Share

PART 07

Seorang wanita usia sekitar 40-an tahun muncul dari ruangan dapur sambil membawa nampan yang berisi dua gelas teh hangat.

"Oh ya, Dik Jas, beliau ini Bik Yam, asisten baru di rumah ini," Widya memperkenalkan wanita asisten itu kepada Jasman.

Nok Yam mengangguk hormat kepada Jasman, dan dibalas oleh Jasman dengan sikap yang sama.

"Tadi Dik Jas jadi mampir sekalian ke kostnya?" tanya Widya lagi setelah mempersilakan Jasman untuk meminum tehnya.

 

"Jadi Mbak, sekalian saya bersih-bersih kamar kostnya," sahut Jasman.

Memang, tadi sebelum ke kampus, Jasman mampir dulu ke kostnya. Saat itu Fadli datang ke kostnya karena dia yang minta. Keduanya membersihkan kamar kost itu secukupnya. Lalu ia meminta kepada sahabatnya itu untuk menempati kamar kost yang sewanya masih setengah tahun lagi itu. Kebenaran ngontrak kostnya Fadli sudah mau habis dalam minggu-minggu ini. Kepada Fadli ia bercerita, bahwa ia sudah mendapatkan kerja sambilan sebagai pengawal pribadi seorang wanita, tanpa memberitahukan alamatnya.

"Besok Dik Jas masih ada urusan di kampus?"

 

"Tidak ada, Mbak," jawab Jasman. "Paling tidak dalam bulan ini. Karena sudah harus mulai bergelut dengan penyusunan skripsi. Terus... paling keluar cari-cari bahan di perpus kampus, di toko buku, shopping center, atau tempat lainnya."

"Oh gitu? Ntar kalau Dik Jas cari-cari bahan, bilang Mbak ya, Mbak mau ikut. Sekalian jalan-jalan, daripada Mbak hanya menunggu rumah seperti laba-laba," pinta Mbak Widya sembari berkelakar.

"Siap Mbak!" ucap Jasman, lalu pamit untuk ke paviliunnya. Mau istirahat.

Di paviliun Jasman tidak benar-benar istirahat. Ia hanya tidur-tiduran sembari membuka-buka album di handphonenya. Foto-fotonya dengan Ningrum masih tersimpan baik di situ. Tak ada satu pun foto-foto mereka yang tidak menunjukkan kemesraan. Wajah cantik nan manja Ningrum selalu ada di sampingnya. Foto-foto itu mereka abadikan dengan latar alam yang berbeda-beda. Ada yang ketika mereka mengunjungi situs Candi Borobudur, Prambanan, Kaliurang, Telaga Warna di Dieng, Wonosobo, Pantai Parangtritis, di kawasan Makam Raja-Raja Imogiri, dan lain-lain. Namun yang paling berkesan adalah foto-foto saat mereka berdua melakukan pendakian di Gunung Merbabu. Kebetulan juga Ningrum adalah anggota mapala kampus juga. Melihat foto-foto tersebut, kenangan dari pendakian itu seolah terekam kembali dengan jelas dalam memori kepalanya.

Saat itu, di akhir Desember di dua tahun yang lalu, bersama enam orang anggota mapala lainnya, dan beberapa anggota mapala dari kampus lain, melakukan pendakian. Jadi ada  sepuluh orang dalam pendakian itu, yang terdiri dari empat cewek dan enam cowok. Saat itu Jasman dan Ningrum belum ada hubungan khusus, pacaran, selain daripada sebatas hubungan pertemanan sebagai sesama anggota mapala. Jangankan sekedar perasaan saling menyukai, bahkan untuk sekedar ngobrol biasa saja mereka jarang, sejak mereka berdua berkenalan di Pantai Parangtritis setahun sebelumnya. Lebih-lebih karena memang sifat Jasman yang cenderung pendiam dan kadang terkesan angkuh. Tetapi rupanya acara pendakian di bulan Desember itu menjadi awal dari hubungan spesial bagi mereka berdua. Jasman jadi tersenyum sendiri jika ingat peristiwa itu.

Saat itu mendadak cuaca menjadi tidak bersahabat. Hujan yang bagai tercurahkan dari langit membuat suasana rimba menjadi gelap, dan suhu berubah menjadi ekstrem. Ditambah lagi kondisi Ningrum yang terlihat kepayahan akibat kakinya terkilir. Akhirnya oleh pemimpin regu diputuskan untuk tidak melanjutkan pendakian. Tetapi untuk turun ke pos terdekat pun belum memungkinkan, terkendala kondisi cuaca dan medan yang tidak mendukung. Ketua regu meminta untuk mendirikan tenda di suatu tempat yang letaknya agak landai.

Kelompok cowok menempati dua tenda, sementara yang cewek satu tenda. Rupa-rupanya kondisi yang dialami oleh Ningrum cukup parah. Kakinya yang putih mulus berubah menjadi membiru kehitaman. Jasman yang memiliki ilmu dalam hal totok darah dan salah urat, berusaha memberikan pertolongan pertama, sehingga mampu mengurangi rasa nyeri yang sangat pada engkel kaki Ningrum. Dan agar kaki gadis itu tetap hangat dan terlindung dari cuaca sangat dingin pegunungan, Jasman pun merelakan selimutnya dipakai khusus untuk membungkus bagian kakinya sang calon dokter itu. Kepada ketua regu Jasman meminta ijin untuk menunggu Ningrum dan tiga cewek yang lain di dalam tenda mereka. Kebetulan renda itu cukup luas. Jasman ingin memastikan, bahwa gadis itu baik-baik saja, mengingat kondisi suhu makin ekstrem saja dinginnya.

Sampai keesokan harinya, sebelum cuaca kembali memburuk, mereka pun memutuskan untuk turun lebih pagi. Tapi ada lagi satu kendala, bahwa dengan kondisi kakinya yang masih terasa sangat nyeri, Ningrum tentu belum mampu untuk berjalan sendiri. Pilihannya tentu harus ditandu menggunakan sarung atau selimut. Itu pun masih merupakan pilihan yang berisiko, mengingat medannya yang dilalui memiliki kemiringan di atas 50 derajat masih sangat licin akibat hujan semalam. Maka saat itu Jasman mengambil inisiatif dan memutuskan untuk menggendong Ningrum dengan punggungnya. Bagi Jasman yang berpostur tinggi kekar, membawa gadis seberat 50-an kg dengan cara demikian tak ubahnya seperti membawa sebuah travel bag.

Pada mulanya Ningrum masih merasa sungkan dan malu, mungkin juga risih, jika harus bergelayut di punggung seorang cowok seperti itu. Namun karena memang kondisinya darurat dan hanya cara itu pilihan yang paling aman, maka ia pun mau bergelayut di punggung kekarnya Jasman. Bahkan kemudian ia menikmati pertolongan tulus itu. Selanjutnya, ia benar-benar merasakan nyaman di punggung kokoh si cowok dari daerah seberang itu. Ia meletakkan wajahnya di samping lehernya Jasman, sampai tertidur. Dan Jasman menyadari hal itu. Ketika telah sampai di pos pertama, saat ia hendak mendudukkannya gadis yang yang di punggungnya, ia berkata setengah berbisik, "Sudah sampai Mbak Ning..." Ningrum tak bisa menyembunyikan raut wajah malunya. Sejak saat itu, Ningrum selalu ingin berada di dekat Jasman. Sampai akhirnya mereka pun jadian, menjadi sepasang kekasih.

*.    *.     *

Segala sesuatu terkadang tidak sejalan dengan angan, harapan, dan rencana. Tanpa sebuah argumen yang bisa Jasman pegang, kedua orang tua Ningrum tidak mendukung hubungannya dengan putri tunggal mereka itu.

Ortu Ningrum tidak menginginkan putrinya itu untuk berhubungan, apalagi menikah, dengan laki-laki dari pulau seberang. Tetapi menurut feeling Jasman, itu hanyalah alasan yang mengada-ada saja. Kalau alasan penolakan itu hanya karena dia seorang pemuda dari pulau seberang, tentu semuanya bisa dimusyawarahkan. Namun Jasman tak perlu mempertanyakan asalan yang aneh itu kepada ortunya kekasihnya itu. Lagipula, ortu berhak menolak siapa pun untuk menjadi menantunya. Dia cukup memakluminya saja. Bahwa kekasihnya itu berasal dari keluarga bangsawa dan terpandang, mungkin dari segi ekonomi juga, adalah memang sebuah kenyataan. Orang tua mana pun tentu menginginkan calon menantunya itu adalah orang yang bagus dalam segala hal: bobot, bebet, dan bibitnya. Jasman pun paham soal itu. Sekalipun ia juga memiliki bobot, bebet, dan bibit yang bagus, namun tak ada gunanya ia katakan pada siapa pun. Untuk saat ini, dia memang sama sekali bukanlah calon menantu idaman, terutama karena dari sisi ekonomi dia memang belum jadi siapa-siapa. Dia hanyalah seorang mahasiswa perantau yang masa depannya belum jelas. Tapi dalam hati Jasman tetap berharap, kelak Ningrum akan kembali padanya dan akan menjadi miliknya seutuhnya.

Tok...tok...tok...!

 

Ketukan fi pintu membuyarkan lamunan Jasman.

"Dik Jas sudah tidur...?"  terdengar suara Widya di balik pintu.

"Belum, Mbak...," sahut Jasman sembari bangkit dari tidurnya, mengenakan  kaos singlet, lalu melangkah ke arah pintu.

"Mbak cuma mau memberikan ini... Mudah-mudahan bisa mendukung tugas akhir kuliah Dik Jas," ucap Widya seraya menyerahkan sebuah plastik besar yang berisi sejenis kotak kardus yang bentuknya pipih.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status