Naila
Sejak kecil aku tumbuh di panti asuhan. Selama sepuluh tahun, aku hanya bisa menatap penuh iri ke arah rumah Keluarga Sebastian di balik tembok.
Baru setelah ulang tahunku yang kedelapan belas, aku mengetahui kenyataan pahit bahwa Paman Angga dan Bibi Desi ternyata adalah orang tua kandungku.
Mereka sudah tahu keberadaanku sejak lama. Namun, karena takut anak adopsi mereka, Chelsea Sebastian, tak bisa menerima kenyataan tentang asal-usulnya, mereka sengaja membiarkanku mendekam di panti asuhan selama delapan belas tahun penuh.
Di hari pertemuan keluarga itu, Chelsea langsung memeluk mereka sambil bermanja-manja, sementara aku berdiri canggung bagai orang asing yang tak sengaja menerobos masuk.
Dadaku sesak hingga terasa nyeri. Aku berbalik dan berlari keluar rumah, lalu tewas tertabrak truk yang melaju kencang.
Saat membuka mata kembali, aku sudah kembali ke usia sepuluh tahun. Tepat di hari pertama Kak Brian, seorang relawan, datang mengunjungi panti asuhan.
Di kehidupan sebelumnya, setiap bulan dia selalu datang membawakan makanan enak dan mainan. Dia adalah satu-satunya cahaya di masa kecilku yang kelam.
Kali ini, aku tak akan lagi menunggu Keluarga Sebastian datang mengakuiku.
Aku memeluk erat lengannya, menangis memohon agar dia membawaku pergi.
Tatapan matanya tertuju pada pergelangan tanganku yang penuh luka. Dia terdiam cukup lama, lalu akhirnya seolah mantap dengan keputusannya, dia menggenggam tanganku.
"Oke, Kakak bawa kamu pulang."
Namun, makin jauh dia menuntunku, jalanan yang kami lewati justru terasa makin familiar.
Hingga Chelsea langsung memeluknya dan memanggil "Kakak" dengan manis. Saat itulah aku baru sadar, Kak Brian ternyata adalah anak Keluarga Sebastian yang bekerja di luar kota.
Dia tetap melindungiku. Di hari pertama kami sampai di rumah, dia bahkan memasakkan iga asam manis, makanan kesukaanku.
Namun, begitu mata Chelsea memerah, dia langsung memindahkan piring itu ke kamar gadis itu.
"Yasmin, Chelsea lagi kurang sehat. Kamu ngalah dulu, ya."
Malam itu juga, aku melangkah keluar dari rumah Keluarga Sebastian seorang diri.
Lampu di belakangku menyala sepanjang malam, tetapi aku tak sekali pun menoleh.
Lagi pula, jika cahaya lampu itu tak pernah benar-benar dinyalakan untukku, maka orang-orang di balik cahaya itu dan rumah tersebut, tak ingin kupunya lagi.