Novels
Short Stories

Genres

All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

26
Pelakor×
All
Mandiri
Pelakor
Munafik
Psikopat
Wanita Kuat
Mafia
Cinta Pertama
Kejam
Istri Muda
Teman Masa Kecil
Cinta Sejati
Dokter
Bestie
Pengasuh
Pengganti
Bucin
Menantu
Guru
Identitas Tersembunyi
Sekretaris
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Show more

Plot & Setting

27
Penyesalan×
All
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Dewasa 18+
Menggoda
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Perundungan
Penebusan
Sistem
Kehamilan
Nikah Kontrak
Cinta Lama Bersemi Kembali
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Kekuatan Super
Pusat Perhatian
One Night Stand
Petualangan
Show more

Themes

15
Plot Twist×
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Semangat
Multi POV
Show more

Plot Twist Short Stories & Pelakor Penyesalan Novels

Discover a collection of engaging Plot Twist short stories featuring Pelakor and Penyesalan, with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang - undefined novels & stories
Kesya
Pada hari penandatanganan kontrak bernilai fantastis, aku mendadak terserang flu berat yang memicu muntah dan diare hebat. Aku bahkan tidak sengaja menyemburkan muntahan tepat ke wajah pihak mitra. Mereka pun marah besar, membatalkan kontrak saat itu juga, dan menyebabkan perusahaan merugi hingga ratusan miliar. Kekasihku, yang juga menjabat sebagai CEO, meledak dalam amarah. Dia langsung menurunkan jabatanku, dari wakil direktur menjadi staf pemasaran biasa. Tidak hanya itu, dia memangkas waktu tidurku hingga hanya tiga jam sehari. Sisa waktuku harus dihabiskan untuk bekerja bagai budak demi menghasilkan uang, sampai seluruh kerugian perusahaan lunas. Digerogoti rasa bersalah, aku bekerja keras setiap hari, memburu berbagai proyek demi mendatangkan keuntungan. Namun, saat utang itu hampir lunas dan aku dengan penuh sukacita hendak melaporkan perkembangannya, aku malah tidak sengaja mendengar percakapan antara kekasihku dan asisten wanitanya. "Pak Tomas, dulu Frida cuma memotong bonus kinerja saya 2 ribu, tapi Anda tega diam-diam memasukkan pencahar ke dalam minumnya. Akibatnya, dia mempermalukan diri di depan mitra bisnis. Setelah itu, Anda memfitnahnya sebagai penyebab perusahaan kehilangan kontrak raksasa, lalu memaksanya mati-matian melunasi utang itu. Bukannya Anda terlalu kejam kepadanya?" "Sekarang utangnya sudah hampir lunas, lepaskan saja dia. Gimanapun, Anda tulus mencintainya. Kalau Frida sampai terdesak dan meninggalkan Anda, bagaimana? Jangan sampai hubungan kalian hancur karena saya ...." Kekasihku memotong ucapan Lidia Dandu, "Nggak bisa! Kamu adalah penyelamat nyawaku. Dulu aku kecelakaan sampai pendarahan hebat. Kalau kamu nggak mendonorkan darahmu waktu itu, mana mungkin aku bisa hidup sampai sekarang?" "Walaupun Frida adalah satu-satunya wanita yang kucintai, dia sudah berani memotong bonus kinerjamu. Ini hukuman yang pantas untuknya! Sekali kukatakan 200 miliar, tetap 200 miliar, nggak boleh kurang sepeser pun! Lagi pula, kemampuannya hebat. Paling lama satu bulan lagi, dia pasti bisa melunasinya. Kalau saat itu tiba, aku akan menebus kesalahanku dan menikahinya." Namun, dia tidak tahu bahwa aku tidak punya waktu satu bulan lagi. Selama beberapa tahun ini, demi melunasi apa yang dia sebut sebagai "kerugian", fisikku terkuras habis hingga aku menderita kanker lambung. Sisa hidupku tinggal satu minggu lagi. Terlebih lagi, dia tidak pernah tahu bahwa orang yang mendonorkan darah saat dia kecelakaan bertahun-tahun lalu adalah aku.
Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat - undefined novels & stories
Wulan
Setelah sahabatku melahirkan, aku menggendong bayinya yang menggemaskan sambil bercanda. "Anak pintar, ini ibu angkat dan yang di sana itu ayah angkat." Tiba-tiba, Diego yang berdiri di sampingku menyahut. "Bukan ayah angkat, tapi Ayah." Aku mengira aku salah dengar. Akan tetapi, pria itu malah menarik sudut bibirnya dengan malas, lalu mengulangi ucapannya dengan santai. "Dia anakku." "Tepat di hari ayahmu meninggal, aku dan Shera tidur bareng semalaman. Kita bahkan menghabiskan satu kotak kondom." Tubuhku langsung membeku di tempat. Tenggorokanku terasa seperti disumbat timah, sampai tak bisa mengeluarkan suara. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku bisa memaksakan beberapa patah kata keluar dari bibirku, "Tapi, kemarin kita baru resmi menikah." Diego tersenyum, merangkul bahuku sambil mencoba menenangkan. "Tenang aja, aku sama dia cuma sebatas teman tidur kok. Kalau memang mau nikah, dari dulu juga sudah kami lakukan." Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak. Lalu, dengan nada mengejek, dia menambahkan, "Shera belum cerita, ya? Kami pernah pacaran dan aku pria pertamanya."
Mawar Layu di Musim Dingin Kedua - undefined novels & stories
Yusfa
Selama 8 tahun, aku selalu menemani Farrel Grattino menapaki kariernya di dunia penerbangan dari seorang kopilot hingga menjadi kapten. Di tahun tersibuknya, aku bahkan rela mengundurkan diri dari pekerjaan untuk memasak sesuai jadwal penerbangannya. Pernah suatu kali aku bertanya, "Suatu hari nanti apakah kau bisa mengajakku melihat langit di ketinggian sepuluh ribu meter yang selalu kau lihat? Sekali saja." Dia bahkan tidak menghentikan sumpitnya. "Itu tempat kerja, bukan taman hiburan." Aku menjawab, "Baik." Sejak saat itu, aku tidak pernah mengungkitnya lagi. Hingga suatu malam ketika sulit tidur, aku tanpa sengaja menemukan album foto yang dikunci dengan kata sandi di ponselnya. Di dalamnya ada lebih dari empat puluh foto, semuanya diambil dari sudut pandang kokpit. Hamparan lautan awan, matahari terbenam, pelangi ganda setelah hujan, hingga galaksi di langit pada ketinggian sepuluh ribu meter. Setiap foto pernah dia kirim kepada orang yang sama, dengan nama kontak berupa emoji beruang kecil. Foto terbaru diambil tiga hari yang lalu. Senja menyelimuti langit, sementara setengah bulatan matahari menggantung di ujung sayap pesawat. Dia menuliskan sebuah kalimat: [Pemandangan hari ini juga sangat indah. Nanti kalau kau datang, duduklah di kursi observasi sebelah kanan. Itu sudut pandang yang terbaik.] Orang itu membalas dengan emoji pelukan dan empat kata: [Tunggu saat aku cuti.] Aku mengembalikan ponselnya ke tempat semula tanpa mengubah kata sandi ataupun menghapus album fotonya. Fajar menyingsing, aku menyeduh kopi seperti biasa, lalu meminumnya dengan tenang. Setelah itu, aku membuka laptop, menulis surat pengunduran diri, dan memesan tiket pesawat menuju Baili. 8 tahun sudah berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mengejar rute penerbangannya dan menunggu waktu makan bersamanya. Aku berhenti menjaga rumah yang kosong sambil menebak-nebak terbang ke mana dia saat ini. Jika langit di ketinggian sepuluh ribu meternya memang tidak memiliki tempat untukku, maka aku akan berpijak di bumi, menumbuhkan kehidupan dan menikmati senjaku sendiri.
Tanpa Lamaran Ke-101 - undefined novels & stories
Ehsan
Aku dan seorang aktris papan atas, pernah membuat sebuah janji. Asalkan aku melamarnya secara heboh sebanyak 99 kali dengan siaran langsung di seluruh internet, dia akan mengumumkan hubungan kami secara resmi pada lamaran yang ke-100. Namun, saat aku melakukan lamaran yang ke-100, dia malah menemani seorang aktor pendatang baru untuk berlatih teknik berciuman di atas kapal pesiar pribadi sambil tersenyum manis. Aku pun menjadi bahan tertawaan sepenuhnya. Dengan penuh rasa bersalah, aktris itu mengirimkan pesan kepadaku. [Pada lamaranmu yang ke-101, aku pasti akan menerimamu.] Kali ini, dia berdandan secantik bidadari yang turun dari kayangan dan masuk ke dalam ruang siaran langsungku. Namun, tepat di hadapannya, aku membakar 100 surat lamaran yang pernah kutulis untuknya, termasuk surat diagnosis kanker lambungku yang kusembunyikan di sela-sela surat itu. "Nggak ada lamaran yang ke-101 lagi, Nona Amanda."
Gerimis Terakhir di Jianika - undefined novels & stories
C.H
Tepat pada tahun kesepuluh sejak aku terlempar ke dunia modern tanpa sengaja, sistem akhirnya menyadari keberadaanku sebagai sebuah anomali. Sistem bersiap mengirimku kembali ke dinasti asalku dan memberiku waktu tiga hari untuk berpamitan. Pada hari pertama, Viona Limawan memintaku merelakan pernikahan kami demi sahabat masa kecilnya. Aku tidak menangis atau membuat keributan. Aku hanya tersenyum, melepas cincin pertunangan, lalu mengembalikannya kepadanya. Hari kedua, dia membawa sahabat masa kecilnya pulang dan berkata ingin memberinya tempat tinggal. Aku menerimanya dengan tenang dan memilih mengalah. Hari ketiga, dia ingin mengajak sahabat masa kecilnya berbulan madu ke Jianika, tempat yang selama ini paling ingin kukunjungi. Aku tetap membantunya mengatur semua persiapannya dengan sabar. Namun, saat kendaraan yang membawa mereka melaju menuju Jianika, aku justru berbalik dan melangkah menuju arah pulangku sendiri. Mimpi yang bertahan selama sepuluh tahun akhirnya benar-benar usai.
Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku - undefined novels & stories
Mohini
Saat istriku dinyatakan hamil, di perjalanan pulang tiba-tiba dia berkata kepadaku, "Ada sesuatu yang mau kukatakan." "Sebenarnya anak yang ada di dalam kandunganku adalah anak kakak ipar. Surat izin kelahirannya juga sudah selesai diurus." Senyum di wajahku langsung membeku. Dia mengeluarkan selembar hasil Tes DNA dari dalam tasnya. Pada kolom ayah benar-benar tertulis nama Felix Gondo. Dia berkata dengan nada yang begitu tenang hingga terasa mengerikan, "Hari itu kau demam tinggi dan tertidur di kursi belakang mobil. Kami melakukannya di kursi depan." "Di tempat aku duduk sekarang ini." Dalam sekejap, seluruh tubuhku seakan terjun ke dalam jurang es. Aku membuka mulut, tetapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat sesuatu. Setelah mengatakan itu, Salma Kurniawan menatap perutnya yang mulai membesar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya menusuk hatiku. "Kalau kau benar-benar nggak bisa menerimanya, aku bisa gugurkan. Tapi kuota surat izin kelahiran cuma ada satu. Kalau kesempatan ini hilang, kita berdua nggak mungkin punya anak lagi." "Sekarang, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Membiarkan anak ini lahir atau nggak, kau yang putuskan."
Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk - undefined novels & stories
Jisu
Pada hari kami mendaftarkan pernikahan, Celine Raharja berkata bahwa suami dan istri pisah kamar selama lebih dari seminggu, secara otomatis akan dianggap bercerai. Oleh karena itu, setiap kali kami bertengkar, begitu dia mengambil bantal dan pindah ke kamar tamu, aku selalu langsung merendahkan diri dan meminta maaf. Kalimat itu dia gunakan untuk mengendalikanku selama tiga tahun penuh. Di hari ulang tahunku yang ke-28, dia kembali melewatkan janji makan malam denganku karena seorang anak magang. Setelah pulang ke rumah, aku tidak menyambut kotak berisi kancing manset berlian yang dia sodorkan kepadaku. Dia mengernyit sambil menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan dingin, "Apa di matamu ulang tahun yang bisa dirayakan setiap tahun lebih penting daripada nyawa manusia?" "Setelah mengantar Elio ke rumah sakit, aku sudah berusaha pulang secepat mungkin. Tapi kau masih saja membuat masalah!" "Julian, rasa cemburumu benar-benar membuatku takut!" Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berjalan menuju kamar tamu. Hanya saja ... kali ini aku tidak lagi mengejarnya.
Ketika Cinta Tinggal Kenangan - undefined novels & stories
Feli
Sehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi, aku sengaja merekam sebuah video. Isinya adalah percakapan antara diriku sepuluh tahun lalu dengan diriku sepuluh tahun kemudian. Siapa sangka… Video itu benar-benar terhubung dengan diriku di masa depan. “Apa aku berhasil masuk program sarjana-magister terpadu di Universitas Kahyangan?” “Adam Lewis masih jadi sahabat terbaikku, ‘kan? Meski sifatnya menyebalkan, selain aku, memangnya ada orang lain yang mau memperlakukannya setulus ini?” “Kalau semuanya berjalan lancar, sekarang aku pasti sudah lulus S2.” “Aku juga pasti sudah menjalani kisah cinta dari bangku kuliah sampai ke pelaminan bersama Mika Damyong, ‘kan?” “Mungkin saja… kami bahkan sudah punya anak yang lucu.” “Aku sudah menyiapkan namanya sejak lama.” Aku membayangkan masa depan dengan penuh semangat. Namun, saat diriku sepuluh tahun kemudian mendengar nama Mika, emosiku langsung meledak. “Mika sengaja menyiapkan pena bertinta menghilang untukmu supaya Adam jadi juara umum tingkat kota!” “Kamu gagal masuk Universitas Kahyangan dan terpaksa mengulang ujian setahun kemudian!” “Di depanmu, Mika berpura-pura sedih.” “Dia bahkan setuju menjalani hubungan jarak jauh denganmu.” “Tapi begitu di kampus, dia justru terang-terangan berpacaran dengan Adam” “Mereka menjadi pasangan serasi yang membuat semua orang iri.” “Rafael Mananta…” “Kamu benar-benar bodoh!” “Kamu sudah diselingkuhi…” “Masih saja berterima kasih sama Adam karena sudah menjaga pacarmu!”
Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh - undefined novels & stories
Yina
Saat Anjani Adyatama menjalani terapi MECT untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun di sisinya. Bahkan, Nathan Bimantara, tunangannya yang sangat mencintainya, juga tidak hadir di sana. Setelah dokter menyuntikkan obat pelemas otot ke tubuhnya, Anjani merasa pusing, juga menjadi antara sadar dan tidak sadar. Kemudian, dalam keadaan setengah sadar itu, Anjani teringat kejadian pada sore itu. Anjani sudah mengantre selama tiga jam untuk membeli kue. Lalu, kue itu dibawanya pulang dengan maksud memberikan kejutan kepada Nathan. Akan tetapi, yang dilihat Anjani justru adegan Nathan sedang berciuman dengan adiknya, Jihan Adyatama. Bibir dan lidah keduanya saling bertaut. Mereka saling berpelukan erat, seakan tidak sanggup untuk berpisah. Kue di tangan Anjani langsung terjatuh ke lantai dan hancur berantakan. Anjani pun menampar wajah Nathan. Akan tetapi, Jihan justru mendorong Anjani hingga jatuh dari tangga.
Kenapa Panik Setelah Aku Meninggalkan Dunia - undefined novels & stories
Ijo
Selama tiga tahun ini, Leon Sinclair berselingkuh dariku. Dia menyembunyikan perempuan itu dengan begitu rapi, tanpa menyisakan celah sedikit pun. Aku pernah menemukan kalung renda yang masih hangat di jok belakang mobilnya. Bahkan di belakang telinganya, lebih dari sekali aku menemukan bekas gigitan yang masih baru, menyisakan jejak kemesraan dengan perempuan lain. Setiap kali, aku mengamuk seperti orang gila, mengobrak-abrik rumah sampai berantakan, dan menuntut jawaban tentang siapa wanita itu, Leon hanya mengernyit lelah, menatapku seakan akulah yang bermasalah. "Giselle, sampai kapan kamu mau curigaan begini? Kamu bilang aku selingkuh, ya tunjukkan buktinya." Jadi, aku mengikutinya 24 jam penuh. Aku beri tahu semua keluarga, semua teman, untuk berjaga di depan hotel di bawah apartemen, siap menangkap basah. Namun, setiap kali pintu kamar itu didobrak, yang kulihat hanya Leon, duduk rapi di sofa dengan kemeja terkancing sempurna, menatapku dingin. "Mau geledah?" Setiap kali aku keluar dengan tangan kosong, ibuku menggenggam tanganku sambil menghela napas. "Giselle, dalam pernikahan itu yang paling penting kepercayaan. Kamu ribut terus kayak gini, muka Leon mau ditaruh di mana?" Bahkan sahabat terdekatku pun berusaha menasihatiku dengan hati-hati. "Mungkin ... kamu emang lagi terlalu stres, Giselle. Bisa jadi itu cuma pikiranmu sendiri."
Musim Dingin Tak Mengenal Waktu - undefined novels & stories
Seanna
Tujuh hari setelah diselamatkan dari percobaan bunuh diri, Reina menjadi istri yang "pendiam" seperti yang diharapkan Bayu. Dia tidak akan terus-menerus berbagi hal-hal menarik yang baru ditemukannya. Tidak marah-marah dan mempertanyakan Bayu karena melihat bekas lipstik di kemejanya. Dia tidak akan terus-menerus mengawasi dan mencurigai Bayu yang mengaku telah berhenti selingkuh, dengan siapa saja dia berkomunikasi setiap hari. Seperti yang diharapkan Bayu, dia diam, tidak mengganggu, dan memberinya kebebasan mutlak. Jadi, ketika dia terluka setelah terseret dalam insiden penyanderaan besar saat berbelanja di mal, Reina hanya membuat laporan di kantor polisi sendirian, lalu diam saja pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Bayu memandang lengan Reina yang dibalut perban dan ingin memeluknya. Dia menyingkir dengan hati-hati dan masuk ke dalam mobil, sambil berkata dengan datar, "Aku baik-baik saja, nggak perlu merepotkanmu." Tangan Bayu terdiam di udara. Suara Reina yang tenang membuatnya mengerutkan kening. Dia seharusnya tidak seperti ini. Reina telah menjadi istri sempurna yang dia harapkan, bahkan mengabulkan cintanya. Namun, setelah dia pergi, Bayu mencarinya kembali mati-matian.
Biarkan Aku Menikmati Momen Ini - undefined novels & stories
Taeyon
Saat menelepon Edy untuk mengecek keberadaannya, ternyata gadis muda di sampingnya sedang tidak mau diam. “Rancangan pernikahannya sudah dikirim ke emailmu. Asistenmu bilang sampai sekarang belum diterima.” “Kamu ... sedang apa?” Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kain dari seberang telepon. Gadis itu sengaja menggodanya dari bawah, Edy mendengus pelan dan nyaris tidak mampu menahan diri. “Sedang berolahraga.” “Anak baik, nanti saja bahas soal pernikahannya.” Setelah menutup telepon, aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalas email yang sudah menunggu selama seminggu. Yang Edy tidak tahu adalah…. Tidak akan ada kata “nanti” lagi. Tanggal pernikahanku dimajukan.
Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda - undefined novels & stories
Liz
Arga Setiawan terkenal sebagai sosok yang sangat berprinsip. Dia selalu tepat waktu dan taat aturan, tak pernah sekali pun membuat pengecualian. Namun, untuk urusan mengurus buku nikah bersama Rania Pranoto, dia sudah mengingkari janjinya hingga delapan kali. Pertama, karena Clara Gunawan, adik tingkatnya yang telah delapan tahun berada di luar negeri, kembali ke tanah air dan dia harus menjemputnya di bandara. Kedua, karena jari Clara memerah akibat tersiram air panas saat memasak. Ketiga, karena anak Clara jatuh sakit. ... Kini, untuk kedelapan kalinya, dia kembali tidak muncul. Dia hanya sempat menelepon terburu-buru dan berkata singkat, "Aku ada urusan. Nanti aku nyusul." Rania menatap nomor antrean mereka berkali-kali dilewati, hingga petugas di loket mengetuk kaca jendela. "Nona, kok pacarnya nggak datang lagi? Kami sebentar lagi tutup, lho." Saat dia bersiap menelepon lagi, pesan dari Arga justru lebih dulu masuk. [Urusanku belum kelar. Buku nikahnya kita urus lain hari ya.] Membaca pesan itu, ada rasa perih yang tak terlukiskan menyelimuti hatinya. Tepat saat dia hendak memasukkan ponselnya dan beranjak pergi, dia tak sengaja melihat linimasa media sosial. Sebuah unggahan terbaru dari Clara membuat tubuhnya terpaku. Dalam foto itu, Clara tersenyum riang. Di sampingnya, Arga sedang menggendong putra Clara, menatap Clara dengan tatapan penuh kasih sayang. Dengan keterangan: [Kenzy ingin main ke taman hiburan. Makasih, Kak, sudah menemani kami seharian!] Menatap foto itu, tenggorokan Rania terasa tercekat, seolah dipenuhi timah yang berat dan getir. Ternyata, 'urusan penting' yang pria itu maksud kali ini adalah menemani putra Clara ke taman hiburan. Dada Rania terasa nyeri menusuk. Rasa sakit hati dan amarah membakar dirinya hingga sekujur tubuh gemetar. Tepat saat dia bersiap menelepon Arga untuk menuntut penjelasan, dia melihat komentar dari teman-teman mereka yang mulai menggoda di kolom komentar. [Udah bertahun-tahun berlalu, Dokter Arga masih aja lebih manjain adik tingkatnya kayak dulu.]
PREV
123
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status