Poor Fatma
Aku berapi-api agar dia juga bersemangat.
“He–em. Mas Pandri. Di rumah sakit orang-orang memanggilnya Dokter Papa, karena anakku Lio memanggilnya pa–pa.” Dia tertawa kecil.
“Ooh, namanya Lio. Lucu, Mbak.”
Mendengar nama anak Mbak Ajeng, hatiku berkernyut nyeri. Aku membayangkan berada di posisi serupa wanita sempurna itu. Punya suami tampan dan mapan, punya anak yang lucu, dan menjadi pribadi yang cantik dan berkelas. Ah, mimpimu terlalu liar, Fatma!
Hot Chapters