Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf
Pada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri.
Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati."
Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku.
Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya.
"Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar."
"Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?"
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku denga