Tarif Cinta Sang Pria Perkasa
“Makanya pake celana, Lun. Ini tuh pelabuhan, bukan kafe.”
“Enak aja ngatur,” mulut Aluna menyolot tanpa melihat Aarick, tapi telinganya merah. “Salah angin, bukan salahku dong.”
“Iya, salah angin,” Aarick menahan senyum. “Awas kepeleset. Fokus jalan, jangan fokus nahan rok terus!”
Aluna melirik sinis. “Sebaiknya fokus jaga mata kamu aja, fokus nyebrangin koper aku sampe kapal."
الفصول الرائجة