Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
Perlahan, Arvendra membalik stik itu.
Anindya menutup matanya rapat-rapat. “Jangan bilang kalau dua garis ya, Pak,” gumamnya pelan.
“Tenang,” jawab Arvendra pendek. Beberapa detik hening, sebelum akhirnya dia berkata, “Satu garis, Anin.”
Anindya membuka sebelah matanya. “Serius?”
Arvendra menatap Anindya, lalu menunjukkan hasilnya. Benar, hanya satu garis tipis di sana. Anindya akhirnya mengembuskan napas panjang, seperti baru saja terbebas dari sesuatu yang berat.