365 Hari Jadi Istrimu
“Soalnya kamu nulis pakai hati, bukan sekadar gaya. Makanya tiap katanya terasa dalam.
Mereka terdiam sejenak. Di atas kepala mereka, bunga-bunga sakura berjatuhan, menghiasi udara dengan keindahan yang nyaris menyedihkan.
“Kamu tahu nggak,” kata Nadine akhirnya, suaranya pelan, “Bunga sakura itu mekar paling indah, justru saat waktunya hampir habis.”
Alya menoleh, menatapnya.
“Mungkin kita juga gitu,” lanjut Nadine. “Pas kita ngerasa hancur, justru saat itu kita lagi bersinar paling terang.”
Alya menunduk. Kata-kata itu seperti menyentuh bagian hatinya yang paling dalam.
Hot Chapters