Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Avelynnesedikit keluh malam ininada dering teleponkering sudah air matakuhanya satu pintaku
Aku duduk di kursi, menatap pantulan diriku yang berantakan.
"Potong pendek, Mbak," perintahku.
"Seberapa pendek?"
Aku menarik rambutku sampai ke bawah telinga.
"Sebatas telinga. Bob rata. Jangan ada yang tersisa nyentuh bahu."
Kapster itu ternganga. "Sayang banget, Neng! Rambutnya bagus loh, tebal, hitam. Cowok biasanya suka yang panjang gini."