BENALU
Kuelus dadaku, mengatur detak jantung yang ingin melompat dari tempatnya.
“Ya nggak bisa gitu dong, perjanjiannya kan seminggu, berarti Hp ini sudah milik saya,” jawab Mak Wesi.
“Halah, bilang saja kamu memang pengen Hp Angga, secara Hp Angga mahal, Mak Wesi nggak bakal bisa beli Hp kayak punya Angga itu,” sahut ibu semakin memperkeruh suasana. Ku usap wajahku dengan kasar. Mencoba menenangkan diri sendiri. Di sini yang salah ibu, tapi Ibu seperti itu, selalu benar menurut dia. Atau mungkin tahu kalau salah, tapi tak mau mengakui kesalahannya.