Sang Maharaja yang Terlupa
Ia hanyalah calon tiran lain yang sedang menunggu giliran bertakhta.
Arga perlahan berdiri. Ia tidak membentak, tidak pula menghunus suara untuk menekan mereka. Ia hanya mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Wira dan Burhan yang berdiri di tepi balai. Kedua pemuda itu segera melangkah masuk, memikul sebuah benda yang membuat para raja terdiam dalam kebingungan. Benda itu bukanlah peti harta karun, bukan pula tumpukan senjata rahasia. Itu adalah sebuah bongkahan batu andesit hitam raksasa, seberat lima pikul, yang permukaannya keras, licin, dan dingin. Di belakang mereka, Larasati membawa sebuah baki kayu yang di atasnya tergeletak sebatang tunas pohon beringin yang layu, dengan akar-
Sikat na Kabanata