Satu hal yang selalu kujadikan pondasi untuk karakternya adalah kampung kecil di pinggir pelabuhan—bukan karena romantisme laut, tapi karena tempat itu penuh kontradiksi yang gampang bikin cerita hidup bergerak.
Aku tumbuh dari keluarga yang nggak miskin tapi selalu kekurangan waktu; ayah kerja shift malam di gudang, ibu jaga warung kecil yang buka sampai larut. Rumah kami sempit, jadi segala rahasia dan impian disusun rapi di balik pintu kamar: poster dari serial lama seperti 'Cowboy Bebop', buku komik bekas, dan kotak mainan yang sebagian sudah patah. Dari situ aku belajar dua hal: pertama, kehidupan nyata seringkali membutuhkan kompromi; kedua, imajinasi adalah jalan keluar yang sah. Itu yang bikin aku, si tokoh utama, punya kebiasaan menulis rencana pelarian kecil-kecilan di catatan harian—bukan untuk lari selamanya, tapi untuk memastikan aku punya arah.
Di sekolah aku bukan yang paling menonjol, tapi selalu jadi orang yang bisa memecahkan masalah praktis: memperbaiki radio bekas, memadupadankan kode di game mod, atau jadi mediator saat teman bertengkar. Keahlian itu muncul dari kebutuhan: rumah kecil, banyak tanggung jawab, sedikit waktu untuk drame-drama panjang. Ada satu kejadian yang membentuk aku lebih dalam—kebakaran kecil di gudang tempat ayah kerja yang membuatnya absen berbulan-bulan. Saat itulah aku belajar mengambil alih, menata tagihan, dan meminjam buku tentang elektronik untuk memperbaiki alat-alat di rumah. Rasa tanggung jawab itu jadi motivator sekaligus beban, dan konflik batinku sering muncul antara keinginan mengejar mimpi dan kebutuhan menjaga keluarga.
Motivasi ceritaku sederhana: aku ingin membuat perubahan yang bisa dirasakan nyata, bukan sekadar jadi nametag di pameran. Tujuan itu bisa berupa membuka toko kecil yang menggabungkan kafe dan bengkel elektronik, atau menjadi penulis yang membawa kisah kampungku ke pembaca yang lebih luas. Dalam perjalanan, aku punya sahabat setia yang selalu nge-push aku ke arah lebih berani, dan seorang rival yang memaksa aku untuk nggak puas dengan status quo. Rahasia kecil? Aku menulis surat untuk seseorang yang sudah lama pergi, dan itu memberikan dorongan emosional yang kuat ketika aku mulai mengambil keputusan besar. Semua elemen itu bikin latar belakang karakternya terasa manusiawi—bukan superhero, cuma orang biasa yang terus berusaha jadi versi lebih baik sambil tetap bimbang di dalam.