Rumah Tengah Hutan
Otomatis, saya yang rasa kemanusiaannya masih ada, menghentikan langkah, menghadap kebelakang, kepadanya.
Subhanallah, makhluk yang berambut panjang itu masih mengikuti kami. Demi Allah, jantung saya hampir berhenti berfungsi. Pasalnya, sekarang mahkluk yang sebut saja sebagai Kuntilanak, menghadap kepada kami, dengan wajah tersenyum. Jika saja senyum itu adalah senyum neng Afidah yang saya harapkan selama ini, tidak berkedip mata memandangnya. Namun, itu adalah senyuman menakutkan dari Kuntilanak hutan. Apakah yang harus saya lakukan sekarang?
“Fin, itu dia di belakangmu.”
Sikat na Kabanata