Pembalasan Sang Dokter Jenius
Senyum seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang lucu dan konyol.
Senyum itu. Senyum kecil di wajah bocah kurus itu, di tengah kepungan dua puluh preman dan di hadapan sebatang pipa besi, terasa jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan manapun.
Tawa si Mandor langsung mati di tenggorokannya. Senyumnya lenyap. “Kenapa kau tersenyum, bajingan?”
Joko terkekeh pelan. “Maaf,” katanya. “Aku hanya berpikir. Ternyata benar. Kalian memang lemah.”