Ada momen dalam sejarah yang mengubah segalanya, dan peralihan kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat adalah salah satunya. Abu Bakar As Siddiq bukan hanya sahabat dekat Nabi, tapi juga orang yang dipercaya secara alami oleh komunitas Muslim saat itu. Ketika Nabi meninggal, banyak yang shock dan bahkan beberapa sahabat seperti Umar bin Khattab sempat tidak percaya. Tapi Abu Bakar dengan ketenangannya mengingatkan semua orang tentang ayat Quran yang menyebut Nabi sebagai manusia biasa. Kemudian, di Saqifah Bani Sa'idah, para pemuka sahabat berkumpul dan memilihnya sebagai pemimpin. Proses ini tidak formal seperti pemilu modern, tapi lebih pada konsensus dari orang-orang yang paling dekat dengan Nabi. Yang menarik, Ali bin Abi Thlib pun akhirnya menerima keputusan ini meski ada sedikit ketegangan awal. Abu Bakar kemudian membuktikan diri dengan mengatasi masalah pemberontakan suku-suku yang enggan membayar zakat dan memulai kompilasi Quran.
Kepemimpinannya singkat hanya dua tahun, tapi dampaknya besar. Dia menetapkan standar untuk kepemimpinan dalam Islam - sederhana, tegas terhadap pelanggaran prinsip, tapi juga penuh kasih sayang. Gaya kepemimpinan seperti ini yang membuatnya disebut 'As Siddiq' - yang membenarkan. Tidak heran generasi setelahnya selalu merujuk pada masa pemerintahannya sebagai contoh ideal.