Sentuh Aku Lagi, Sayang!
Benang merah menghubungkan satu foto dengan foto lainnya, seperti jaring laba-laba yang rumit.
Ben berdiri di sampingnya, tangannya bersedekap, senyum puas di wajahnya. Di belakang mereka, dua pria bertubuh besar dengan tato di leher duduk di sudut, siap menunggu perintah.
“Sudah seminggu Rendra balik kerja,” kata Ben, memecah keheningan. “Dia keluar-masuk klinik jam delapan pagi, pulang jam sembilan malam. Rutin. Bisa ditebak.”