TWELVE
Evia Nuraviantitiba tiba terbangun dan jantung berdebartelinga seperti ada suara angindetak jantung seperti tersentakkenapa telinga berdetak seperti jantung
Dua bulan yang lalu.
Angin malam yang dingin terasa begitu menusuk kulit. Kueratkan jaket yang membungkus tubuh, sembari terus melangkah secepat yang aku bisa, karena beban yang cukup berat dari ransel besar di punggung memperlambat langkahku. Jalanan yang tampak sunyi, membuat suara sepatuku yang beradu dengan aspal menjadi satu-satunya suara yang mendominasi. Aku tidak berani memandang sekitar, lebih memilih menundukkan kepala dan terus berjalan dengan terburu-buru menuju rumah.
Hot Chapters