Yasmin
Pada hari pernikahanku, tepat ketika pembawa acara mengumumkan sesi pertukaran cincin, Harvey Sentosa yang berdiri di hadapanku tiba-tiba angkat bicara.
"Sejujurnya, aku pernah 'berhubungan' sama sahabat baikmu."
Aku terpaku di tempat. Melihat ekspresiku yang penuh rasa tidak percaya, dia bahkan tidak berkedip sedikit pun. Sikapnya begitu tenang, seolah hanya sedang membicarakan sesuatu yang biasa.
"Waktu kamu pergi nyobain gaun pengantin, kami bermesraan di ruang ganti sebelahmu."
"Dia sempat beberapa kali mengeluarkan suara. Kamu malah mengira dia sedang sakit dan terus khawatir dengan keadaannya."
"Sesudahnya, waktu dia berdiri di sebelahmu, kakinya bahkan masih gemetar."
Dalam sekejap, seluruh darah di tubuhku terasa membeku.
Aku menoleh dengan kaku ke arah bawah panggung dan menatap sahabatku, Shenia Tandri, yang sedang tersenyum cerah.
Dia mengangkat buket bunga di tangannya sambil berteriak memanggil namaku.
Satu jam yang lalu, dia masih meneteskan air mata haru sambil membantuku merapikan ujung gaun pengantin, berulang kali mengatakan bahwa aku harus hidup bahagia.
"Bahkan tadi, waktu kamu sedang dirias, dia masih duduk di pangkuanku."
"Karena terlalu tegang, punggungku sampai tercakar sama dia."
Sambil berkata demikian, Harvey menatap cincin pernikahan yang masih berada di tangannya dengan ekspresi santai.
"Celine, aku sudah kasih tahu kamu semuanya."
"Mau tetap menikah atau nggak, itu terserah kamu."