Memories
“Eh, tunggu, apa yang―”
“Lagi.” Katanya.
“Eh?”
“Lakukan lagi. Yang barusan kau lakukan.” Kali ini dia mengatakannya dengan serius. Tanpa nada meledek, atau apapun itu. Aku tidak bisa menolak selain mengelus kepalanya dan menahan rasa malu, rasanya jantungku seperti akan meledak, semoga dia tidak mendengarnya dari jarak sedekat ini. Wajahku pasti sangat merah sedari tadi. Ahh aku tidak tahan lagi, aku sudah mulai tidak bisa bernafas, rongga dadaku terasa sangt sempit.
Bab Populer