DOSA TERINDAH
Kulihat ia susah payah menggerakkan bibirnya.
“Hai,” jawabku lemah, masih dengan kepala yang terkulai di sampingnya. Mataku kembali basah.
“Hei, jangan nangis terus dong.” Ia semakin terlihat kesakitan saat bibirnya bergerak.
“Jangan banyak omong. Bibir kamu sakit, kan?”
Ia tersenyum. “Dikit,” jawabnya.
“Dikit apanya bibir sampai robek gitu,” protesku.