan, bahkan tangannya terasa ingin memegangi miliknya untuk meredakan rasa sakit itu.

Elara mengambil bra dan juga dress yang tak jauh dari jangkauannya. Menarik napas untuk menenangkan semua perasaan yang bercampur aduk.

“Diam di tempat dan jangan mengejar aku! Lupakan apa yang sudah terjadi semalam! Semua itu terjadi karena sebuah kesalahan! Saat aku sedang sadar! Aku tidak akan mau melakukan semua hal itu!” jelas Elara dengan telunjuk yang mengarah tajam ke arah pria di hadapannya, sementara pria di hadapannya tersenyum dengan jelas.

“Sebuah kesalahan yang bagus, sampai kamu menikmatinya hingga mengeluarkan desahan merdu, begitu?”

Elara dengan cepat menggeleng, tatapannya masih penuh amarah. “Tidak! Tidak ada yang menikmati, itu hanya dugaanmu saja! Aku sama sekali tidak menikmati itu semua, kalau pun iya, maka itu bukan aku, melainkan sisi lain dari diriku yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol!”

“Oh, kalau begitu saya lebih suka dengan sisi dirimu yang lain.” Pria itu menjawab dengan tenang, apalagi tatapan yang dia berikan terus tertuju pada Elara. “Sisi liar dalam dirimu mulai terlihat,” lanjutnya dengan senyuman yang terukir dengan jelas.

“Jaga mulutmu!” tekan Elara dengan telunjuk yang menunjuk jelas wajah pria di hadapannya. “Aku tidak punya waktu untuk pria bejad sepertimu!” Elara melangkah penuh amarah meninggalkan Ruangan yang semalam dipenuhi oleh suara desahan dengan kenikmatan yang terjadi di antara mereka.

“Bos, dia pergi, apakah kita harus mengejarnya?”

Pria itu menggeleng. “Tidak perlu, biarkan saja. Saya yakin kalau akan ada pertemuan kembali antara saya dan dia.” Tatapan penuh keyakinan telihat dengan jelas. “Nanti akan ada waktu di mana dia yang menyerahkan dirinya.” Senyuman penuh dengan keyakinan tercetak dengan jelas di bibir pria yang sekarang tengah kembali membayangkan adegan panas yang dia lakukan dengan Elara semalam.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
29 Kabanata
บทที่ 1
ทันทีที่วางสาย เสียงดนตรีจากชั้นล่างก็ดังขึ้นมา เมื่อลองฟังดู ก็ยังได้ยินเสียงคนร้องเพลงสุขสันต์วันเกิดด้วยนี่คืองานเลี้ยงวันเกิดที่ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อจัดเพื่อเซี่ยงหานทันใดนั้นข้างนอกประตูก็มีเสียงฝีเท้าดังขึ้นครู่หนึ่ง ไม่รู้ว่าเซี่ยงหานถือเค้กแบล็คฟอเรสต์ก้อนหนึ่งเดินเข้ามาพร้อมรอยยิ้มตั้งแต่เมื่อไรดวงตาคู่หนึ่งที่ราวกับลูกกวางกะพริบหลายครั้ง บนใบหน้าอันงดงามแต่งหน้าอย่างประณีต และมีรอยครีมสองสามรอยที่เด่นชัดอยู่ “พี่เวยเวย ลงไปเล่นด้วยกันกับฉันเถอะนะ?”ซ่งสือเวยมองความเสแสร้งภายใต้ใบหน้าของเธอออกอย่างชัดเจน น้ำเสียงเย็นชา “ฉันยังมีงานต้องทำ คงไม่ไปหรอก พวกเธอเล่นกันให้สนุกเถอะ”แทบจะในทันที ในเบ้าตาของเซี่ยงหานก็เต็มไปด้วยน้ำตา “พี่เวยเวย พี่ไม่ชอบฉันใช่ไหม ถึงได้บอกปัดแบบนี้?”ซ่งสือเวยขมวดคิ้วโดยไม่รู้ตัว ตนไม่ได้ทำอะไรเลย แต่เธอกลับทำท่าทางราวกับตนไปรังแกเธอเพื่ออะไรกันเธอยิ้มเยาะในใจ ไม่คิดจะฟังคำพูดที่แสร้งทำเป็นไร้เดียงสาของอีกฝ่ายต่อ “การแสดงพวกนี้เธอเก็บไว้ให้พวกลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อดูเถอะ มันไม่มีประโยชน์กับฉันหรอก”ทันทีที่พูดจบ เธอก็กำลังจะปิดประตู“พี่เวย
Magbasa pa
บทที่ 2
ซ่งสือเวยปิดประตู ใส่ที่อุดหู ไม่อยากฟังเสียงครึกครื้นด้านนอกอีกในเมื่อเธอตัดสินใจกลับไปแต่งงาน งานที่นี่ก็ต้องลาออก แต่เธอก็ยังอยากทำงานที่ได้รับมอบหมายให้เสร็จ เพื่อพยายามไม่สร้างปัญหาให้คนอื่นเธอนั่งอยู่หน้าหน้าต่างที่สูงจากเพดานจรดพื้น จัดการงานที่เหลืออยู่เพียงลำพังดวงอาทิตย์นอกหน้าต่างลับขอบฟ้า ท้องฟ้าก็ค่อย ๆ มืดลงซ่งสือเวยถอดที่อุดหูออก ยืนขึ้นขยับร่างกาย ทำงานอยู่นานขนาดนี้ ในที่สุดงานก็เสร็จแล้วที่ชั้นล่างเงียบสนิทแล้วเธอเปิดโทรศัพท์ตามความเคยชิน เพื่อผ่อนคลายทันใดนั้นเองก็มีข้อความจากเซี่ยงหานปรากฏขึ้น ซ่งสือเวยกดเข้าไปตามสัญชาตญาณ‘ทำไมนายไม่กดไลก์โพสต์ของฉัน?’ข้อความนี้เพิ่งส่งมาได้แค่หนึ่งนาที เธอก็ส่งมาอีกข้อความหนึ่ง‘ขอโทษ พี่เวยเวย ฉันส่งผิด พี่อย่าโกรธฉันเลยนะ?’ซ่งสือเวยเปิดไทม์ไลน์ของเธอ อยากเห็นว่าตกลงเธอโพสต์อะไรสิ่งที่ปรากฏสู่สายตาคือภาพตารางเก้าช่องในภาพล้วนเป็นของขวัญที่ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อมอบให้ชุดกระโปรงเจ้าหญิงสีชมพูฟูฟ่องแสนงดงามตัวหนึ่ง ราวกับก้อนเมฆสีชมพูก้อนหนึ่งเพื่อให้เข้ากับชุดกระโปรง ลู่อวิ๋นเซินยังมอบรองเท้าส้นสูงคริสตัล
Magbasa pa
บทที่ 3
มองผู้ชายสองคนตรงหน้าที่กำลังตึงเครียด เธอก็พูดอย่างสงบนิ่ง “ก็แค่รูปถ่าย เอาไว้ถ่ายใหม่ก็ได้”“เผาจนหมดเกลี้ยงขนาดนี้แล้ว ก็ทำได้แค่ถ่ายใหม่ทีหลังเท่านั้น พวกเราก็ไม่ได้ไปเที่ยวกันนานมากแล้วด้วย”ลู่อวิ๋นเซินยอมถอยมาเสนอตัวเลือกที่ดีที่สุด ฉีซื่อรีบเสริมว่า “ตอนไปครั้งนี้ ก็พาเสี่ยวหานไปด้วย เธอบอกว่าที่ผ่านมาไม่เคยไปเที่ยวเลย”ได้ยินคำพูดนี้ของฉีซื่อ ซ่งสือเวยก็หัวเราะเยาะตัวเองขึ้นมาครั้งหนึ่งลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อคิดแค่ว่าเธอเห็นด้วยกับข้อเสนอนี้ จึงถอนหายใจออกมาอย่างโล่งอกพวกเขากำลังจะเดินไป ทว่ากลับเห็นกล่องหลายใบในห้องนั่งเล่น ซึ่งตอนเช้าตอนออกไปข้างนอกยังไม่มีเลย“นี่คืออะไร?” ทั้งสองคนถามขึ้นมาพร้อมกันซ่งสือเวยเหลือบมอง “อ๋อ ฉันลาออกแล้ว ก็เลยวางแผนจะเปลี่ยนงาน”ก่อนหน้านี้ไม่ใช่ว่าเธอชอบงานนี้มากหรือ?ความสงสัยแบบเดียวกันปรากฏขึ้นในใจของทั้งสองคนวันนี้ซ่งสือเวยแปลกมาก แม้จะอธิบายไม่ถูก แต่ในใจของลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อก็รู้สึกสับสนขึ้นมาบ้างฉีซื่อขยับริมฝีปาก คิดจะถามมากขึ้น ทันใดนั้นเสียงโทรศัพท์ก็ดังขึ้นทำลายความเงียบลู่อวิ๋นเซินรับโทรศัพท์ ปลายสายมีน้ำเสียงร
Magbasa pa
บทที่ 4
เธอถือถ้วยรางวัล บนใบหน้าไม่ได้มีความรู้สึกยินดีต่อซ่งสือเวย ทั้งยังไม่คิดจะส่งถ้วยรางวัลให้ซ่งสือเวย กลับกัดริมฝีปาก และพูดอย่างน่าสงสาร“พี่เวยเวย ผู้อำนวยการให้ฉันเอาถ้วยรางวัลมาให้พี่ รางวัลนี้ทรงเกียรติมาก พี่เก่งมากเลย”“ฉันอยากพูดเรื่องหน้าไม่อายกับพี่สักเรื่องหนึ่ง ฉันไม่เคยได้รับรางวัลนี้มาก่อน รางวัลนี้ให้ฉันยืมสักสองสามวันได้ไหม?”ให้เธอยืมสองสามวันหรือ?เป็นครั้งแรกที่ซ่งสือเวยได้ยินคำขอไร้สาระแบบนี้เธอขมวดคิ้ว พูดด้วยท่าทีคล้ายยิ้มคล้ายไม่ยิ้ม “ในเมื่อรู้ว่าหน้าไม่อาย งั้นก็อย่าขอเรื่องแบบนี้ ถ้าเธอชอบจริง ๆ ก็ไปร่วมการแข่งขันด้วยตัวเองสิ”พูดจบ เธอก็ยื่นมือออกไปต้องการจะหยิบถ้วยรางวัลจากในอ้อมแขนของเซี่ยงหานคิดไม่ถึงว่าท่าทีของซ่งสือเวยจะแข็งกร้าวแบบนี้ บนใบหน้าของเซี่ยงหานซีดเซียว ท่าทางเหมือนถูกรังแก “พี่เวยเวย ทำไมพี่พูดแบบนี้ล่ะ ฉันไม่ได้ต้องการของของพี่ ก็แค่อยากเอามาวางไว้เป็นแรงบันดาลใจที่บ้านไม่ได้เหรอ?”เมื่อเห็นซ่งสือเวยยื่นมือออกมาหยิบ เซี่ยงหานก็กอดถ้วยรางวัลในอ้อมแขนไว้แน่นขึ้น โดยไม่ยอมปล่อยมือเพราะการยื้อแย่งของทั้งสองคน ในที่สุดถ้วยรางวัลคริสตั
Magbasa pa
บทที่ 5
โทรศัพท์ในมือของซ่งสือเวยวางสายไปตั้งแต่เมื่อไรไม่ทราบเธอสงบสติอารมณ์ครู่หนึ่ง จึงเพิ่งพูดว่า “เพื่อนสนิทของฉันกำลังจะแต่งงาน ทำไม พวกนายอยากไปร่วมงานด้วยเหรอ?”ตอนนี้ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อเย็นชากับเธอมากขึ้นเรื่อย ๆ หลังจากนี้รอจนเธอกลับเมืองหลวง พวกเขาก็จะไม่ได้เจอหน้ากันอีก และจะไม่ได้เป็นแม้แต่เพื่อนกันด้วยซ้ำไม่จำเป็นต้องบอกความจริงกับพวกเขา เรื่องที่เธอต้องกลับไปแต่งงานที่เมืองหลวงเมื่อได้ยินคำพูดนี้ของเธอ ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อก็สบตากันโดยไม่รู้ตัว และต่างรู้สึกสงสัยขึ้นมาเล็กน้อยตามสัญชาตญาณทว่าทั้งสองคนก็ยังไม่ได้คิดมากนัก เพียงแค่พูดอย่างไม่ใส่ใจว่า “ไม่ เธอไปเองเถอะ ฉันมีงานที่บริษัท”พูดจบ ก็ราวกับยังโกรธที่วันนี้เธอทำให้เซี่ยงหานบาดเจ็บ ลู่อวิ๋นเซินหยิบเอกสารไปที่ห้องหนังสือด้วยท่าทีเย็นชาฉีซื่อก็พูดด้วยสีหน้ามืดครึ้มว่า “วันนี้ที่ผิวของเสี่ยวหานถูกบาดทั้งหมดเป็นเพราะเธอ ทางที่ดีเธอควรไปขอโทษอีกฝ่ายสักครั้ง ไม่อย่างนั้น ฉันก็ไม่สนใจจะไปงานแต่งอะไรกับเธอหรอก”พูดจบ เขาก็สาวเท้ายาวเดินไปที่ห้องทำงานของตัวเองเช่นกันซ่งสือเวยยิ้มเยาะตัวเองโดยที่ไม่ได้พูดอะไรวันร
Magbasa pa
บทที่ 6
ซ่งสือเวยฟื้นฟูสภาพร่างกายกลับมาอย่างยากลำบาก เธอพิงกำแพง ถือยาไว้ในมือแน่น ขณะที่ปิดหน้าเพื่อป้องกันไม่ให้สูดเกสรดอกไม้เข้าไปอีกครั้งยังไม่ทันได้มีเวลาพักหายใจเพียงชั่วครู่ หูก็ได้ยืนเสียงซักไซ้ของลู่อวิ๋นเซิน“เธอเพ่งเล็งเซี่ยงหานขนาดนี้เลยเหรอ ดอกไม้พวกนี้ที่เซี่ยงหานเพิ่งให้พวกเรา เธอต้องทำลายมันด้วยเหรอ!”เสียงโกรธเกรี้ยวของฉีซื่อดังตามมา“ซ่งสือเวย ฉันรู้สึกว่าช่วงนี้เธอไร้เหตุผลมากขึ้นเรื่อย ๆ เลยนะ ทำไมเธอถึงเปลี่ยนไปเป็นแบบนี้ได้!”ได้ยินแบบนี้ ซ่งสือเวยก็สูดหายใจเข้าลึกเธอตัวสั่นไปทั้งร่าง ทั้งยังโกรธมาก มีความเดือดดาลมากมายที่อยากระบายออกมา แต่สุดท้าย กลับกลายเป็นเพียงสะอื้นประโยคหนึ่งขณะที่เบ้าตาแดงก่ำ“ฉันเปลี่ยนไปเหรอ? เป็นฉันที่เปลี่ยนไป หรือพวกนายที่เปลี่ยนไปกันแน่”“ฉันเป็นโรคหอบหืด ทั้งยังแพ้เกสรดอกไม้ด้วย พวกนายไม่รู้เหรอ?”น้ำเสียงอ่อนแอไร้เรี่ยวแรงทว่าแต่ละคำล้วนราวกับเสียงฟ้าผ่า ซึ่งระเบิดเข้าหูของลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อเมื่อก่อนพวกเขากังวลเรื่องซ่งสือเวยมากที่สุดทุกครั้งที่ซ่งสือเวยมีอาการหอบหืด ก็เป็นทั้งสองคนนี้ที่เป็นห่วงมากที่สุด ต่อให้ต้องปีนก
Magbasa pa
บทที่ 7
ในที่สุดก็จัดการเรื่องบ้านเรียบร้อย ซ่งสือเวยจึงอดไม่ได้ที่จะถอนหายใจอย่างโล่งอกความกดดันบนตัวหายไปมากในทันทีขณะที่เซ็นสัญญา ซ่งสือเวยก็สังเกตเห็นว่า วันนั้นที่จัดการขั้นตอนเรื่องอสังหาริมทรัพย์ เป็นวันที่เธอออกเดินทางพอดีเป็นแบบนี้ก็ดี เธอจะได้ไม่ต้องอธิบายกับลู่อวิ๋นเซินและฉีซื่อทันทีที่เซ็นชื่อของตัวเอง ทั้งร่างของเธอก็ผ่อนคลายอีกไม่นาน ทุกอย่างก็จะจบลงแล้วตอนนี้เหลือเพียงเรื่องสุดท้ายเท่านั้นเธอไปที่ห้องสรรพสินค้าแห่งหนึ่ง เลือกอย่างพิถีพิถัน ซื้อเครื่องนวดกับสร้อยข้อมือหยกคู่หนึ่ง และไปที่บ้านของคุณป้าทันทีที่เข้าไป ป้าซ่งก็รีบเข้ากอดซ่งสือเวยไว้ในอ้อมแขน“เวยเวย ป้าไม่อยากให้หนูไปเลยจริง ๆ หนูอยู่ที่ไห่เฉิงมาหลายปีขนาดนี้ ป้ามองหนูเหมือนเป็นลูกสาวของตัวเอง ถ้าหนูไปแบบนี้ ป้าคงไม่ชินจริงๆ”ป้าซ่งเช็ดน้ำตา จับมือซ่งสือเวยแน่นไม่ยอมปล่อยซ่งสือเวยก็อดไม่ได้ที่จะรู้สึกแสบจมูกขึ้นมาบ้าง ขณะที่ฝืนยิ้มและปลอบใจป้าซ่ง “ป้าคะ หนูก็ไม่อยากไปจากป้าเหมือนกัน แต่พวกเราเป็นครอบครัวเดียวกันอยู่แล้ว เครื่องบินกับรถไฟฟ้าความเร็วสูงก็สะดวกมาก วันตรุษจีนก็ยังมาเจอกันได้นะคะ”ป้า
Magbasa pa
บทที่ 8
ซ่งสือเวยหันกลับไป เมื่อทั้งสองคนยืนยันได้แล้วว่าเธอไม่ได้โกรธ ก็ถอนหายใจอย่างโล่งอกลู่อวิ๋นเซินก้าวไปข้างหน้า คว้ามือเธอไว้ “เธอไม่ต้องเก็บกระเป๋าเดินทางหรอก มันทั้งเยอะและเหนื่อยเกินไป ถึงเวลาฉันจะเรียกคนขับรถที่บ้านฉันมา แล้วพวกเราค่อยบ้านไปอยู่บ้านใหม่ด้วยกัน”ฉีซื่อก็พยักหน้าเห็นด้วยเช่นกันในตอนนี้ ซ่งสือเวยราวกับเห็นแววตาของพวกเขาที่เคยมีเพียงเธอเหมือนในอดีตจำได้ว่าตอนยังเด็ก ต่างฝ่ายต่างก็พูดคุยและหัวเราะกันทั้งวันแต่ตอนนี้ คำสัญญาในวัยเด็กสุดท้ายก็กลายเป็นคำโกหกซ่งสือเวยเหลือบมองเซี่ยงหาน พลางส่ายศีรษะ “ไม่ต้องหรอก มีของมากมายที่ฉันต้องไปจัดการ”พูดจบ ก็ไม่สนใจท่าทีของทั้งสองคน เธอหันหลังเดินจากไปหลังกลับมาที่บ้าน เธอก็เก็บกระเป๋าเดินทางครู่หนึ่ง ก่อนจะอาบน้ำ ขณะที่เพิ่งล้มตัวลงนอน จู่ ๆ ก็ได้รับโทรศัพท์จากเซี่ยงหานเสียงนุ่มนวลของเธอส่งผ่านมาช้า ๆ ด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความภูมิใจที่ปิดไม่มิด“พี่เวยเวย เย็นนี้ฉันไปที่ตระกูลลู่กับตระกูลฉีมา พ่อแม่ของอวิ๋นเซินกับอาซื่อดีต่อฉันมากเลย”“พ่อแม่ของพวกเขายังเอาสมบัติสืบทอดประจำตระกูลออกมา บอกว่าจะให้ฉันด้วย พี่ว่า
Magbasa pa
บทที่ 9
พูดจบ ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อก็พาเซี่ยงหานไปนั่งลงโต๊ะข้าง ๆ ซ่งสือเวยชายหนุ่มทั้งสองแย่งกันตักอาหารให้เซี่ยงหาน ด้วยแววตาที่เต็มไปด้วยความเอ็นดูเฉียวมู่เห็นฉากนี้ก็โกรธจนแทงสเต๊กเละ แต่ซ่งสือเวยยังคงมีท่าทีเฉยเมย เฉียวมู่จึงทำได้เพียงอดทนโดยไม่ได้พูดอะไรผ่านไปไม่นาน หลังจากทั้งสองคนกินเสร็จก็แยกย้ายกันจากนั้นซ่งสือเวยก็บอกลาเฉียวมู่อีกครั้งแล้วกลับบ้านคืนนี้ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อก็ยังไม่กลับบ้านซ่งสือเวยก็ไม่ได้สนใจเช่นกัน เธอยุ่งอยู่กับการจัดสัมภาระส่วนสุดท้ายตอนเช้าเธอได้ยินเสียงฝีเท้าดังมาจากข้างนอก ก็รู้ว่าลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อกลับบ้านแล้วพวกเขาก็ควรกลับมาได้แล้ว เพราะวันนี้เป็นวันที่ต้องย้ายไปบ้านใหม่เพียงแต่พวกเขาไม่รู้ว่า บ้านใหม่ของพวกเขาและในอนาคตของพวกเขาจะไม่มีเธออีกแล้วเสียงรบกวนด้านนอกดังขึ้นเรื่อย ๆ คิดว่าคงกำลังย้ายสัมภาระ ซ่งสือเวยไม่สนใจจะฟัง หลังจากตรวจสอบสัมภาระทั้งหมดแล้ว แม่ซ่งก็โทรมาเมื่อรับสาย น้ำเสียงอ่อนโยนของแม่ซ่งก็ดังขึ้น“เวยเวย เที่ยวบินกี่โมง พวกแม่จะไปรับที่สนามบิน”ซ่งสือเวยเปิดแอปพลิเคชันดูตั๋วเครื่องบินครู่หนึ่ง ก่อนจะพูดเสียงเบา
Magbasa pa
บทที่ 10
ซ่งสือเวยขึ้นเครื่องบินโดยไม่หันกลับมา ไม่สนใจแม้แต่น้อยว่าลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อจะเป็นอย่างไรขณะที่เครื่องบินขึ้น เธอก็รู้สึกผ่อนคลายอย่างที่ไม่เคยเป็นมาก่อนทว่าในวิลล่าริมอ่าวทะเลสาบที่ไห่เฉิง กลับมีบรรยากาศกดดันจนน่ากลัวผ่านไปสามชั่วโมงแล้ว ลู่อวิ๋นเซินกับฉีซื่อพาเซี่ยงหานมาที่วิลล่าริมอ่าวทะเลสาบ แต่ผ่านไปนานก็ยังไม่เห็นเงาของซ่งสือเวยในวิลล่ามีเพียงสัมภาระของพวกเขาทั้งสามคน แต่กลับไม่เห็นร่องรอยสัมภาระของซ่งสือเวยเลยลู่อวิ๋นเซินตื่นตระหนกเป็นอย่างยิ่ง ราวกับเรื่องที่ยากจะคาดเดาบางอย่างกำลังเกิดขึ้นฉีซื่อซึ่งนั่งอยู่บนโซฟา มีสีหน้าไม่น่ามองอย่างน่าประหลาดเช่นกันเซี่ยงหานที่รู้เรื่องอยู่แก่ใจ กลับไม่คิดจะพูดอะไรเมื่อเห็นทั้งสองคนยังคงเงียบ เธอก็พูดทำลายความเงียบขึ้นมาก่อน“พี่เวยเวยอาจจะยังเก็บของไม่เสร็จ ทำไมพวกเราไม่ให้คนจัดของก่อนล่ะ ไม่ใช่บอกว่าเย็นนี้จะกินข้าวด้วยกันเหรอ พี่เวยเวยไม่มีทางลืมแน่นอน”แม้ลู่อวิ๋นเซินจะพยักหน้าเห็นด้วย แต่ในใจกลับไม่สบายใจเขาไม่ได้ขยับตัวอยู่นาน ทว่าในใจกลับเร่งเร้าให้เขาออกไปข้างนอกฉีซื่อมองบนโทรศัพท์ซึ่งเป็นสีแดงเหมือนกับลู่อ
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status