Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Bisikan Darah Beku

Bisikan Darah Beku

“Ketika politik retak, darah mengalir lebih mudah.” Malam semakin dalam. Pria itu berdiri di depan dinding kristal, menorehkan simbol baru dengan pisau tipis. Darah—bukan miliknya—mengalir mengikuti ukiran, berkilau gelap. “Segel ibu gagal total,” gumamnya. “Tapi segel ayah… masih bertahan.” Ia menutup mata, merasakan denyut jauh—lemah, tapi nyata.
438 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 11 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Bayangan Darah Sang Putra Buangan

Bayangan Darah Sang Putra Buangan

Mata Kael terbuka, dan kini ada lingkar gelap tipis di sekitar pupilnya. Darah di dadanya, yang tadi merah kini hitam. “Dia … bangkit?” bisik salah satu murid. “Aura itu, bukan darah suci.” Tetua kedua mundur satu langkah. Darian mengangkat tombak, mencoba mengisi ulang aura darahnya. “Mainan,” katanya keras-keras. “Aku akan menghancurkannya.” Kael menatapnya. Bukan marah, bukan takut, tapi tenang. “Kau masih tidak mengerti,” katanya pelan. “Sesuatu telah berubah.”
1.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Pendekar Pedang Darah

Pendekar Pedang Darah

Salah satu tangannya yang kini terangkat seolah dalam sapuan doa bisu, memamerkan noda darah yang segar. Tetesan darah itu jatuh perlahan, seolah menghitung setiap detik yang berlalu. Detik demi detik dalam perjalanan yang penuh dengan derita, bagi Chen Xuan, darah bukanlah sekedar darah yang mengalir, ia adalah saksi bisu atas segala yang telah terjadi pada hari itu. Dalam setiap tetesan darah yang menetes, tersimpan kenangan masalalu yang kelam, sekaligus janji untuk menantang takdir yang dituliskan oleh tangan nasib.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 99 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
BAYANGAN DARAH SIREGAR

BAYANGAN DARAH SIREGAR

Kenapa tak satu pun mencarinya selama ini? Paman Damar ikut duduk di sampingnya. “Paman tahu ini gak gampang buat kamu,” ucap Damar sambil menyalakan lampu minyak kecil di atas meja. “Tapi ingat, darah itu memang penting. Tapi pilihanmu yang menentukan siapa kamu sebenarnya.” Rafi mengangguk pelan. “Aku gak akan minta diterima. Tapi aku juga gak akan sembunyi lagi.”
893 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Darah dan Takdir

Darah dan Takdir

Itu adalah darah. Hujan mulai turun perlahan di atas Benteng Timur, menetes di atas tanah yang masih bernoda darah dari pertempuran sebelumnya. Langit tampak gelap, seolah alam pun menyadari bahwa perang ini belum selesai. Di dalam benteng, Saraswati berdiri di depan meja perencanaan, tatapannya menelusuri peta yang terbuka di hadapannya. Cahaya obor di ruangan itu bergetar, menciptakan bayangan yang menari di dinding batu.
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 52 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
RANJANG BERDARAH

RANJANG BERDARAH

Darah kedua putranya Burhan dan Bahar mengalir di nadi mereka. "Sejak kapan?" Raut wajah wanita paruh baya yang masih terlihat sangat segar itu berubah khawatir setelah meletakkan punggung tangan di atas dahi Farrel yang terasa menyengat di kulitnya. "Kita baru tahu tadi, Oma," sahut Gina.
3.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Keris Darah Candramaya

Keris Darah Candramaya

Dan darah itu adalah darah pemiliknya. Candramaya bersumpah, "Aku bersumpah! Demi membalas kematian kedua orang tuaku. Tanah Harsa Loka akan di penuhi dengan darah. Aku akan menjadi wanita yang akan membawa kutukan bagi rajanya, Adi Wijaya!"
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Menikahi Ayah Angkat

Menikahi Ayah Angkat

Shanna berbaring lemah di ranjang. Hati Damar pilu melihat Shanna yang lemah dengan tangan yang diinfus dengan cairan darah. Karena kecelakaan itu, Shanna mengalami kekurangan darah akibat luka dan pendarahan kecil. Membuat Shanna harus menerima banyak transfusi darah. “Sayang,” panggil Damar tertahan dengan suara serak. Air mata membasahi wajahnya. Diusapnya wajah pucat Shanna yang terpejam.
13.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 371 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
GARIS DARAH WARISAN

GARIS DARAH WARISAN

Refleksi jemari tangannya mengusap hidung mancungnya dan menatap kembali ke jemarinya yang terasa lengket. “Hah! Darah!” Amanda berteriak histeris. Seumur hidupnya baru kali ini Amanda mengalami hal yang namanya mimisan. Panik, tentu saja itu yang Amanda rasakan saat ini. “Hah! Bagaimana ini? Tolong ... tolong aku!” Lagi gadis ayu itu berteriak histeris. Teriakan Amanda yang teramat keras membuat para Abdi yang berjaga di luar kamar bergegas menemuinya.
102.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
BA'DA MAGHRIB

BA'DA MAGHRIB

Sesampainya di depan kamar Alea, ia membuka pintu dan memanggil “Alea. Kamu sedang...” Belum selesai ia berbicara, ia malah terkejut dengan keadaan sang puteri. “aaaaaaaaaaa” teriak Jihan ketakutan. Cangkir yang ia bawa pun reflek ia jatuhkan dan pecah. Dilihatnya sang puteri yang sangat menakutkan. Matanya merah. Wajahnya pucat. Bibirnya penuh darah. Semakin menakutkan saat Alea melihati Jihan dengan mata yang melotot.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai bau darah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status