Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
“Kita bisa akhiri ini baik-baik, Pak. Atau kita buka semua kartu. Pilihan ada di Anda.”
Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini, bukan Anindya yang terpojok. Melainkan Wira.
Tring.
Notifikasi masuk. Nama Armand muncul di layar ponsel Arvendra.
Arvendra membaca isinya sekilas. Hanya beberapa detik. Namun, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum puas, melainkan ekspresi seseorang yang baru memastikan arah pijakannya kokoh. Dia meletakkan ponsel kembali ke meja. Tidak menggeser cek, tidak mendekatkan tubuh. Tetap di tempatnya.