LOGINCinta, Dusta, dan Harga Sebuah Hasrat. Sebuah Drama tentang pengkhianatan, ketangguhan, dan penebusan di mana ambisi pribadi saling bertabrakan. Rinjani Wardhani muncul sebagai simbol ketegaran dan kreativitas, menantang ekspektasi yang menyesakkan dari keluarganya yang konservatif. Seorang perancang busana berbakat yang dimanipulasi oleh ibu dan saudari tirinya serta ayahnya yang apatis. Raynar Wiyasa Nawasena, seorang pewaris perusahaan besar di usia yang terbilang muda, berjuang dengan kekosongan emosional, yang hidupnya menjadi terkait erat dengan kehidupan Rinjani melalui pertemuan tak terduga. Namun, romansa yang bersemi di antara mereka segera terancam oleh tipu daya Citra dan Zora-ibu dan saudari tiri Rinjani demi mempertahankan kekuasaan dan status. Rinjani terusir dari rumahnya dan sedang berupaya menata kembali kehidupannya di sebuah desa yang tenang bersama mantan pengasuh dan anak kembarnya ketika salah satu bayinya diculik. Pasang surut emosi, pengkhianatan, persaingan profesional, dan dendam pribadi menjadi guratan sketsa kehidupannya. Akankah ambisi Rinjani untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya akan termakan oleh ambisi mereka yang berusaha menghancurkannya?
View MoreRaina
“Ah!” My head slammed against the edge of the bedframe, and for a second, I couldn’t think—couldn’t breathe. The room spun. My ears rang. My skin burned from where Kael’s hand had struck me. Before I could recover, his hand closed around my throat. He was on top of me, already pressing me down into the mattress with his weight. I grabbed at his wrist, struggling, but he was stronger—he was always stronger. I gasped, choked, tried to pull in air, but nothing came. My nails scratched at his arm, desperate to make him stop. Then I felt it—fabric tearing. My wrapper was ripped away in one pull. My chest heaved with panic as I tried to scream, but he was already forcing himself into me. No. No— I wasn’t ready. My body wasn’t prepared. It felt like fire—sharp and unbearable. I cried out, the pain blinding. I used everything I had to push him off me, but he didn’t budge. Instead, he pulled back. And slapped me again. Hard. I flew off the bed, hit the cold floor, and scrambled for the duvet to cover myself. I could barely see through my tears, but I could hear him, loud and disgusted. “Why can’t you just pretend to be her?” Kael growled. “Just once.” “Why do you always smell like you? Talk like you? Think like you?” He spat the words like poison. “Can’t you at least act?” He stood there, glaring, like I was a problem he didn’t know how to solve. “You owe it to me to be a good wife,” he said, like I was the one failing. “But even that—you can’t get right.” Right in the stomach, he kicked me. I felt something inside me tear. Blood spilled from my mouth. My hands shot to my belly on instinct, even though there was nothing to protect but shattered bones and broken pride. I curled into a ball on the floor, but he wasn’t done. He came down beside me, pinned both my wrists above my head, and forced himself in again. I didn’t scream this time. I couldn’t. I just cried. Quietly. He moved rougher, harder—like my pain gave him permission. The more I wept, the more he seemed to enjoy it. I wasn’t even a person in that moment. I was a thing. A body. I stared at the ceiling, waiting for it to be over. And when it finally was, he stood up, wiped himself off like nothing happened, and walked to the bathroom. The water ran. He showered. Cleaned the blood and sweat off his body like I was something to be scrubbed off. Then he came out, dressed himself, and walked out the door without a word. I lay there on the floor, for I don’t even know how long. Time didn’t move. It was just pain and silence. But I was used to this. This kind of pain had always followed me. Long before Kael. I was born into it. People said I was cursed. My mother, Leisha, had been the kingdom’s most gifted healer. Kind. Brave. The kind of woman who went where others ran from. That’s how she ended up in the wrong place. She had followed the warriors into battle, volunteering to treat their wounds on the field. That’s where she was captured—taken by the enemy. She spent seventy-five days in captivity. The warriors risked their lives to save her. Some died. But she survived. Except… she didn’t come back the same. Weeks later, she found out she was pregnant. Me. She never said who did it. Never got the chance. She died during labor. And Darius—her mate—hated me for it. From the moment I was born. He wasn’t even my real father. But that didn’t stop him from reminding me every single day that I was a mistake. That I took everything good from him the moment I took my first breath. I grew up knowing rejection, learning to live in silence, bracing myself for blame. So no—what Kael did tonight wasn’t new. It was just the same story… in a different house. I slowly sat up, wrapping the duvet around myself. Then I saw the blood. On the floor. On the sheets. Running down my legs. My fingers touched my scalp and came back red—I was bleeding from my head. I knew I needed help. I grabbed my phone and called Tara. My only friend. She answered immediately. And when she arrived and saw me, she froze. “Fuck,” she whispered, eyes wide. “He did this to you? On your fucking birthday, Raina? Why?” I didn’t say anything. Maybe because today was one year since Kael and I were fated. Exactly one year since the Moon Goddess decided that I, of all people, was supposed to be his mate. Selene—my sister—was supposed to be the one. That’s what everyone thought. That’s who he wanted. That’s who the whole pack expected. It was like fate played a cruel joke. One that ruined everything. The council called it a mistake. Some said I must’ve bewitched him. That I’d stolen her place. Me. The unwanted daughter. The bastard born from assault. The girl whose own father never claimed her. The pack’s charity case. I didn’t have wealth. Or power. Or even love. Now I was fated to my sister's lover. A man who reminded me every day that he wished it was Selene instead of me. Tara helped clean me up, her hands gentle but shaking. “I have a party tomorrow night,” she said suddenly. “Come with me. Just for a few hours. You need to get out of here. Please.” “I can’t,” I whispered. “If he finds out I left—” She cut me off. “He can’t do worse than what he already has.” I looked down at the bruises on my thighs. The dried blood on my legs. “Raina…” Tara knelt beside me. “I can get a few rogue divorcees to beat the shit out of him. I mean it. I know people.” That made me laugh. Just a little. And it hurt. She smiled, finally. “Whiskey and gas money is all they need.” I shook my head, wiping my face. “He’s my husband, Tara. He’ll get better. He’s just angry. He has a lot going on right now, with the pack and everything. He loves me... just in his own way.” Tara looked at me like I’d lost my mind. “No man who loves you does this, Raina.” I swallowed hard. I wanted to believe she was wrong. But somewhere deep inside, something in me was starting to crack. Because this wasn’t love. It never was. And as I lay in that bed that night, my body aching, my heart a thousand pieces… I realized something. I didn’t know what freedom felt like. But maybe it was time I found out.Lantai 32 Menara Wiyasa Nawasena Group nampak lengang. Raynar berdiri menghadap jendela kaca yang memperlihatkan panorama ibukota Muliakarta di siang hari. Gedung-gedung pencakar langit berkilauan di bawah terik matahari. Ia baru saja menyelesaikan panggilan konferensi dengan para calon investor baru dari luar negeri ketika pintu ruangannya diketuk."Masuk," perintahnya tanpa menoleh.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekatinya. "Maaf mengganggu, Pak." Asisten pribadinya berdiri dengan raut wajah tegang. "Ada telepon penting dari rumah."Raynar berbalik, alisnya terangkat."Kepala rumah tangga baru saja mengabarkan." Asistennya menelan ludah. "Tuan muda tidak ada di rumah. Mereka sudah mencari ke seluruh penjuru rumah sejak satu jam yang lalu."Raynar membeku. "Apa? Zethra?""Terakhir kali tuan muda ada di kamarnya sepulang sekolah. Saat makan siang diantar ke kamarnya, ia tidak ada."Raynar merasakan aliran dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Ia meraih ponselnya dari at
Hari senin siang itu membawa kehangatan lembab khas musim penghujan di Muliakarta. Rinjani Wardhani baru saja tiba di Sweet Spot Coffee yang menawarkan kesejukan dari teriknya matahari. Ia mengenakan rok pensil warna arang yang dipadukan dengan blus sutra berwarna krem–sederhana namun tetap elegan.Rambut hitamnya disanggul rendah ke belakang, memperlihatkan sepasang anting-anting mutiara kecil yang menangkap cahaya saat ia bergerak. Ia memilih meja sudut dengan tempat duduk yang nyaman untuk enam orang, menata buku sketsa dan tabletnya sebelum memesan segelas iced café latte.Sejenak ia tersenyum mengenang “perbaikan” yang dilakukan Aruna sambil menata kertas-kertas itu dengan rapi di atas meja. Untung saja semua desain cadangan dalam buku sketsa itu bisa dipulihkan secara sempurna.Gusti dan Rhea menerobos pintu masuk berikutnya. Rhea langsung menuju meja dimana Rinjani duduk, sementara Gusti berbelok ke meja pemesanan.“Kau baru saja datang, Rin? Mana Lila? Kupikir dia sudah di sin
Di luar, tetes-tetes pertama hujan mulai turun, mengetuk jendela seakan menghitung mundur pelaksanaan rencana besar di pikiran Raynar. Setiap langkahnya harus dilakukan dengan tepat. Setelah selesai, ia menutup laptopnya lalu beranjak menuju meja kecil dengan membawa gelas kosongnya. Ia telah mendapatkan pelajaran penting dari kasus ini--pola pikir dan sikap seorang pemimpin besar.Raynar menuang whiskey setinggi dua jari dan menenggaknya habis dalam sekali minum, seakan hendak merayakan kepercayaan dirinya dalam membuktikan bahwa ia layak menyandang nama besar Wiyasa Nawasena. Liquid amber membakar tenggorokannya, meninggalkan sensasi jejak hangat yang menyebar hingga ke dada.Malam harinya, rembulan tinggi menggantung di atas Taman Kota Muliakarta. Angin mendesau di antara pepohonan, membawa suara keramaian lalu lintas Minggu malam di kejauhan. Aroma tanah basah dari hujan sore bercampur dengan wangi bunga melati yang mekar di sepanjang pagar taman. Tempat yang ramai dikunjungi kelu
Dua hari kemudian, Sweet Spot Café kembali menjadi tempat pertemuan Lila dan Raynar sore itu. Suara percakapan para pengunjung lain dan desis mesin espresso yang sesekali terdengar menciptakan latar belakang yang nyaman untuk pertemuan mereka.Raynar tiba tepat pukul enam. Ia mengenakan jaket hitam panjang yang menyembunyikan kemeja biru tua dibaliknya. Beberapa pengunjung melirik, mengenali CEO muda Wiyasa Nawasena Group, sebelum dengan sopan kembali ke percakapan mereka.Raynar melihat Lila di meja pojok. Rambut hitamnya dikuncir ke belakang, sedang membuat sketsa di atas tablet dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam iced matcha latte yang baru saja ia seruput.“Multitasking yang sulit berubah,” kata Raynar sambil mendekat, senyum kecil tersungging di bibirnya.Lila mendongak. Dengan gerak cepat ia meletakkan pena tabletnya. Rona merah merona di pipinya, kontras dengan penampilannya yang tenang.“Kebiasaan lama.” Lila tersenyum kikuk sambil menunjuk kursi di seberan
Malam di ibukota menyebarkan hawa sejuk seiring lalu lintas yang berangsur-angsur lengang. Lampu jalan menyinari trotoar dengan cahaya temaram kekuningan ketika Rinjani dan Lila melangkah meninggalkan Sweet Spot Café, melintasi minimarket di sudut jalan."Hei, kau ada waktu?" tanya Rinjani tiba-tib
Cahaya pagi yang menembus panel kaca di studio desain lantai dua belas kantor pusat WN Group seakan membelah ruang itu dengan siluet-siluet. Ruangan itu nampak rapi, namun sejuknya pendingin ruangan tak bisa meredakan ketegangan mereka yang ada di dalamnya.Vivian duduk seperti ratu di atas singgas
Dari teras griya tawangnya, Miriam Wiyasa Nawasena menggenggam cangkir porselen di antara jari-jarinya sementara kehangatan teh earl grey meresap ke tenggorokannya. Udara pagi terasa segar, dan Paris selalu menjadi kota impian Miriam–elegan dalam ekspresi dan sarat ketenangan, mirip dirinya. Miriam
Selama berhari-hari, Lila telah melatih momen ini dalam pikirannya-membayangkan setiap hasil yang mungkin terjadi, setiap variasi responsnya. Namun kini, berdiri di hadapannya, dengan beban bertahun-tahun yang menekan dadanya, semua kata-kata yang telah ia latih seakan masih tertahan di tenggorok






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.