Fani
Pada Malam Tahun Baru, kembang api yang dinyalakan di desa menerangi separuh langit dengan cahaya merah.
Namun, suamiku dan kakak iparku tiba-tiba menghilang bersamaan. Beberapa baris komentar mendadak melayang di depan mataku.
[Suaminya bahkan memanfaatkan suara petasan untuk bercinta di tumpukan jerami dan istri sahnya masih sempat melihat kembang api!]
[Kakak ipar bahkan sudah melepas jaket tebalnya, dan hanya tersisa pakaian dalam berenda yang langsung menempel di tubuh? Harus diakui, cukup menggoda ….]
[Aaaah, seru sekali! Berselingkuh di tumpukan jerami di kampung halaman, cinta terlarang macam apa ini!]
Aku berbalik dan berjalan menuju halaman belakang. Benar saja, aku pun mendengar suara manja Dessy.
“Pelan-pelan ... aku sudah tidak tahan ....”
Peter terdengar begitu tergesa-gesa, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Kenapa takut? Suara kembang apinya sangat keras. Sekalipun kamu berteriak hingga serak, tidak akan ada yang mendengar ....”
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali ke halaman depan dan meninggikan suara.
“Adik Sepupu, bukankah kamu ingin mengadakan pesta api unggun? Kebetulan di halaman belakang ada tumpukan jerami.”
Bukankah mereka ingin mencari sensasi di bawah cahaya kembang api? Kalau begitu, akan kubuat suasananya semakin panas.