LOGINCinta, Dusta, dan Harga Sebuah Hasrat. Sebuah Drama tentang pengkhianatan, ketangguhan, dan penebusan di mana ambisi pribadi saling bertabrakan. Rinjani Wardhani muncul sebagai simbol ketegaran dan kreativitas, menantang ekspektasi yang menyesakkan dari keluarganya yang konservatif. Seorang perancang busana berbakat yang dimanipulasi oleh ibu dan saudari tirinya serta ayahnya yang apatis. Raynar Wiyasa Nawasena, seorang pewaris perusahaan besar di usia yang terbilang muda, berjuang dengan kekosongan emosional, yang hidupnya menjadi terkait erat dengan kehidupan Rinjani melalui pertemuan tak terduga. Namun, romansa yang bersemi di antara mereka segera terancam oleh tipu daya Citra dan Zora-ibu dan saudari tiri Rinjani demi mempertahankan kekuasaan dan status. Rinjani terusir dari rumahnya dan sedang berupaya menata kembali kehidupannya di sebuah desa yang tenang bersama mantan pengasuh dan anak kembarnya ketika salah satu bayinya diculik. Pasang surut emosi, pengkhianatan, persaingan profesional, dan dendam pribadi menjadi guratan sketsa kehidupannya. Akankah ambisi Rinjani untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya akan termakan oleh ambisi mereka yang berusaha menghancurkannya?
View MoreVIDEO PERNIKAHAN SUAMIKU
🌸🌸🌸
[Miris pisan euy, cantik jelita, saliha, tapi masih saja diduakan. Jauh-jauh ya Allah dari suami model begini.]Awalnya aku tidak begitu antusias dengan status W* yang ditulis Mbak Sulis, tapi melihat ke status dia berikutnya membuat jantungku hampir copot.
Aku ternganga melihat vidio itu. Ini vidio pernikahan Mas Arman dengan wanita bernama Echa. Kuputar ulang takut salah lihat ternyata benar itu Mas Arman suamiku.
Jadi ini maksud dari status Mbak Sulis. Ya Allah salah apa aku? Bahkan aku sekarang masih dirawat intensif di rumah sakit akibat keguguran bayiku yang ke tiga kalinya.
Aku di sini berjuang mati-matian demi si buah hati, tapi suamiku di rumah menikah lagi.
Dadaku rasanya sesak sekali. Berkali-kali aku mencerna ini, tapi tidak bisa aku terima.“Selamat siang, Bu Fatki. Eh, kok nangis. Jangan terus bersedih, Bu. Insya Allah besok akan diberi amanah lagi. Semangat, ya?” ucap suster jaga yang masuk ke ruanganku.
Biasanya aku tidak akan menangis di depan orang apalagi jika tidak kenal. Rasanya malu, tapi sekarang aku tidak bisa lagi membendung maluku, jika bisa rasanya aku ingin terus menangis seharian.
“Terima kasih Sus,” jawabku terisak.
“Apa masih ada keluhan lain?”
“Masih Sus, perutku masih seperti kebas.”
“Oh, tidak apa-apa itu efek obat bius karena kuret semalam. Nanti minum obat insya Allah sembuh. Kalau terjadi pendarahan tidak normal segera panggil kami ya, Bu.” Aku mengangguk saja. Aku kembali sendirian di ruangan yang hanya berisi dua rajang ini.
Pasien di sebelahku pulang tadi pagi. Bukan pulang ke rumah karena sembuh melainkan pulang keharibanNYA.
Suamiku izin pulang tadi pagi katanya mau mandi dan mengambil baju salin untukku.
Aku kembali sedih harus menghadapi kenyataan pahit hidupku.Suami yang aku kira setia dan begitu menyayangiku ternyata sudah berbagi cinta dengan perempuan lain.Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan selama ini. Dia begitu baik, manis, dan romantis sehingga aku tidak pernah curiga sama sekali padanya.
Kami menikah sudah dua tahun. Selama dua tahun inilah aku sudah keguguran untuk yang ke tiga kalinya. Kata dokter kandunganku lemah jadi kalau aku hamil muda harus benar-benar istirahat total.
Jangankan istirahat total sekedar untuk rebahan saja aku mencuri-curi waktu.
Suamiku yang hanya bekerja serabutan membuatku banting setir harus membantu perekonomian kami. Aku yang pandai menjahit memutuskan untuk membuka usaha jahit kecil-kecilan di rumah. Alhamdulillah banyak yang datang menjahit baju padaku.Hasilnya banyak, bisa untuk mencukupi dua dapur, milikku dan juga ibu mertuaku. Meskipun kami tinggal satu rumah, tapi dapur kami dua. Mertuaku maunya makan ini dan itu aku tidak bisa menuruti kemauannya tidak ada waktu karena harus menjahit.
Uang dari hasil menjahit sisanya aku tabung. Uang dari suamiku hanya cukup untuk membayar ini dan itu. Aku bukan tidak bersyukur, tapi memang begitu kenyataannya. Kalau aku tidak membantu mencari rezeki mungkin kami akan makan nasi lauk garam setiap hari.
Ibunya yang maunya serba bagus dan mahal tidak mengukur kemampuan suaminya maka suamikulah yang menjadi andalannya.
Sudah dua puluh menit yang lalu minum aku obat. Biasanya kalau sudah minum obat aku akan langsung ngantuk dan tidur. Ini entah obatnya yang belum bereaksi atau akunya yang terlalu banyak beban pikiran hingga tidak bisa tidur.
Kubuka lagi ponselku. Kulihat status Mbak Sulis berkali-kali. Di sana terlihat jelas Mas Arman sangat bahagia. Ini semakin membuat hatiku tercabik-cabik sakit sekali.
Mbak Sulis adalah ART tetanggaku yang sering menjahit baju padaku jadi kami saling save nomor untuk memudahkan komunikasi.
Selain orangnya baik, dia juga lugu dan alay. Seumuran denganku bedanya beliau sudah punya dua anak lucu-lucu. Apa saja yang dia tahu akan dia bicarakan dan dibuat status. Berkat kealayan Mbak Sulis aku jadi tahu busuknya suamiku.
Berbeda dengan status Mbak Sulis. Status W* suamiku sedang berada di kamar mandi dengan cucian piring kotor yang menggunung.
[Saatnya bantu beres-beres, biar berkah.]
Cih, menyebalkan sekali! Busuk. Pendusta! Andai aku tidak tahu pernikahannya hari ini pasti aku sudah menyanjungnya setinggi langit.
Entah sejak kapan aku tertidur. Aku bangun karena ada pasien baru masuk. Seorang wanita paruh baya.
Alhamdulillah setidaknya malam ini aku tidak sendiri.“Keluarga belum datang lagi, Bu?” tanya Suster tadi pagi yang memeriksaku.
“Belum, Sus. Lagi banyak kerjaan. Mungkin ....” jawabku sedih. Kugigit bibirku agar tidak menangis.
“Oh, iya. Besok semoga Ibu sudah boleh pulang ini infus terakhir jadi nanti kalau sudah habis panggil kami ya, Bu?”
“Iya, Suster. Terima kasih.”
Karena penasaran aku segera melihat ponselku lagi. Status W* Mbak Sulis sudah tidak ada lagi.
Grup keluarga sepi biasanya selalu ramai. Ah, pasti mereka sedang sibuk pesta. Anehnya keluarga suamiku sama sekali tidak ada yang update status pernikahan Mas Arman.Mereka kompak sekali menutupi kebusukan ini. Aku rasa ini bukan pernikahan siri. Kalau pernikahan siri pasti tidak akan seramai ini sampai Mbak Sulis pun tahu dan juga hadir.
Kuteleponi suamiku tepat panggilan ke 8 baru dijawabnya.
“Asslamu’laiakum sayang ....” sapa Mas Arman. Mual sekali aku mendengar sapaan busuknya.
“W*’laikumsalam ... Mas, kapan ke sini. Ini dokter mau bicara penting,” sahutku berbohong.
“Belun tahu, Dik. Mas lagi banyak kerjaan ini bantu-bantu Ibu.” Rasanya aku ingin sekali memaki sekarang juga. Kalau tidak ingat di sebelahku pun ada pasien.
“Jadi, kapan bisa ke sini? Aku sendirian loh,” kataku bergetar ingin menangis.
“Sabar ya, nanti begitu selesai Mas akan langsung ke sana.” Ck, sabar? Selesai apaan? Selesai malam pertama maksudnya?
“Selesai apaan, Mas? Kok tadi piring-piring kotor yang Mas foto seperti piring-piring keteringan orang hajatan?”
“Oh, itu anu—bukan ah, mungkin sama piringnya, Dik. Mas Malah enggak merhatiin.”
“Kok, jadi gugup gitu, ada apa, Mas?”
“Enggak ada apa-apa. Ya, sudah, kamu istirahat biar cepat sembuh. Mas mau kerjain ini dulu.” Tanpa kujawab lagi. Langsung kumatikan sambungan telepon. Menambah rasa sakit hati saja.
Malam tiba mereka pun tidak ada yang datang menjengukku. Mas Arman, ah tentu saja dia sedang memadu kasih dengan maduku.
Sakit itu kembali menjalar ke seluruh tubuhku. Sesak dan bikin sakit kepala.
[Cintaku sudah mati.] Kutulis status W*. Tidak menunggu lama banyak pesan masuk salah satunya dari suamiku. Kuhiraukan dan memilih merenung.
~K~U🌸🌸🌸
“Selamat pagi, Bu Fatki. Alhamdulillah hari ini sudah boleh pulang,” sapa dokter cantik yang menanganiku. Diperiksanya seluruh badanku. Beliau celingukan. Pasti mencari keberadaan keluargaku.
“Pagi Dokter. Alhamdulillah ... terima kasih.”
“Iya, ingat jaga kesehatan, ya? Bulan ke empat boleh hamil lagi. Sementara ini istirahat dulu sampai rahimnya benar-benar pulih. Tetap semangat insya Allah nanti dikasih rezeki lagi siapa tahu hamil berikutnya langsung lembar.” Jika sebelumnya aku sangat bahagia dan antusias dengan semua nasihat-nasihat dokter tidak untuk hari ini.
Rasanya aku sudah tidak mau lagi banyak berharap. Apalagi sekarang suamiku sudah punya istri baru kemungkinan jika dia hamil aku akan tersingkir.
“Aamiin ... terima kasih doanya, Dok."
“Iya, saya tinggal dulu. Sekali lagi tetap semangat ya, jangan berkecil hati. Selagi masih ada rahim di perut kita maka akan ada banyak keajaiban dan kemungkinan. Hamil hak mutlak Allah SWT jadi kita hanya bisa usaha dan berdoa,” ucap Dokter Finda. Lalu beliau pamit pergi untuk visit pasien yang lain lagi.
“Bu, ini obatnya nanti diambil di apotek, ya? Nanti di sana akan dijelaskan dosis minumnya.”
“Baik Sus terima kasih.”
Setelah selesai sarapan aku putuskan untuk pulang sendiri tanpa menunggu Mas Arman lagi.
Dia mana mungkin ingat aku. Pasti masih menikmati masa-masa pengantin barunya.Lantai 32 Menara Wiyasa Nawasena Group nampak lengang. Raynar berdiri menghadap jendela kaca yang memperlihatkan panorama ibukota Muliakarta di siang hari. Gedung-gedung pencakar langit berkilauan di bawah terik matahari. Ia baru saja menyelesaikan panggilan konferensi dengan para calon investor baru dari luar negeri ketika pintu ruangannya diketuk."Masuk," perintahnya tanpa menoleh.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekatinya. "Maaf mengganggu, Pak." Asisten pribadinya berdiri dengan raut wajah tegang. "Ada telepon penting dari rumah."Raynar berbalik, alisnya terangkat."Kepala rumah tangga baru saja mengabarkan." Asistennya menelan ludah. "Tuan muda tidak ada di rumah. Mereka sudah mencari ke seluruh penjuru rumah sejak satu jam yang lalu."Raynar membeku. "Apa? Zethra?""Terakhir kali tuan muda ada di kamarnya sepulang sekolah. Saat makan siang diantar ke kamarnya, ia tidak ada."Raynar merasakan aliran dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Ia meraih ponselnya dari at
Hari senin siang itu membawa kehangatan lembab khas musim penghujan di Muliakarta. Rinjani Wardhani baru saja tiba di Sweet Spot Coffee yang menawarkan kesejukan dari teriknya matahari. Ia mengenakan rok pensil warna arang yang dipadukan dengan blus sutra berwarna krem–sederhana namun tetap elegan.Rambut hitamnya disanggul rendah ke belakang, memperlihatkan sepasang anting-anting mutiara kecil yang menangkap cahaya saat ia bergerak. Ia memilih meja sudut dengan tempat duduk yang nyaman untuk enam orang, menata buku sketsa dan tabletnya sebelum memesan segelas iced café latte.Sejenak ia tersenyum mengenang “perbaikan” yang dilakukan Aruna sambil menata kertas-kertas itu dengan rapi di atas meja. Untung saja semua desain cadangan dalam buku sketsa itu bisa dipulihkan secara sempurna.Gusti dan Rhea menerobos pintu masuk berikutnya. Rhea langsung menuju meja dimana Rinjani duduk, sementara Gusti berbelok ke meja pemesanan.“Kau baru saja datang, Rin? Mana Lila? Kupikir dia sudah di sin
Di luar, tetes-tetes pertama hujan mulai turun, mengetuk jendela seakan menghitung mundur pelaksanaan rencana besar di pikiran Raynar. Setiap langkahnya harus dilakukan dengan tepat. Setelah selesai, ia menutup laptopnya lalu beranjak menuju meja kecil dengan membawa gelas kosongnya. Ia telah mendapatkan pelajaran penting dari kasus ini--pola pikir dan sikap seorang pemimpin besar.Raynar menuang whiskey setinggi dua jari dan menenggaknya habis dalam sekali minum, seakan hendak merayakan kepercayaan dirinya dalam membuktikan bahwa ia layak menyandang nama besar Wiyasa Nawasena. Liquid amber membakar tenggorokannya, meninggalkan sensasi jejak hangat yang menyebar hingga ke dada.Malam harinya, rembulan tinggi menggantung di atas Taman Kota Muliakarta. Angin mendesau di antara pepohonan, membawa suara keramaian lalu lintas Minggu malam di kejauhan. Aroma tanah basah dari hujan sore bercampur dengan wangi bunga melati yang mekar di sepanjang pagar taman. Tempat yang ramai dikunjungi kelu
Dua hari kemudian, Sweet Spot Café kembali menjadi tempat pertemuan Lila dan Raynar sore itu. Suara percakapan para pengunjung lain dan desis mesin espresso yang sesekali terdengar menciptakan latar belakang yang nyaman untuk pertemuan mereka.Raynar tiba tepat pukul enam. Ia mengenakan jaket hitam panjang yang menyembunyikan kemeja biru tua dibaliknya. Beberapa pengunjung melirik, mengenali CEO muda Wiyasa Nawasena Group, sebelum dengan sopan kembali ke percakapan mereka.Raynar melihat Lila di meja pojok. Rambut hitamnya dikuncir ke belakang, sedang membuat sketsa di atas tablet dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam iced matcha latte yang baru saja ia seruput.“Multitasking yang sulit berubah,” kata Raynar sambil mendekat, senyum kecil tersungging di bibirnya.Lila mendongak. Dengan gerak cepat ia meletakkan pena tabletnya. Rona merah merona di pipinya, kontras dengan penampilannya yang tenang.“Kebiasaan lama.” Lila tersenyum kikuk sambil menunjuk kursi di seberan
Malam di ibukota menyebarkan hawa sejuk seiring lalu lintas yang berangsur-angsur lengang. Lampu jalan menyinari trotoar dengan cahaya temaram kekuningan ketika Rinjani dan Lila melangkah meninggalkan Sweet Spot Café, melintasi minimarket di sudut jalan."Hei, kau ada waktu?" tanya Rinjani tiba-tib
Cahaya pagi yang menembus panel kaca di studio desain lantai dua belas kantor pusat WN Group seakan membelah ruang itu dengan siluet-siluet. Ruangan itu nampak rapi, namun sejuknya pendingin ruangan tak bisa meredakan ketegangan mereka yang ada di dalamnya.Vivian duduk seperti ratu di atas singgas
Dari teras griya tawangnya, Miriam Wiyasa Nawasena menggenggam cangkir porselen di antara jari-jarinya sementara kehangatan teh earl grey meresap ke tenggorokannya. Udara pagi terasa segar, dan Paris selalu menjadi kota impian Miriam–elegan dalam ekspresi dan sarat ketenangan, mirip dirinya. Miriam
Selama berhari-hari, Lila telah melatih momen ini dalam pikirannya-membayangkan setiap hasil yang mungkin terjadi, setiap variasi responsnya. Namun kini, berdiri di hadapannya, dengan beban bertahun-tahun yang menekan dadanya, semua kata-kata yang telah ia latih seakan masih tertahan di tenggorok
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.