LOGIN방공 산업 회장의 외동딸, 이다정. 그녀의 일상은 늘 보호받고, 통제받고, 관리된다. 그리고 어느 날, 그녀의 앞에 한 남자가 앉는다. 말수 적고, 감정 없는 얼굴. 개인 운전 기사 김다온. 위협이 가까워질수록, 차 안의 공기는 숨 막히게 좁아지고 서로를 바라보는 눈은 더 깊어진다. 지켜야 하는 남자와 지켜지기만 하던 여자. 그들이 넘지 말아야 할 선은 언제나, 운전석과 뒷좌석 사이에 있었다. “기사님, 오늘은 저를… 어디까지 데려다줄 수 있어요?”
View More"Keluar! Dasar Omega gagap tidak berguna!" teriakan itu meluncur dari mulut paman Elara, Victor Valen.
Tubuh Elara sontak terlempar keras ke atas trotoar yang dingin. Tas usang berisi kanvas dan tabung cat ikut jatuh ke aspal dengan bunyi debuk yang membuat dada Elara ikut sesak.
Elara mengernyitkan dahi, merasakan rasa sakit di tubuhnya. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara kencang yang keluar dari sana. Hanya rintihan-rintihan kecil. “A.. ah…”
Perih yang membakar di telapak tangannya yang lecet akibat gesekan dengan permukaan jalan yang kasar membuat Elara meringis. Bau aspal basah dan debu malam menusuk hidungnya saat ia berusaha menghirup udara.
"Kamu memalukan keluarga Valen!" teriak Victor lagi dari ambang pintu rumah. "Tiga keluarga sudah menolakmu, Elara!"
Mendengar cacian Victor, tangan Elara pun bergetar. Walaupun ia sudah terbiasa diperlakukan demikian, tapi ia tetap merasa kesulitan bernapas.
"Kamu bahkan tidak bisa menyebut nama calon suamimu sendiri!" Victor mendengus. "Siapa yang mau menikahi Omega cacat sepertimu?"
Brak!
Pintu kayu jati itu lalu tertutup rapat. Elara langsung mematung.
Ia ingin membalas, ingin berteriak membela dirinya. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat. Lidahnya hanya bisa bergerak kaku tanpa mengeluarkan suara.
Elara harus menelan pil pahit karena dirinya kesulitan bicara akibat gagap. Namun, amarah rasanya memuncak ketika mengingat alasannya, Victor, pamannya sendiri.
Victor dulu ingin merebut kekuasaan klan dari ayah Elara. Pertarungan pun terjadi dan kedua orang tua Elara mati di depan mata Elara sendiri.
Ia trauma berat melihat pemandangan itu sehingga menjadi gagap.
Tapi malam ini, Victor malah mengusirnya. Dengan lutut gemetar, Elara bangkit berdiri. Ia menepuk debu di rok katunnya sebelum akhirnya berjalan menjauh.
Kakinya secara insting membawanya menjauh dari lingkungan klan yang selalu memandangnya sebelah mata.
Ia menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa merasakan damai, sebuah galeri lukis peninggalan ayah dan ibunya di pinggiran kota.
Elara menyusuri pinggir jalanan yang biasanya menjadi arena balap liar. Malam ini, tempat itu terdengar kacau. Raungan mesin mobil yang memekakkan telinga berpadu dengan suara teriakan dan langkah kaki yang berlarian.
Bau bensin dan asap knalpot membuat mata Elara perih. Ia segera menjauh dari keramaian kota malam itu.
Elara terus berjalan dengan langkah cepat menuju galeri tua di sudut gang. Elara mempercepat langkahnya, mengabaikan denyut nyeri di telapak tangannya.
Gang sempit menuju galeri itu biasanya sunyi, namun malam ini atmosfernya terasa berbeda. Udara di sekitar sana terasa berat dan panas.
Saat matanya tertuju pada pintu kayu tua galerinya, jantung Elara mencelos. Grendel besi yang biasanya mengunci rapat tempat persembunyiannya itu terkulai patah.
Kayu di sekitar lubang kunci itu retak dan tercerabut. Bekasnya kasar seakan baru saja dijebol dengan paksa.
Pintu itu sedikit menganga, menyisakan celah gelap yang membuat firasatnya tidak enak.
‘Apa itu Albert?’ batin Elara.
Albert adalah pria paruh baya yang selama ini menjaga galeri tersebut. Albert adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Elara sering menyelinap ke sini untuk menumpahkan trauma di atas kanvas.
Pria tua itu sudah seperti mentor sekaligus orang yang paling dipercayai Elara. Namun, tidak biasanya Albert datang malam-malam, apalagi ia sampai merusak pintu.
Dengan hati-hati, Elara mendorong pintu itu perlahan.
Suara derit kayu yang panjang memecah kesunyian di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela.
Bau bensin yang menyengat dan aroma maskulin yang tajam langsung menyerbu indra penciuman Elara.
Bau itu sangat dominan, menutup aroma cat minyak yang biasanya menenangkan.
Di tengah ruangan, seorang pria berdiri mematung. Tubuhnya tinggi kekar, dibalut jaket kulit hitam yang kotor oleh noda oli dan debu jalanan.
Pria itu membelakangi Elara dan berdiri dekat dinding utama. Di dinding itu terpajang lukisan Serigala Hitam, karya paling personal milik Elara.
Elara bisa melihat bahu pria itu naik turun dengan napas yang memburu. Otot-otot lengannya menegang hebat, seolah ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"S-si... ap... pa?" suara Elara keluar dengan susah payah, pecah dan bergetar di ujung lidahnya.
Sosok pria yang ditemuinya berbalik dengan gerakan cepat yang hampir tidak tertangkap mata. Elara tersentak mundur hingga punggungnya menabrak bingkai pintu.
Pria itu memiliki rahang yang tegas dengan beberapa luka goresan segar di pipinya. Namun, yang paling mengerikan adalah matanya.
Pupilnya sempat berkilat kuning keemasan sebelum meredup menjadi warna gelap yang sangat dingin.
Itu bukan sekadar tatapan marah, tapi tatapan seorang pria yang nampaknya membawa beban luka yang dalam.
Pandangan pria itu turun, berhenti tepat pada punggung tangan kanan Elara yang memegang erat tas kanvasnya. Di sana, sebuah tato kecil berbentuk bulan sabit perak terlihat jelas di bawah cahaya bulan. Itu adalah tanda garis keturunan murni klan Valen.
"Kamu... anggota klan Valen?" suara pria itu rendah dan parau, terdengar seperti geraman yang tertahan.
Elara membeku.
Ia merasa seluruh sendinya terkunci. Bau dominan yang memancar dari pria ini memberikan sinyal bahaya bagi insting Omeganya. Ia mengenali wajah itu dari berita dan desas-desus klan yang selalu ditakuti kelompoknya.
Pria di depannya adalah Joseph Warcliff. Sang Alpha terkuat dari wilayah utara. Sosok yang dikabarkan memiliki sisi berbahaya. Kata mereka, pria ini memiliki sisi lain, seperti monster yang tak terkendali.
Elara tidak bisa mengeluarkan suara. Ia hanya mampu mengangguk pelan dengan tubuh yang mulai bergetar hebat.
Joseph membuang muka seketika. Sorot matanya berubah dari waspada menjadi benci yang tidak bisa disembunyikan.
Rahangnya mengeras, dan ia mencengkeram tepi meja kayu di dekatnya hingga kayu itu berderit retak.
"Klan Valen …," desis Joseph dengan nada menghina. "Klan pembunuh."
통화가 끝난 뒤에도 회의실 안은 한동안 조용했다.리치몬드는 김다온을 요구했다.국내 자금줄이 끊겼고, 민건우도 잡혔다. 남은 위험은 김다온이라는 말도 틀리지 않았다.하지만 이다정이 신경 쓰는 건 다른 부분이었다.상대는 김다온을 원한다고 말하면서도 거래 조건을 꺼내지 않았다.그건 아직 보여주지 않은 패가 있다는 뜻이었다.이다정은 휴대폰을 테이블 위에 내려놓았다.“보안실로 가요.”정유리가 노트북을 챙겼다.“여기서 하면 안 돼?”“기자들 장비가 너무 많아요.”이다정은 유리벽 너머를 바라봤다.회의가 끝났는데도 기자들은 떠나지 않았다. 재단 사무국 직원과 수사관들도 계속 드나들고 있었다.“저쪽은 다온 씨 전화번호뿐 아니라 우리가 어디 있는지도 알고 있었어요.”김다온이 낮게 말했다.“대표님 판단이 맞습니다.”
오전 여덟 시 오십삼 분.송하재단 본관 앞은 이미 기자들로 가득했다.검은 차량이 입구로 들어설 때마다 카메라가 한꺼번에 돌아갔다. 전략실 불법 사찰, 창업주 건강정보 유출, 의료법인 차명 자금, 대표 권한 박탈 문건까지. 밤사이 터진 기사만 열두 건이었다.재단은 평소처럼 조용한 얼굴을 유지할 수 없었다.이다정이 탄 차량이 정문 앞에 멈췄다.김다온이 먼저 내렸다.주변을 확인한 뒤 뒷문을 열었다. 이다정은 재킷 단추를 잠그며 차에서 내렸다.플래시가 쏟아졌다.“대표님, 민건우 자문위원과 재단이 관련 있다는 게 사실입니까?”“창업주 의결권이 이미 위임됐다는 보도가 나왔습니다!”“김다온 경호팀장과의 사적 관계가 경영 판단에 영향을 줬다는 주장에 대해 말씀해주십시오!”이다정의 걸음이 잠시 멈췄다.마지막 질문.밤새도록 자신을 끌어내리기 위해 반복된 문장이었다. 사적 관계. 감정적 판단. 불안정한 승계자.이다정은 질문한 기자를
민건우의 걸음이 서재 문턱에서 멈췄다.창업주 맞은편에 장성우가 앉아 있었다. 두 손은 테이블 위에 올려져 있었고, 옆에는 압수된 휴대폰과 외장 메모리가 놓여 있었다.조금 전까지 전략실 회의실에 있어야 할 사람이 왜 여기 있는지, 민건우는 바로 이해하지 못했다.장성우가 먼저 웃었다.“기다리고 있었습니다.”민건우의 시선이 천천히 움직였다.장성우.테이블.창업주.그리고 닫힌 서재 문.“자네가 여기 있을 줄은 몰랐군.”목소리는 평온했다. 놀란 기색도, 당황한 기색도 없었다.장성우는 그 평온함을 오래 알고 있었다. 민건우는 문제가 생겼을 때 화내지 않는다. 상대가 아직 쓸모 있는지부터 계산한다.장성우가 낮게 말했다.“저도 제가 여기까지 올 줄은 몰랐습니다.”“그런가.”민건우가 안으로
철문 밖에서 차량 문이 동시에 열렸다.하나.둘.셋.짧게 끊기는 소리가 지하 주차장 안으로 번졌다.이어지는 발소리.여럿이었다.서두르지 않는다.서로의 간격도 일정했다.김다온은 철문 앞에 선 채 움직이지 않았다.오른손에는 권총.왼손은 뒤로 뻗어 있었다.이다정의 앞을 막는 손이었다.“몇 명이에요.”“확인되는 인원은 열둘입니다.”낮고 차분한 대답.이다정은 김다온의 등 뒤에서 철문을 바라봤다.“나갈 수 있어요?”“예.”“이길 수 있냐고 물은 거예요.”
“예은아, 왜?”“또 뭐 말하려고?”이다정은 서류에서 눈을 떼지 않은 채 말했다.황예은은 문을 닫자마자 천천히 입꼬리를 올렸다.딸깍.“이다정.”예은이 팔짱을 끼며 말했다.“기사 뭐야.”그 말에 이다정의 펜 끝이 잠깐 멈췄다.“아침에 봤는데.”예은은 일부러 천천히 말을 끌었다.“너무 잘생겼는데?”이다정은 고개도 들지 않았다.“그거 말하려고 들어왔어?”“지금 회사야.”그러자 예은이 어깨를 으쓱했다.“회사 이전에—”그녀는 아무렇지 않게 다가와 이다정 책상 모서리에 엉덩이를 걸쳤다.“우리 초등학교 때부터
똑똑.“올라오시면 됩니다.”문 너머로 들린 비서의 목소리는 차분했다.김다온은 짧게 숨을 고르고 대답했다.“네, 비서님. 알겠습니다.”문을 열자, 넓은 회장실이 한눈에 들어왔다.유리창 너머로 내려다보이는 도심과 그 앞에 서 있는 한 남자.이다정의 아버지, 이회장이었다.그는 등을 보인 채 서 있었다.마치 김다온이 들어오는 걸 이미 알고 있었다는 듯이.“문 닫게.”김다온은 아무 말 없이 문을 닫았다.찰칵—이회장은 그제야 몸을 돌렸다.손에는 태블릿 하나가 들려 있었다.“출근 첫날은 어땠나.”“무사히 마쳤습니다
다음 날 아침.이다정은 낯선 소리에 눈을 떴다.저택 앞마당에서 엔진이 조용히 걸리는 소리였다.낮게, 그러나 단정하게 이어지는 진동.익숙한 소리가 아니었다.이다정은 잠시 눈을 깜빡였다.아직 완전히 깨어나지 않은 머릿속에 어젯밤의 장면이 천천히 떠올랐다.빗속, 차 안 그리고— 그 남자.이다정은 이불을 밀어내고 일어나 창가로 걸어갔다.커튼을 조금 젖히자 아침 햇빛이 방 안으로 부드럽게 흘러들었다.그 아래, 저택 앞마당에 검은 세단 한 대가 서 있었다.그리고 그 옆에 어제의 남자.김다온이었다.오늘의 그는 어제와 달
보고서는 얇았다.이상할 정도로.이다정의 아버지, 이회장은서류를 넘기다 말고 손을 멈췄다.종이 몇 장.운전 경력 몇 줄.그리고—길게 비어 있는 공백.“이게 전부인가.”낮은 목소리였다.하지만 회의실 안 공기가 동시에 조여들었다.“네, 회장님.”비서실장이 조심스럽게 말했다.“주민등록, 병역, 면허 기록까지는 정상입니다.하지만 그 이상은… 추적이 어렵습니다.”이회장은 서류 맨 위를 다시 보았다.김다온.스물아홉.최근 1년, 무직.“대리기사로 등록된 건 언제지.”“3개월 전입니다.”짧은 침묵이 흘렀다.
reviews