Mag-log inCinta, Dusta, dan Harga Sebuah Hasrat. Sebuah Drama tentang pengkhianatan, ketangguhan, dan penebusan di mana ambisi pribadi saling bertabrakan. Rinjani Wardhani muncul sebagai simbol ketegaran dan kreativitas, menantang ekspektasi yang menyesakkan dari keluarganya yang konservatif. Seorang perancang busana berbakat yang dimanipulasi oleh ibu dan saudari tirinya serta ayahnya yang apatis. Raynar Wiyasa Nawasena, seorang pewaris perusahaan besar di usia yang terbilang muda, berjuang dengan kekosongan emosional, yang hidupnya menjadi terkait erat dengan kehidupan Rinjani melalui pertemuan tak terduga. Namun, romansa yang bersemi di antara mereka segera terancam oleh tipu daya Citra dan Zora-ibu dan saudari tiri Rinjani demi mempertahankan kekuasaan dan status. Rinjani terusir dari rumahnya dan sedang berupaya menata kembali kehidupannya di sebuah desa yang tenang bersama mantan pengasuh dan anak kembarnya ketika salah satu bayinya diculik. Pasang surut emosi, pengkhianatan, persaingan profesional, dan dendam pribadi menjadi guratan sketsa kehidupannya. Akankah ambisi Rinjani untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya akan termakan oleh ambisi mereka yang berusaha menghancurkannya?
view moreSetiap detik dalam enam bulan terakhir terasa seperti penantian tak berujung bagi Naira. Setelah enam bulan tanpa sentuhan hangat Aditya, malam ini, semua penantian itu akan terbayar. Naira menyiapkan sebuah kejutan, pelukan hangat sambil membisikkan kata mesra.
“Selamat ulang tahun, Mas.” Mendengar derit pintu dibuka, jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah setelah perjalanan panjang, tapi karena rasa gugup yang membuncah di dadanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Naira segera menyalakan lilin yang berdiri tegak di atas kue ulang tahun. Di tangannya, kotak kue cokelat favorit Aditya, ia membayangkan senyum terkejut Aditya, pelukan erat yang akan menyambutnya, dan bagaimana semua kerinduan ini akan terobati dalam satu malam. Namun, belum sempat Naira melangkah keluar dari dapur, telinganya menangkap suara kecapan basah yang menjijikkan, disusul lenguhan manja yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Itu bukan suara yang seharusnya ia dengar di apartemennya sendiri, bukan suara yang seharusnya keluar dari bibir suaminya. “Mainnya jangan kasar seperti biasanya, kasihan anak kita.” Sebuah kalimat yang mengoyak gendang telinga Naira, merobek kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Hingga membuat perutnya bergejolak, mual yang tak tertahankan, seolah ingin memuntahkan semua harapan yang telah ia telan. “Perutku sudah makin gede.” “Tenang saja, anak kita kuat, meski tiap malam ditengok bapaknya.” Aditya membalas dengan tawa renyahnya, tawa yang dulu selalu Naira rindukan, kini terdengar asing dan keji. Naira membeku, seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Nampan di tangannya bergetar hebat, lilin di atas kue bergoyang-goyangan, nyaris padam, seperti harapan yang kini di ambang kematian. Dengan langkah gontai, Naira menyeret tubuhnya menuju ruang tengah. Dan di sanalah, di tengah cahaya temaram lampu ruang tamu, dunia Naira runtuh. Aditya berdiri memeluk seorang perempuan dari belakang. Tangan laki-laki itu, tangan yang dulu selalu membelainya dengan lembut, kini membelai perut yang membuncit. Suara-suara manja dan tawa renyah mereka mengoyak hati Naira. Yang lebih mengejutkan dan menyakitkan, saat perempuan itu menoleh, wajah Kirana, sepupunya sendiri, tersenyum penuh kemenangan, seolah menertawakan kebodohan Naira. Kirana menyandarkan kepalanya di dada Aditya, manja, seolah itu adalah tempatnya yang sah. Tangannya menggenggam tangan laki-laki itu yang masih mengusap perutnya. “Mau hadiah ulang tahun apa?” “Aku sudah pengen, Ki,” bisik Aditya dengan suara serak, mengecup bahu Kirana. Di sana, di tempat yang dulu sering Aditya kecup juga. Naira menggigit bibirnya hingga terasa anyir, berusaha menahan isak yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tawa Aditya dan Kirana bersatu, menggema di antara dinding apartemen yang dulu dibangun dengan cinta. Tapi kini, ruangan itu menjadi tempat yang mengubur semua impian dan masa depan Naira. Naira tak sanggup lagi. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu demi satu, jatuh ke atas kue cokelat yang kini hancur bersama hatinya. Ia tidak bisa berteriak, tidak bisa marah. Lidahnya kelu, tenggorokannya panas, seolah semua kemarahannya lenyap, digantikan kehampaan yang mematikan. Dan saat Aditya dengan santainya menggendong Kirana, membawanya ke kamar tanpa menutup pintu, Naira merasa tubuhnya mati seketika. Ia menyaksikan suami dan sepupunya bergumul panas penuh gairah. Kedua tumit Kirana bergantung di bahu Aditya. Jeritan-jeritan manja mengiringi tubuh Aditya yang terus bergerak mengisi tubuhnya. Naira tidak tahan, kamar yang dulu tempat ia dan Aditya berbagi tawa, berbagi mimpi, kini jadi tempat perselingkuhan yang terang-terangan. Tanpa rasa berdosa, tanpa rasa bersalah. Dengan tangan gemetar, Naira menaruh kue di meja. Ia mengambil kopernya, menyeret pelan sambil menyeka wajahnya yang basah. Tak ada teriakan, hanya kehancuran yang membungkam segalanya. Beberapa jam lalu, ia datang ke kota ini dengan harapan. Kini, ia ingin pergi secepatnya, sebelum seluruh dirinya runtuh di tempat yang sama. Lorong apartemen itu sepi. Lampu-lampunya redup. Hanya suara roda koper yang berdecit kecil di antara langkah cepat Naira yang nyaris berlari. Dadanya sesak, napasnya tercekat, luka seperti mengepungnya dari segala arah. Mata Naira masih basah. Langkahnya terhuyung, hampir jatuh. Luka di hatinya terlalu dalam, membuatnya ingin pergi, segera dan tak ingin melihat ke belakang. Namun, saat Naira berbelok ke ujung lorong menuju lift, tubuhnya justru membentur seseorang. Tubuh laki-laki tinggi, beraroma alkohol dan parfum maskulin yang menyengat. Naira tersentak, terhuyung mundur. “Maaf...” lirih Naira, suaranya nyaris tak terdengar, tak sempat menatap siapa yang ia tabrak. Pikirannya masih dipenuhi kehancuran. Tapi langkahnya terhenti saat suara berat itu membalas, bukan dengan kata, tapi dengan geraman rendah penuh emosi, seperti binatang buas yang terluka. “Maaf?” Suara pria itu parau dan serak. Pria itu terkekeh pendek, bukan tawa kegembiraan, melainkan sebuah keputusasaan yang sangat, yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Naira menoleh pelan. Pria itu berdiri sambil mencengkeram dinding, tubuhnya bergetar ringan seolah ada energi berlebih yang tak terkendali di dalam dirinya. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara pupil matanya membesar tidak wajar menutupi hampir seluruh iris. Wajah tampan itu terlihat kacau, rahang mengeras, urat lehernya menonjol, dan matanya merah, seperti sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri. Alex, lelaki asing dengan jas mahal dan rambut acak-acakan. Dadanya naik turun tak karuan, napasnya terdengar berat dan terengah-engah, diselingi desahan tertahan yang aneh. Alex terlihat seperti binatang buas yang terpojok dan kehilangan akal. Aura gelap dan mengancam memancar darinya, membuat Naira yang sudah rapuh semakin ketakutan. Naira melangkah mundur, berusaha menjauh. Tapi sebelum sempat menjauh, tangan laki-laki itu menarik pergelangan tangannya mengejutkan. Cengkeramannya terasa dingin dan kuat, seolah belenggu yang tak bisa dilepaskan. “Kenapa... semua perempuan seperti ini?” desis Alex, suaranya kini lebih dalam, hampir seperti gumaman, penuh kepahitan. “Datang menggoda, lalu pergi minta maaf tanpa rasa bersalah.” Naira menegang. Ketakutan merayapi setiap inci kulitnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa pria ini begitu marah padanya. Ia hanya ingin pergi. “Maaf, saya tidak tahu, saya harus segera pergi.” Naira mencoba menarik tangannya, tapi Alex mencengkeramnya makin erat. Rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya, namun rasa takut jauh lebih besar. “Lepas!” teriak Naira panik, suaranya bergetar. Refleks, tangan Naira yang bebas melayang, menampar wajah Alex. Plak! Hening. Hanya suara napas Naira yang terengah-engah dan detak jantungnya yang bergemuruh di telinganya. Alex menoleh perlahan, kepala miring. Napasnya mengembus keras, seperti hembusan panas dari binatang yang terluka dan kehilangan akal, matanya yang merah menatap Naira dengan tatapan kosong namun penuh amarah. “Jangan bikin aku tambah gila malam ini…” suaranya terdengar semakin berat, mengancam. Sebelum Naira bisa lari, tubuhnya terangkat begitu saja. Ia meronta, memukul-mukul punggung Alex, menendang-nendang kakinya, namun tenaga Alex terlalu besar. “Lepas! Lepaskan aku!” teriak Naira, suaranya serak karena ketakutan dan keputusasaan. Air mata kembali mengalir deras, membasahi pipinya. Alex tidak menghiraukan teriakan Naira, terus melangkah menuju kamarnya. Pintu apartemen terbuka, gelap, seperti mulut gua yang siap menelan. Tak lama kemudian suara pintu tertutup mengunci tak hanya dirinya, tapi juga segala harapan dan masa depan Naira. Di kamar mewah yang temaram itu, di tengah keheningan yang memekakkan, tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli dengan teriakan dan isak tangis Naira yang tertelan. Alex menyentuh Naira dengan paksa, melakukan penyatuan dan menghentakkan tubuhnya dengan beringas. Bukan hanya menghancurkan raganya, tapi juga mengoyak-ngoyak jiwanya, mencabik-cabik sisa-sisa harga dirinya. Malam ini, bukan hanya penuh kejutan yang menghancurkan, tapi juga penuh luka yang tak akan pernah terhapus dari ingatan seorang wanita bernama Naira. Pada saat suaminya sedang berbagi peluh penuh gairah dengan sepupunya, Naira harus kehilangan kehormatannya di bawah keberingasan pria asing yang menggagahinya dengan brutalLantai 32 Menara Wiyasa Nawasena Group nampak lengang. Raynar berdiri menghadap jendela kaca yang memperlihatkan panorama ibukota Muliakarta di siang hari. Gedung-gedung pencakar langit berkilauan di bawah terik matahari. Ia baru saja menyelesaikan panggilan konferensi dengan para calon investor baru dari luar negeri ketika pintu ruangannya diketuk."Masuk," perintahnya tanpa menoleh.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekatinya. "Maaf mengganggu, Pak." Asisten pribadinya berdiri dengan raut wajah tegang. "Ada telepon penting dari rumah."Raynar berbalik, alisnya terangkat."Kepala rumah tangga baru saja mengabarkan." Asistennya menelan ludah. "Tuan muda tidak ada di rumah. Mereka sudah mencari ke seluruh penjuru rumah sejak satu jam yang lalu."Raynar membeku. "Apa? Zethra?""Terakhir kali tuan muda ada di kamarnya sepulang sekolah. Saat makan siang diantar ke kamarnya, ia tidak ada."Raynar merasakan aliran dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Ia meraih ponselnya dari at
Hari senin siang itu membawa kehangatan lembab khas musim penghujan di Muliakarta. Rinjani Wardhani baru saja tiba di Sweet Spot Coffee yang menawarkan kesejukan dari teriknya matahari. Ia mengenakan rok pensil warna arang yang dipadukan dengan blus sutra berwarna krem–sederhana namun tetap elegan.Rambut hitamnya disanggul rendah ke belakang, memperlihatkan sepasang anting-anting mutiara kecil yang menangkap cahaya saat ia bergerak. Ia memilih meja sudut dengan tempat duduk yang nyaman untuk enam orang, menata buku sketsa dan tabletnya sebelum memesan segelas iced café latte.Sejenak ia tersenyum mengenang “perbaikan” yang dilakukan Aruna sambil menata kertas-kertas itu dengan rapi di atas meja. Untung saja semua desain cadangan dalam buku sketsa itu bisa dipulihkan secara sempurna.Gusti dan Rhea menerobos pintu masuk berikutnya. Rhea langsung menuju meja dimana Rinjani duduk, sementara Gusti berbelok ke meja pemesanan.“Kau baru saja datang, Rin? Mana Lila? Kupikir dia sudah di sin
Di luar, tetes-tetes pertama hujan mulai turun, mengetuk jendela seakan menghitung mundur pelaksanaan rencana besar di pikiran Raynar. Setiap langkahnya harus dilakukan dengan tepat. Setelah selesai, ia menutup laptopnya lalu beranjak menuju meja kecil dengan membawa gelas kosongnya. Ia telah mendapatkan pelajaran penting dari kasus ini--pola pikir dan sikap seorang pemimpin besar.Raynar menuang whiskey setinggi dua jari dan menenggaknya habis dalam sekali minum, seakan hendak merayakan kepercayaan dirinya dalam membuktikan bahwa ia layak menyandang nama besar Wiyasa Nawasena. Liquid amber membakar tenggorokannya, meninggalkan sensasi jejak hangat yang menyebar hingga ke dada.Malam harinya, rembulan tinggi menggantung di atas Taman Kota Muliakarta. Angin mendesau di antara pepohonan, membawa suara keramaian lalu lintas Minggu malam di kejauhan. Aroma tanah basah dari hujan sore bercampur dengan wangi bunga melati yang mekar di sepanjang pagar taman. Tempat yang ramai dikunjungi kelu
Dua hari kemudian, Sweet Spot Café kembali menjadi tempat pertemuan Lila dan Raynar sore itu. Suara percakapan para pengunjung lain dan desis mesin espresso yang sesekali terdengar menciptakan latar belakang yang nyaman untuk pertemuan mereka.Raynar tiba tepat pukul enam. Ia mengenakan jaket hitam panjang yang menyembunyikan kemeja biru tua dibaliknya. Beberapa pengunjung melirik, mengenali CEO muda Wiyasa Nawasena Group, sebelum dengan sopan kembali ke percakapan mereka.Raynar melihat Lila di meja pojok. Rambut hitamnya dikuncir ke belakang, sedang membuat sketsa di atas tablet dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam iced matcha latte yang baru saja ia seruput.“Multitasking yang sulit berubah,” kata Raynar sambil mendekat, senyum kecil tersungging di bibirnya.Lila mendongak. Dengan gerak cepat ia meletakkan pena tabletnya. Rona merah merona di pipinya, kontras dengan penampilannya yang tenang.“Kebiasaan lama.” Lila tersenyum kikuk sambil menunjuk kursi di seberan
Malam di ibukota menyebarkan hawa sejuk seiring lalu lintas yang berangsur-angsur lengang. Lampu jalan menyinari trotoar dengan cahaya temaram kekuningan ketika Rinjani dan Lila melangkah meninggalkan Sweet Spot Café, melintasi minimarket di sudut jalan."Hei, kau ada waktu?" tanya Rinjani tiba-tib
Cahaya pagi yang menembus panel kaca di studio desain lantai dua belas kantor pusat WN Group seakan membelah ruang itu dengan siluet-siluet. Ruangan itu nampak rapi, namun sejuknya pendingin ruangan tak bisa meredakan ketegangan mereka yang ada di dalamnya.Vivian duduk seperti ratu di atas singgas
Dari teras griya tawangnya, Miriam Wiyasa Nawasena menggenggam cangkir porselen di antara jari-jarinya sementara kehangatan teh earl grey meresap ke tenggorokannya. Udara pagi terasa segar, dan Paris selalu menjadi kota impian Miriam–elegan dalam ekspresi dan sarat ketenangan, mirip dirinya. Miriam
Selama berhari-hari, Lila telah melatih momen ini dalam pikirannya-membayangkan setiap hasil yang mungkin terjadi, setiap variasi responsnya. Namun kini, berdiri di hadapannya, dengan beban bertahun-tahun yang menekan dadanya, semua kata-kata yang telah ia latih seakan masih tertahan di tenggorok
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.