Masuk「ただ、一緒にいたいだけなのに……やっぱり異世界同士、人間と獣人は結ばれないのかな?…」 理久は、以前から犬をどうしても飼いたくて、保護施設から訳アリの、でも、キレイな長い黒毛の大型犬を引き取った。 そして、理久と、理久から「クロ」と名付けられたその犬は、一人と一匹、毎日毎日仲睦まじく暮らしていた。 しかし、ある日、そのクロが突然失踪し、理久は悲しみとパニックの中で探し回る。 そして、そのクロ捜索中の悲しみに暮れる理久の目の前に突然、キレイな長い黒髪の長身のイケメンが現れた!
Lihat lebih banyakSalsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut yang menimpanya tadi pagi. Bahkan hingga malam hari sang ayah belum juga sadarkan diri.
Pintu kaca di ruang ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dan Salsa langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?” tanya Salsa, berharap ada kabar baik yang ia dapatkan dari dokter. Salsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya meskipun sejak sang Ayah menikah lagi, Salsa nyaris kehilangan sosok Ayah yang dulu begitu menyayanginya. “Kondisi pasien semakin memburuk dan harus dilakukan operasi besar secepatnya. Kami hanya punya waktu tiga jam menunggu sampai deposit untuk operasinya dilunasi, jika tidak kami tidak berani menjamin apapun tentang keadaan pasien,” ucap dokter, yang terpaksa memberi kabar buruk itu pada keluarga pasien. Mendengar itu, kaki Salsa langsung lemas. Wajahnya semakin pucat dan jantungnya berdebar sangat kencang karena takut kehilangan sang Ayah. Air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. “Be–berapa biayanya, dok?” tanyanya terbata. “Satu miliar. Minimal ada uang deposit lima puluh persen dulu baru operasi bisa dilakukan. Saya permisi dulu,” pamit dokter itu meninggalkan Salsa dalam kebingungan. Ia masih mematung di tempatnya saat dokter berjalan menjauh. Otaknya mendadak tak bisa diajak berpikir jernih. Satu miliar? Uang dari mana? Jangankan uang sebanyak itu, tabungannya saat ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya kamar ICU semalam. Mereka benar-benar tidak punya harta apapun, apalagi selama ini mereka tinggal di rumah kontrakan. Salsa mulai frustrasi, ia bingung harus mencari pinjaman ke mana dalam waktu se-singkat ini untuk menyelamatkan sang Ayah. Di tengah kepanikannya, Salsa melihat Aditya, tunangannya, berjalan mendekat menuju ke arahnya. Namun, Aditya tidak datang sendirian. Dia datang bersama Zara, kakak tiri Salsa. Melihat mereka, Salsa langsung berlari menghampiri dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. “Mas Adit, untung saja kamu datang. Tolong bantu Salsa, mas. Ayah harus segera dioperasi dan biayanya harus dilunasi minimal lima puluh persen. Dokter bilang hanya punya waktu tiga jam saja, kalau tidak…” Ucapan Salsa terpotong oleh pertanyaan sang tunangan. “Berapa biaya operasinya?” tanya Adit datar, sama sekali tidak ada rasa iba melihat ayah tunangannya sedang terbaring lemah dan berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU. Salsa menarik napas berat sebelum akhirnya menyebutkan angka tak masuk akal itu, “Sa–satu miliar, Mas.” “Apa?” Aditya tersentak kaget mendengar nominal yang disebutkan Salsa. “Apa kamu sudah gila mau pinjam uang dariku sebanyak itu?” Bentak Aditya. Salsa buru-buru memegang tangan tunangannya berharap agar pintu hati sang tunangan terketuk untuk menolongnya. “Kumohon bantu selamatkan Ayahku, Mas. Aku janji akan bekerja siang dan malam agar bisa mengembalikan uangmu,” ucapnya penuh permohonan. Salsa sangat berharap Aditya mau membantunya. Biar bagaimanapun, mereka sudah bersama selama lima tahun kebelakang dan Salsa yakin Adit punya tabungan lebih dari satu miliar. Ia bahkan sudah menemani pria itu dari nol sampai sekarang sukses punya usaha showroom mobil. Salsa yakin Aditya tidak akan tega membiarkan satu-satunya orang tua yang dia miliki meninggal dunia tanpa sempat ditangani di ruang operasi. Namun, Aditya justru menepis tangan Salsa dengan kasar hingga gadis cantik itu mundur selangkah. “Aku gak punya uang sebanyak itu. Kalaupun ada, lebih baik uang itu aku pakai untuk menambah unit mobil di showroomku,” jawab Aditya tanpa perasaan. Ulu hati Salsa mendadak sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dengan sangat kuat. Dia menatap Aditya nyaris tidak percaya mendengar penolakan dari pria itu. Bagaimana bisa pria yang selama ini dia sayangi berubah menjadi orang tak berperasaan di saat ayahnya sedang kritis? Dengan sisa harapan yang ada, Salsa menatap kakak tirinya yang berdiri di sebelah Aditya. “Kak, sejak Ibumu menikah dengan ayahku, ayah begitu menyayangimu. Bahkan seluruh kasih sayangnya dia berikan untukmu. Aku mohon bantu aku untuk bujuk Mas Adit agar mau menyelamatkan nyawa Ayah,” ujar Salsa lagi sambil menangis. Dia berharap sang kakak tiri mau melakukannya. Kalau bukan karena Salsa, tidak mungkin Zara bisa menjadi asisten pribadi sang tunangan. Namun, Zara yang sejak tadi melipat tangannya di depan dada hanya menatap Salsa penuh ejekan. Tidak ada sedikit pun raut sedih di wajahnya, padahal pria di dalam ruang ICU itu adalah ayah tiri yang selalu memanjakannya. Orang yang berhasil meyakinkan Salsa kalau Zara bisa bekerja profesional di showroom milik Aditya. “Sudahlah Salsa. Pasrahkan saja nyawa ayahmu pada Tuhan, daripada kamu pusing mikirin biayanya,” jawab Zara tanpa belas kasihan sedikitpun melihat adik tirinya yang sedang menangis membayangkan betapa beratnya sang Ayah berjuang di dalam sana. Belum sempat Salsa menanggapi ucapan menyakitkan dari kakak tirinya, Aditya kembali bersuara. “Lagian aku datang ke sini mau memutuskan hubungan kita,” timpal Aditya. Deg. Mendengar itu, Salsa sampai lupa cara bernapas. Dia menatap pria yang sangat dia cintai selama lima tahun terakhir ini. Pria yang dia temani berjuang dari nol, dari zaman tidak punya apa-apa, sampai sekarang bisa sukses dan namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses. “Kamu jangan bercanda, Mas,” ucap Salsa lirih, ia berharap ada masalah dengan pendengarannya barusan. “Aku serius. Aku sudah lama ingin memutuskan hubungan kita. Dan hari ini adalah momen yang tepat. Aku jatuh cinta sama Zara. Mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” ucapnya. “Nggak, Mas. Kamu pasti bohong kan? Kita bahkan sebentar lagi akan menikah, Mas. Tolong jangan seperti ini,” lirih Salsa sambil berderai air mata. “Dia calon suamiku, Salsa. Dia lebih mencintaiku daripada kamu. Mulai sekarang, lupakan kalau kalian pernah bersama,” sambar Zara. Ada binar bahagia di matanya ketika berhasil melukai hati saudara tirinya ini, dengan merebut semua milik Salsa. Menurut Zara, dialah yang lebih pantas bahagia dari adik tirinya ini. Aditya kemudian merogoh sakunya, mengambil cincin pertunangan mereka yang dua bulan terakhir tidak pernah ia pakai lagi, lalu melempar cincin itu tepat di depan kaki Salsa. Setelah itu, tanpa memperdulikan kondisi Salsa yang hancur, Aditya berbalik dan berjalan meninggalkan ruang ICU bersama Zara. “Mas Adit, kamu gak bisa kayak gini sama aku, Mas. Mas Adit, hiks hiks,” teriak Salsa sambil menangis. Tubuh Salsa langsung melorot ke lantai. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Ulu hatinya sangat sakit seperti ditikam senjata tajam, membuatnya nyaris tak bisa lagi untuk bernapas. Salsa meremas ulu hatinya dengan keras bermaksud agar mengurangi sakitnya, tetapi rasa perih itu tetap tidak mau hilang bahkan kian menjadi-jadi. Salsa menangis sendirian di lantai rumah sakit. Namun, di tengah kebingungan dan rasa sakit akibat dikhianati oleh kakak tiri dan tunangannya, Salsa sadar dia tidak punya banyak waktu untuk meratapi nasib malangnya. Nyawa ayahnya sedang dipertaruhkan di dalam ruang ICU. Dia harus menyelamatkan sang ayah, bagaimanapun caranya. Rasa sakit ini harus dia singkirkan dulu. Saat otaknya berputar mencari jalan keluar, tiba-tiba terlintas satu nama di benaknya. Seseorang yang sangat kaya raya, yang mungkin bisa menjadi harapan terakhirnya. Salsa langsung menyeka air matanya. Dia memaksakan diri untuk bangkit, lalu setengah berlari meninggalkan area ruang ICU menuju rumah pria itu. “Bertahanlah, Yah. Salsa akan berusaha menyelamatkan nyawa Ayah,” bisiknya pilu.同じ頃。 クロの城の赤絨毯の長い長い廊下。 シャツとズボンに着替えて部屋を出た翼は、猫系獣人騎士のマッソの後ろをついてゆっくり歩いていた。 翼の後ろには、マッソと同じような立場にいる、理久と翼が異世界人だと知る、クロが信頼を置く馬耳を頭に持つ獣人騎士がいた。 2人の獣人騎士達は、翼の警護にクロが付けている。 「もう腹減って死にそう。もういい加減早く朝メシにして欲しいんだけど……」 どこまでも広大なクロの城。 翼がどこを見ても、華々しい純金細工に彩られた輝く太い柱、大きな窓、巨大な壁で…… 廊下のどこにも高価そうな絵画や彫像の数々が延々と、延々と並ぶ。 それにもうお腹一杯見飽きたかのように辟易した表情をして、ブツブツイヤミたらしく文句を言って前を向き歩く翼。 仮病はもうやめたので、腕は大丈夫と、魔法治癒師の診察は断った。 今はそれよりも、本当に一刻も早く何か食べたかった。 「只今、陛下と理久様は、昼からのアドオン国国王との謁見の為のご衣装の最終チェックをされておられます。それが終われば朝食かと」 マッソは、騎士の鑑のように表情を変えず姿勢良く歩き淡々と返した。 「ハア……」 翼からは、腹がグーグー鳴ってる現状以上に、理久がもうそんな、"謁見"などする高位な立場になっている事に深い溜め息が漏れた。 翼は、もう理久を手に入れる事は諦めた。 それでも、頭に獣耳、下半身に尻尾を持つ獣人達が普通に歩き回り、小さな妖精達が普通に飛び回り活動する周りの状況を見てるだけでも、やはり理久がこの異世界で本当にやっていけるのか…… しかも、国王の妃なんて…… 心配は尽きない。 大きな大きな溜め息が今にももう一度出そうだった。 これほど翼が心配する存在は、もう生涯理久しか現れないだろう。 そしてあらためて思うのは、翼には、やはり自分が産まれ育った住み慣れた自分の世界が一番だと言う事。 早く自分の世界に帰りたいと言う事。 翼自身はこんな異世界に住むなんてまっぴらごめんで、移住すると言っている理久の気持ちがやはり今もさっぱり理解出来ない。 (こんな所の何がいいのかわからない…) そこに、窓の外からガヤガヤと騒がしい声がし始めた。 ここは城の2階。 翼は、窓際に寄り、外を眺めた。 す
クロの目の前の理久は、スリムな体型にフィットした、まるでどこかの国の王子様のような純白のロングテールジャケットと同色のスラックスを着用している。 そのどれにも超高価な金色の魔力糸で細部に刺繍を施されていて、例え今ここが真っ暗闇だったとしてもまばゆい光を放つ。 そんな理久を見て、すっかりデレていたクロは、突然真剣な表現になり理久を見詰めた。 でも、獣人王として自分は弁も立つし口は達者だと思っていたクロが、理久のその美しさに言葉を失い、すぐに何も発せなかった。 「へっ……へっ……変かな?……」 理久は、クロが無言なのが気になり、それを誤魔化すように笑って言った。 クロは、ただただ真っすぐに理久を見詰めて、無言で首を横に振った。 「アドオンの国王様にお会いする前に、衣装のチェックだって言われたから着てみた。衣装担当の人達、クロの衣装の最終チェックもしたいみたいだったから、翼との話が終わったらクロの部屋に来て欲しいって」 理久のその言葉の間も、クロは理久のその姿から目を離せず、穴が空くんではないかと思うほど凝視した。 「ああ。わかった。翼は今部屋の中で着替えてるから、終わったらマッソに翼をダイニングルームに案内させる。俺達も衣装チェックが終わったら三人で朝食を食べよう」 そう言うとクロは、理久の近くで彼を警護していたマッソに、今度は又翼を守るよう指示した。 マッソは、廊下のドア横に立ち翼が出て来るのを待つ。 「じゃ……俺達は、俺の部屋へ行こう」 クロは、そっと、宝物に触れるように理久の肩を抱いた。 理久とクロは、長い長い赤絨毯の広い廊下をゆっくり歩き出す。 理久は、クロの優しい腕に囲われながら、クロの翼への説得は上手くいったと感じていた。 クロが何も言わなくても、クロの様子からそれが伝わってくる。 きっと翼は、理久が異世界に移住して、クロの伴侶になる事を承諾してくれただろう。 だから今はそれよりも、どうしてクロは理久の着替えたのを見て、いつものクロらしく何か言ってくれないのかの方が心配だった。 (やっぱ……俺、変だったかな……) やがて、クロの自室に着き、クロも着替えた。 「素晴らしい!素晴らしいです!」 一人の犬系の中年男性獣人が目をキラキラさせて両手を握り、うれしさのあまり甲高い声で叫んだ。 彼は、王族の衣装の管理主任。
「私に協力すると言ったのに、裏切ったな……」 低い声がした。 すぐに、ベッドで上半身だけ起き上がる翼と、少し離れてその前に立ち向かい合っているクロの間に、その声の主が現れた。 黄金色に光る丸い魔物。 フワフワと空に浮かびその発色は鈍いが、それでも威圧感を周りに放ち、今どれだけの力を持っているかは予測不可能で、そこが返って油断できない恐ろしい存在になっていた。 そして、魔物には今は目と口があり、視線だけは鋭く、クロの方を向いていた。 クロも、その魔物を激しく睨む。 「裏切るかよ。俺は最初から理久以外はどうでもいいんだよ」 翼は、魔物の丸い背中を見ながらにっと口角だけ上げて笑った。 その瞬間。 鞠程の大きさの魔物を、クロが躊躇なくその両手で捕獲した。 「ん……ググググ……」 魔物は、うめきながら抵抗する。 光はかすかなのに、そのエネルギーが、クロの手の中で膨張するような感覚があった。 やはり、 まだ力がかなり残っているようだった。 元々獣人は身体能力は高い。 しかし、そんな獣人達でも、普通はこの状況なら恐れから手を離すだろう。 でもクロは、恐れずひるまず、眉一つ動かさず冷静な表情で、そのまま逃さず掴み、その強力なクロの握力を左右から与え続けた。 だが、暑苦しくないしなやかで強靭なクロの筋肉が躍動しているのが服の上からでもよくわかる。 翼は、自分も格闘技をしているが、クロの迫力を見て生唾を一度飲みこんだ。 そして、それでもじっと、観察するようにクロを見た。 理久を、本当に任せられる男なのかどうかを見定めるように。 すると、すぐに魔物は意識を無くしたようにグッタリし、光を放たなくなり、ただの白い丸いブニョブニョした球体になった。 「死んだか?」 翼は、あっけらかんとしていた。 「いや。気絶させただけだ。こいつには聞きたい事がある。強力な結界が張ってあり魔物が出入りできないはずのこの城に誰がこいつを入れたか。何の目的があって入れたか聞かないとならない」 魔物を見るクロの目つきが鋭く光る。 「なるほどね……」 翼は、軽口で呟いた。 だが本当は、さっきクロが魔物を掴んで潰すように攻撃しながら、冷静にそこまで考えていた事に寒気がした。 でも、本来"王"とは、これ位
理久は、クロの部屋で待つ事にして、クロは、翼のいる客室に一人戻った。警備していた騎士達は客室から出され、本当にクロと翼の二人きり。サシで話し合いが始まった。その場の空気は張り詰め、重い。「お前が本当にあのクロなのかまだ実感が無い。1回犬の姿になれよ!」翼は、天蓋付きのフカフカの広いベッドの上で上半身だけ起きあがり腕を組み、すぐ目の前に立つクロに深刻な声で言った。クロは、仕方無いかという表情をすると、途端に体全体が煙幕に包まれ、瞬時に獣人から犬型になった。「はあ……」自分から言っておいて、目の前に現れた見覚えのある大型の黒い犬に、翼から心底深い溜め息が漏れた。心では、まだどこか嘘か悪夢であって欲しいと現実逃避したくなるが、今はそれを押しとどめて話しを続ける。「で、なんでこの世界のお偉い"獣人王様"が俺と理久の世界にいたんだよ?」「お前がこの世界にこれたのは、この世界と理久の世界を繋ぐ魔法の紋章があったからだ。以前俺はたまたま城の中でそれを見つけて、何の魔法陣かもしらないままそこに立って、横に書いていた呪文を唱えてしまって理久の世界に転移した。そこで偶然車にひかれて、この時も意図せず偶然衝撃で犬に変身してしまい記憶を無くして理久に引き取られた。記憶が戻ったのはつい最近だ」犬なのにクロが喋った事に、わかっていた事であるはずなのに、翼は又大きな息を吐いた。「それならお前が本当にクロだったら、理久と一緒に何ヶ月か暮らしてわかるだろ?理久の両親がどれだけ理久をかわいがってるか。理久もどれだけ両親と仲がいいか」「俺は、王家のしきたりで親とは同じ城で暮らしたが家臣に育てられ、理久の家庭を見て初めて普通の親子って言うのが何なのかようやく理解できたからそれはよくわかってる」そう言うと犬のクロの体の周りが又白く煙り、やはり瞬間で獣人のクロに戻った。「お前が理久の両親に会って異世界の王様ですからって、理久と異世界で暮らしますって、理久は贅沢三昧できますからって言ったって許してもらえるかよ。そん時はどう持っていくんだよ、話を」翼はクロを睨む。クロはそれに動じず、迷い無く即答した。「その時は……その時は、俺はこの国の王を退位して、俺が理久の世界に移住する」「……」翼にはその言葉が意外、予想外過ぎて、一瞬思わず黙りこんだままクロを見詰めた。聞き違いか
クロの部屋は、王の部屋と呼ぶに相応しい。 あまりに広く… 輝くような純白の壁と… そして、見ただけで高価と分る、装飾の美しいあらゆる調度品に溢れている。 そんな静かなクロの部屋に、理久とクロが抱き合いキスを交わす淫靡な音だけがする。「くちゅっ……くちゅっ……くちゅっ……」 理久の口内に入り込んだクロの舌は、最初理久の舌をあやすように、優しく柔らかく接触してきた。 そしてその内、クロの逞しい体は理久の体を優しく押し、理久の体は、クロと壁に挟まった。 整い高貴でありながらそこに野生味も感じるクロの美貌が、理久のすぐ目の前にあった。 やがてさっきの…… クロの鋭い牙での、理久
理久の唇に、ベッドサイドに立っていた男が上半身を傾けて又口付けた。「うっ…んん…」理久が瞠目して驚愕すると、男は、その隙に今度は舌を入れてきた。そして、更に、男も口付けしたままベッドの上に上がって来た。「うっ…んん…」理久は、必死で抵抗したが、男の猛獣のような力の強さには全く敵わない。
どれ位だったろうか… だけど、やけに長いキス。 その後、男の唇が理久の唇からそっと離れた。 理久のファーストキスは、突然、何の予兆も心の準備も無く、あっという間に奪われた。 「なっ!何する!」 理久が珍しく声を荒げると、男が全く意に関せずと跪いたままくすりと笑うと、急に立ち上がる。 驚いた理久は、一瞬逃げようとしたが、すぐ男に軽々とお姫様抱っこされた。 「行くぞ!理久!」 手足をジタバタして抵抗する理久に、男は全く影響されず微笑んで言った。 「行くって、何処へだよ?!」 理久は更に足掻くが、男は全くどこ吹く風だ。 「俺が治めている国だ!」 「はあ?」 理久が、増々訳が
男は、すぐそっとしゃがんだ。そして、まるで王子が姫君にするように地面に片膝を付き跪き、ベンチに座る理久の両手を握った。男の手は、大きく、温かい。まだ涙の止まらない理久の目の前に男の顔が来て、見上げてくる。やはり、深青の瞳がクロに似てる…だが、理久がそう思ったのも束の間、男の逞しい腕の右手首に視線が行った。そこには、理久がお小遣いでクロに買ってやったブルーの合皮の首輪に似た物が、まるで長さを加工されたようになって巻かれていた。「理久…」男は、甘く囁くように呼びかけてきたが、理久は男の瞳を再び見て戸惑う。(だから…何で俺の名前、知ってるんだよ?)理久は、そう聞きたいのに、声が