Anomali Afeksi
Hanya ditemani sepeda motor matic dan jajanan pinggir jalan, tetapi aku sudah cukup merasakan euforia dari apa yang disebut orang lain ini sebuah kesederhanaan.
“Mau pulang nggak? Kayaknya sudah mulai sore ini. Saya janji ke ibu kamu, balikin kamunya enggak sampai Maghrib,” tawarnya, lalu melihat ke angkasa; di mana memang langit sudah mulai berwarna abu-abu seolah mengisyaratkan kepada umat manusia bahwa mentari akan beristirahat sebentar lagi.
“Emangnya aku barang, segala dibalikin?” Davin tertawa, aku juga. Padahal, tidak ada sesuatu yang lucu. Barulah sekon selanjutnya, aku menambahkan, “Ya udah, yuk pulang.”
Capítulos Populares