DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA
Aroma kayu yang mahal menguar dari kompartemen berpadu kursi kulit yang empuk, serta gelas berisi wine merah sudah tersaji di hadapanku, menemaniku yang duduk dengan gelisah
Di seberang meja, Arthur sudah duduk menyilangkan kakinya dengan elegan. Dia nampak tenang menyesap kopi hitam sambil membaca artikel digital pada tablet di tangan.
“Kita punya waktu empat belas jam sebelum mendarat di Jakarta. Kamu bisa gunakan untuk tidur,” ucap Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
Aku meliriknya sekilas sebelum mengalihkan perhatian ke jendela. Memilih menyaksikan detik-detik gulfstream mewah ini lepas landas.