Warisan Artefak Kuno
Wajahnya memerah karena malu yang luar biasa.
Siapa sangka sosok yang pernah ia buru kini justru menjadi harapan terakhir mereka menghadapi musuh yang jauh lebih besar.
“Tu... tuan Abadi, aku... aku...” suaranya terbata-bata, tak mampu menyuarakan perasaan yang bercampur aduk antara malu, takut, dan rasa terima kasih.
Tanpa berkata lebih banyak, sang Abadi melambaikan lengan bajunya.