Ketika aku pertama kali mendengar istilah 'princess treatment', aku merasa terpesona sekaligus skeptis. Istilah ini, yang secara harfiah berarti perlakuan seperti putri, memberi konotasi tentang perhatian dan kasih sayang yang berlebihan. Teman-teman di grup diskusi anime kami langsung melontarkan berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa ini adalah cara untuk menghargai satu sama lain dan membuat pasangan merasa dihargai, sementara yang lain menilai bahwa itu terlalu idealis dan tidak realistis, terutama dalam hubungan yang lebih serius. Beberapa bahkan bercanda tentang jadwal harian mereka harus memasukkan sesi 'princess treatment' untuk diri sendiri, sambil sesekali menggoda satu sama lain tentang menjaga citra putri mereka di depan umum. Sungguh, reaksi awal kami sangat beragam, menciptakan atmosfer yang penuh tawa dan diskusi seru.
Hal yang menarik bagi aku adalah bagaimana istilah ini bisa menciptakan harapan yang berbeda-beda di kalangan orang. Beberapa melihatnya sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan dalam keseharian, sementara yang lain merasa itu hanya kriteria yang bisa menyakiti jika tidak terpenuhi. Di sisi lain, ini juga menjadi bahan obrolan lucu di antara para penggemar. Kami saling berbagi cerita tentang bagaimana karakter anime favorit mereka mendapatkan perlakuan itu, atau momen lucu ketika mereka merasa seperti 'putri', meskipun dalam konteks yang tidak biasa. Tanpa terasa, obrolan ini malah mempererat ikatan kami.
Di dunia nyata, memang ada banyak sudut pandang tentang apa itu sebenarnya 'princess treatment'. Temanku, seorang penggemar drama, berpendapat bahwa hal ini berkaitan dengan imej romantis dan ideal yang sering ditampilkan dalam film atau drama. Dia merasa bahwa ada banyak harapan yang tidak realistis turut menyertai istilah ini. Mungkin di dalam konteks ini, kita harus lebih realistik dan saling memahami kebutuhan masing-masing.