Bayang Pedang Cahaya Bulan
Kabut ini dibawa oleh sesuatu yang lebih besar daripada angin, sesuatu yang bergerak di antara batu-batu tebing dengan cara yang tidak wajar, sesuatu yang menunggu.
Duan Wuya sudah menunggu.
Ia berdiri di puncak Tebing Karang sejak subuh. Tebing itu bukan gunung, bukan pula bukit, hanya puncak batu tajam yang menjulang dari lereng gunung seperti gigi yang tumbuh di tempat yang salah, selebar panggung kecil, cukup untuk dua orang berdiri berhadapan. Di bawahnya, jurang sedalam dua ratus meter yang tidak pernah terlihat dasarnya karena kabut yang selalu ada, selalu bergerak, selalu menyembunyikan.