Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku
"Dia itu mata-mata di mana-mana. Apa pun yang terjadi di Cendekia Medika, entah di pusat atau cabang, seolah tahu semua."
Surya mendengus, merapatkan tubuh Debby, mencium bibirnya rakus, ingin membungkam keraguan wanita itu. "Bima terlalu sibuk bermain politik di Jakarta, di gedung dewan dan perkumpulan elitnya itu. Dia terlalu sibuk menyingkirkan lawan politiknya sampai tidak punya waktu memedulikan hal sepele seperti ini," jawabnya dengan penuh keyakinan, menarik senyum meremehkan. "Dia tidak akan pernah menyentuhku. Aku ini aset terbaiknya."
Ia mengangkat kepala Debby agar bisa melihat ke dalam mata wanita itu. "Dan kita ada di Bandung, Sayang. Jauh dari Cendekia Medika. Kita aman."
Bab Populer